BAB 12 - Balapan

384 59 0
                                        

Seseorang turun dari motor sport-nya. Melepas helm lalu berjalan mendekat ke arah gudang yang sudah lama tak dia datangi.

Angin yang berhembus cukup kencang malam ini membuat seseorang itu menaikkan resleting jaket kulitnya.

Ia membuka pintu gudang itu, membuat suasana yang sebelumnya ramai dengan obrolan seketika hening.

Semua orang yang ada di dalam gudang tersentak kaget. Seseorang itu menatap satu persatu orang yang ada di sana. Senyum tipisnya terukir.

"Udah lama gue nggak ke sini," ucapnya.

Mereka berteriak memanggil nama seseorang itu, "Arkan!"

Arkan menghindar sebelum mereka memeluknya. Maklum, sudah tiga tahun mereka tidak bertemu dengannya. Arkan tertawa melihat teman-temannya terjatuh.

Menyadari kalau dirinya tertawa, Arkan segera meredakan tawanya. Cowok itu tersenyum, mengingat sudah lama sekali dia tidak tertawa lepas seperti tadi.

Emm, sudah berapa lama ya? Ohh iya, tiga tahun yang lalu. Setelah kejadian itu. Arkan tersenyum kecut mengingatnya.

Arkan membantu teman-temannya bangun. Merasa kasihan pada Bayu yang tertimpa teman-temannya yang lain.

"Lo nggak papa, Bay?" tanyanya.

"Nggak papa." Bayu menepuk-nepuk jaket bagian siku, membersihkan debu yang menempel.

Setelah itu, mereka berdua melakukan tos. "Lo apa kabar? Udah lama lo nggak ke sini?"

"Baik," Arkan tersenyum tipis.

Mengedarkan pandangan sebentar lalu kembali menatap Bayu. "Hari ini, ada balapan nggak?" tanya Arkan langsung, tanpa basa basi.

Bayu dan yang lainnya terkejut. Bagaimana tidak terkejut? Arkan sudah lama tidak ikut balapan dan mereka tahu apa alasan cowok itu.

"Lo...beneran mau ikut balapan?" tanya Bayu hati-hati.

Arkan mengangguk. "Gue butuh uang sekarang."

***

Setelah memasukkan uang dengan jumlah yang besar ke dalam tas, Arkan mendongak ke arah Bayu. "Gue berterima kasih banget sama lo, Bay."

Bayu menepuk pundak Arkan. "Santai aja, Bro. Lo juga selalu bantu gue pas susah."

"Gue akan balikin uang lo secepatnya." Ya, teman-temannya tidak membiarkan Arkan melanggar janji pada seseorang untuk tidak ikut balapan lagi.

"Nggak usah buru-buru balikinnya," ucap Bayu.

Arkan tersenyum. "Sekali lagi, makasih. Gue pergi dulu," pamit Arkan lalu berjalan ke arah motornya.

"Hati-hati!"

***

Arkan menghentikan motor di jalanan yang sepi. Menyipitkan mata untuk mempertajam indra penglihatannya.

Arkan melihat dua orang yang berdiri di samping mobil yang berhenti. "Mereka begal?" tanyanya pada diri sendiri.

Dua orang itu memukul pintu mobil dengan keras sambil berteriak, "keluar lo!"

"Ohh, mereka begal," gumam cowok itu.

Niat Arkan untuk melajukan motor terurung. Usahanya untuk tidak peduli dengan pengemudi yang ada di dalam mobil gagal ketika dia mengingat perkataan seseorang.

"Arkan harus selalu bantuin orang yang kesusahan ya!"

"Lah, kalo Arkan nggak kenal sama orangnya, Yah?"

"Ya harus tetep ditolong."

Melihat pengemudi mobil itu turun, Arkan segera melajukan motornya mendekat. Turun dari motor lalu berjalan cepat ke arah dua orang begal itu.

Bugh!

Begal itu mengumpat mendapat pukulan tiba-tiba dari Arkan. Ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah lalu memukul Arkan balik.

Bugh!

Arkan mundur beberapa langkah mendapat tendangan dari begal itu. Terbatuk-batuk sambil memegangi perutnya. Arkan menghela napas kasar lalu kembali menghajar begal itu.

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Arkan meringis sambil memegangi pipinya yang tadi ditonjok. Tenaga Arkan benar-benar terkuras melawan begal dengan tubuh besar itu.

Begal itu menarik kerah jaket yang dipakai Arkan. Tangan kanannya melayang di udara, hendak memberi pukulan lagi.

Tapi, sebelum begal itu berhasil melayangkan satu pukulan tepat di rahang kiri Arkan, dia mendapat tendangan dari belakang.

Bruk!

Begal itu tersungkur ke aspal. Membalikkan badan dan menatap tajam orang yang baru saja menendangnya.

Seseorang itu adalah orang yang mengemudi mobil. Orang yang akan dia begal. "Sini lo maju!" tantang pengemudi mobil itu.

Begal itu berdiri. Mengangkat kepalan tangannya, melayangkan sebuah pukulan. Pengemudi itu bergeser ke kiri, menghindar. Membuat begal bertubuh besar itu hampir jatuh tersungkur ke aspal, lagi.

Begal itu membalikkan badan. Terkejut ketika Si pengemudi mobil langsung memberi sebuah pukulan tepat di rahang kanannya.

Bugh!

Si pengemudi mobil menendang dan memberi beberapa pukulan hingga begal itu tidak sadarkan diri.

Pengemudi mobil itu mengepalkan kedua tangan sambil menormalkan deru napas yang memburu. Senyum miring terukir di wajahnya.

Tak sia-sia Ayahnya mengajarkan dia bela diri.

Pengemudi mobil itu membalikkan badan. Berjalan ke arah mobilnya lalu membuka pintu mobil belakang dan mengambil sebuah tali.

Ia menyeret paksa begal itu menuju tepi jalan. Mengikat tangan begal dan temannya yang sudah dia hajar sampai tak sadarkan diri sebelum menyelamatkan Arkan tadi.

Arkan meringis menyeka darah dari sudut bibirnya yang sobek. Cowok itu berusaha berdiri. Berjalan tertatih mendekat ke arah seseorang itu.

Ia masih terkejut melihat bagaimana pengemudi itu tanpa ampun memberi pukulan dan tendangan pada begal bertubuh besar tadi.

Pengemudi mobil itu membalikkan badan. Arkan tidak dapat melihat wajahnya karena memakai masker dan kepalanya yang tertutup tudung hoodie.

"Lo...keren!" Arkan berdecak kagum. Cowok itu menggeleng takjub. "Gilak! Lo keren banget!"

"Makasih." Arkan tahu, seseorang itu tersenyum, terlihat dari kedua matanya yang menyipit.

Tangan seseorang itu terangkat, menurunkan masker yang dipakai. Kemudian menurunkan tudung hoodie-nya membuat Arkan terkejut. Bahkan sangat terkejut.

Arkan tak percaya. Benar-benar tidak percaya kalau seseorang itu adalah guru Matematika-nya.

Adita Putri.













🌼🌼🌼

Cerita ini emang belum lengkap sihh di laptop, tapi Mint akan update karena udah punya tabungan chapter 20 bab. Banyak kan? Hehe
Senin sampai Sabtu yaa updatenya

Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊

25-06-2020

Me VS Pak Guru✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang