Gengsi Tapi Happy

1.9K 76 3
                                        

Kudengar pintu terbuka dan pasti itu mas bagas, aku melihat dari pintu kamarku dan memberinya kode untuk menunggu. Hari ini kami akan ke kantor papa. Mas Bagas memaksa ikut karena merasa harus memperkenalkan dirinya.

"Yuk mas"

Aku menggandeng lengannya dan berjalan bersamanya dengan senang

"My pleasure for you dear"

Tak setiap detik kami lalui dengan bahagia, bernyanyi di mobil dan bercanda tawa karena candaan ringan kami.

Aku mampir ke babyshop dan membeli hadian untuk anak papa yg menjadi adik tiriku. Bagaimanapun dia tidak tahu apa-apa, jadi aku akan belajar menyayanginya.

"Ehmmmmm..."

"Apa mas?"

"Kapan kamu bersedia mengandung anakku"

"Mas bagas"

"Hahahhaa..."

Begitulah kami, saling menggoda dan menertawai.

Tiba dikantor papa jam 12 siang, kurasa papa pasti akan mengajak kami lunch kali ini.

Aku masih menggandeng lengan mas bagas saat menuju lantai 12 kantor ini, dia juga dengan tenang mendekatkan dirinya padaku seolah tau kegelisahanku jika datang kemari. Rezky!

Kami menuju meja mbak dewi dan nenyapanya lebih dulu

"Haloo mbak dewi"

"Metaaaa..."

Kami bersalaman dan bercipika-cipiki, aku memperkenalkan mas bagas padanya dan dia membisikkan pendapatnya padaku

"Gantenggg...."

"Hahaha...mbak dewi bisa aja,,papa didalam?"

"Oh iya,,uda kosong sampai nanti jam 3"

"Okee..kami masuk dulu ya mbak"

Kubuka pintu ruangan papa,dan mengajak mas bagas masuk

"Halooo sayang"

Papa menghampiriku dan memelukku, mencium keningku dan melihat mas bagas disampingku

"Oh ini pa..."

"Halo om,,saya bagaskara adhitama"

Mereka bersalaman mantap, papa mempersilahkan kami duduk

"Sebentar sepertinya om pernah ketemu"

"Iya om, saat om ke kantor pak hendra"

"Oh.yaa..yaa...ini bagas fotografer terkenal kesayangan hendra"

Aku tersenyum mendengarnya, memang mas bagas sudah lebih tersohor saat ini. Banyak agent adv yg menawarinya pekerjaan bergaji tinggi tapi banyak juga yg ia tolak.

"Pa...ini meta bawakan hadiah buat anak papa"

"Wah seharusnya kamu datang sendiri menjenguk"

"Next ya pa"

"Terimakasih banyak sayang"

Papa mengajak kami makan siang bersama seperti dugaanku, dia mengajakku ke resto italia miliknya yg saat ini berkembang pesat.

Kami tiba dan langsung memesan makan siang, kulihat mas bagas pun sangat menikmati kebersamaan kami.

"Resto ini makin bagus pa"

"Giska merawatnya dengan baik"

Tak kulanjutkan lagi pertanyaanku jika itu sudah membawa nama giska, mas bagas mengerti perubahan wajahku dan segera mencoba mengalihkan topik pembicaraan kami

"Ehmmm ini cabang keberapa om?"

"Om ada 2 resto italia lagi di bandung dan tangerang, 3resto jepang 2 ada di jakarta 1 ada di surabaya"

"Tetsuka ya om"

"Kamu pernah kesana"

"Dulu saya pernah mengajak zea eh meta kesana  om, karena saat itu saya tidak tau kalo meta anak om indraawan"

"Hahahahha...semua pacar meta selalu tidak pernah dikenalkan dengan om, katanya kalo kenal om mereka bisa takut dan pergi"

"Pa....."

"Hahahaha...masak gitu sih sayang"

Aku tersipu malu mendengar obrolan mereka

"So..kamu udah putusin mau ambil S2 dimana sayang"

"Itu juga yg jadi alasan meta kemari pa"

"Oke...papa dengerin kamu"

"Metta udah pikir mateng-mateng buat ambil S2 di surabaya, meta kira UPh surabaya juga yg terbaik"

"Jauh sekali nak, bener udah mateng pertimbangannyaa"

"Jangan kuatir om, saya akan menjaganya"

Papa melihat kami dengan cemas, namun berusaha tenang dan melanjutkan perbincangan ini.

"Nak bagas, om percaya kalo nak bagas sanggup menjaga anak om, tapiii"

"Kalau meta bersedia menerima lamaran saya siap menikahinya om"

Aku terkaget mendengar ucapan mas bagas, hubungan kami bahkan belum genap sebulan dan dia dengan berani melamarku didepan papa.

"Mas...."

"Lihat met,,kamu menemukan laki-laki yg tepat hahaha"

Aku terdiam dan terpaku dengan apa yg barusan kudengar.

"Tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan nak. Om bukan menyuruhmu untuk segera menikahi anak om"

"Saya ingin menunjukkan keseriusan saya dengan meta om"

"Om bahagia mendengarnya"

"Metta..dengerin papa, papa akan mengijinkan kamu kuliah di surabaya tapiii...hanya jika kamu memperjelas ikatan kamu dengan bagas"

Aku terdiam tak menjawab. Aku memilih tidak memperpanjang urusan ini. Kami menyelesaikan makan siang ini dan berpamitan dengan papa.

Di jalan aku masih terdiam, mas bagas terlihat mencoba menghiburku

"Maaf ya mas tadi tidak membicarakan niatku dengan kamu"

"Mas..giska gak pengen buru-buru nikah"

"Iya mas tau, kamu belum yakin dengan mas"

Aku terdiam tak menjawab

"Mas hanya ingin serius denganmu, setelah yg kita lalui mas mantap dengamu sayang"

Aku melihat ke arah jendela dan berfikir laki-laki ini tidak main-main denganku, penuh kejutan dan berani ambil sikap. Aku gengsi ingin memujinya, namun aku bahagia mendengarnya.

Make (it better) LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang