-bagaskara adhitama pov-
Kulihat istriku masih nyenyak tertidur saat ini, ntah kenapa sejak semalam aku masih merasa sangat bersalah padanya. Baru kali ini aku menyembunyikan sesuatu darinya.
Setelah memastikan dia masih terlelap aku segera ke dapur dan menyiapkan sarapan. Meskipun tak mampu menghapus dosaku, namun aku masih ingin tetap menjadi suami yg perhatian. Aku tahu hari ini dia tidak ada jadwal kuliah pagi.
"Mas bagas...."
"Hai dear,,,"
"Ko gak bangunin aku"
"Sini, mas buat sandwich telur"
Aku merangkulnya dan menyuruhnya untuk duduk disampingku di meja makan. Mengatasi rasa bersalahku, aku ingin melayaninya lebih dari biasa.
Dia terlihat menyukai sarapan kali ini, zea mulai makan dengan lahap kurasa dia tidak makan sejak semalam karena pagi ini kulihat meja makan kami masih penuh hidangan semalam.
"Mas...semalem sampe larut banget"
"Iyaaa..ad project akhir yg deadline"
"Oh..but everything ud oke?"
"Yes..of course...udah final"
"Lain kali jangan sering pulang malam ya"
Zea mulai mengelus pipiku dan tersenyum. Apa dayaku sebagai laki-laki yg masih sangat terpesona dengan istriku yg baru kunikahi 6bulan yg lalu.
Aku mencium bibirnya lembut dan kubelai rambut wanginya, merangkulnya mesra dan membenamkan hasrat untuk menyetubuhinya pagi ini.
"Hari ini nggak ngantor mas?"
"Hmmm...mas berangkat siang an sekalian anter kamu ya"
Dia mengangguk dan menghabiskan sarapannya. Seolah tak mencurigai apapun yg kusembunyikan.
"Sayang"
"Hmmmm"
"Wanita yg kemaren ketemu aku itu"
"Oh..bella?"
"Dia model baru atau uda lama kenal mas?"
Ada keraguan dalam diriku untuk menceritakan bella, tapi tidak sepatutnya aku membuat istriku khawatir tentang kami dalam kondisi seperti ini.
"Oh bella...dia model baru sih"
Tapi ketakutan membuatku mengatakan yg berlawanan dengan nuraniku. Oh maafkan aku zea...kali ini aku mulai berbohong.
Kulihat dia mengangguk dan menatapku tajam. Sepertinya aku telah memulai sebuah kecurigaan tentang hubungan kami. Matilah aku jika zea mulai bertanya-tanya lebih lanjut tentang kami.
"Sayang..."
"Ya mas..."
"Hmmmm...kamu masih KB?"
"Iyaa mas kenapa?"
"Apa tidak bisa kita punya anak lebih awal"
Aku menggenggam tangannya dan dia tertegun hingga menghentikan susu yg diminumnya. Kembali menatapku kali ini lebih serius dan menyelidik.
"Mas...kita udah sepakat buat tunda sampe aku lulus"
"Hmmm mas kira kuliahmu tidak begitu berat dan you know kita bisa pakai pengasuh nantinya"
"Kenapa mas tiba-tiba bahas ini?"
"As you know dear, mas udah 33tahun sekarang"
Dia terkekeh dan memelukku
"Bahkan diusia 35 pun mas masih akan tetap pantas menggondang seorang bayi"
Zea melepas pelukannya dan menciumku, sambil berpamitan untuk yoga di atas.
Dalam hati aku memang sangat menginginkan seorang anak, bagiku zea memang sudah menyempurnakan hidupku, tapi anak adalah sesuatu yg berbeda yg kuinginkan setelah aku menikah.
Bagaimana dengan bella? Aku belum menanyakan kabarnya kali ini. Saat kubuka hp ternyata ada pesan darinya yg belum kubaca
Mas...hari ini bella ndk bisa foto shoot ya, agak lemes..muntah terus
Aku membacanya dan memahami keadaannya. Mungkin sebaiknya nanti aku menengoknya di apartemen bella. Aku berdehem dan berfikir bagaimana menceritakannya pada zea.
KAMU SEDANG MEMBACA
Make (it better) Love
Romancemerupakan sequel dari dear destiny dimana diambil dari sudut pandang metta • • sebaiknya membaca dulu dear destiny. • • only 21+ Lebih banyak foto 😘 vote to apreciate please.😊
