Yang kangen ARBORETUM absen dulu 💜
Pagi ini Tahyun harus mengajak Haenul berdebat terlebih dahulu sebelum ia berangkat ke kantor. Polesan make-up Haneul sedikit luntur karena keringat yang mengalir dari kening meluncur bebas mengikuti garis wajahnya.
Bagaimana tidak?
Setiap kali berdebat perihal mempermasalahkan pekerjaan Haneul, Tahyun selalu berhasil membuat emosinya tersulut. Bukan masalah besar sebenarnya, hanya saja Tahyun tau jika ini adalah jadwal libur Haneul, tetapi ia sudah bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Biasanya setiap pagi, saat Haneul libur, Tahyun selalu membawa satu nampan berisikan susu dan roti panggang lalu diletakan diatas nakas yang tidak jauh dari tempat tidur Haneul. Namun pagi ini, saat Tahyun masuk dengan nampan di tangannya ia menemukan Haneul yang sudah begitu rapi seperti hari kerja biasa.
"Apa hidup mu itu hanya untuk menjadi budak rumah sakit?" Haneul hampir saja menyemburkan susu yang berada di dalam mulutnya itu ke wajah Tahyun. Dari tadi Haneul sudah menahan setiap kalimat yang keluar dari mulut Tahyun agar tidak membuat suasana menjadi semakin keruh. Sudah sering mereka membahas masalah seperti ini, tapi ini pertama kalinya Tahyun mengatakan hal seperti itu. Hal yang entah mengapa membuat dada Haneul sesak secara tiba-tiba.
Haneul menatap Tahyun yang duduk disampingnya dengan tatapan tajam, bahkan lilin aroma terapi yang belum sempat Haneul matikan itu tidak berpengaruh sama sekali.
"Sudah berkali-kali aku bilang, berhentilah menjadi dokter. Bergabunglah dengan HyunGrup." Tahyun mendongakkan wajahnya saat Haneul tiba-tiba berdiri. Kalimat itu sudah ratusan kali ia dengar sejak Haneul mulai menjadi dokter di Asan.
"Sudah berkali-kali juga aku bilang tidak mau," tegas Haneul kemudian keluar dari kamar dengan menutup pintu secara kasar.
Haneul benci saat-saat seperti ini.
Ralat. Haneul benci Tahyun di saat-saat seperti ini. Tahyun yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang mendadak berubah tegas dan menyebalkan saat membicarakan profesi Haneul. Faktanya memang Haneul yang paling berbeda di keluarga Kim, semua keturunan keluarga Kim pasti akan melajutkan bisnis keluarga mereka masing-masing. Berkutat di depan komputer setiap hari, memakai pakaian yang rapi dan memimpin rapat disana sini. Haneul tidak suka. Selain itu semua sangat membosankan, Haneul memiliki beberapa alasan kenapa ia menjadi seorang dokter. Namun dibalik pertengkaran tadi Haneul mengerti apa yang di maksud Tahyun, marahnya juga mewakili kekhawatirannya pada Haneul.
Satu-satunya alasan mengapa Haneul datang ke rumah sakit sepagi ini adalah ingin bertemu dengan Jimin. Haneul sangat khawatir karena semalam Jimin nampak begitu terpukul, ah tidak. Lebih tepatnya ia sangat syok. Sebenarnya Haneul merasa tidak tega untuk meninggalkannya, tapi setelah Haneul bercerita tentang segala kebenarannya pada Jungkuk, Haneul lebih tenang karena Jungkuk bilang ia yang akan menjaga Hyungnya.
Haneul menyapa bebarapa orang yang sedang berjaga di front office atau beberapa suster dan dokter yang berpapasan saat Haneul berjalan menuju kamar inap Jimin. Namun ada sesuatu yang tiba-tiba menarik perhatiannya, yaitu ketika ada seorang suster yang jika dilihat dari seragamnya adalah suster VIP.
Haneul terus memperhatikannya dan tidak sengaja ia melihat cairan Potasium Klorida (cairan kimia yang bisa menghentikan denyut jantung secara perlahan) berada di dalam rak yang sedang suster itu dorong.
"Tunggu dulu, VIP? Bangsal ini hanya Jimin yang dirawat di kamar VIP. Berarti suster itu akan ke kamar Jimin!"
"Kenapa dia membawa Potasium? Apa dia akan memberikanya kepada Jimin?" Haneul mencoba menerka-nerka pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARBORETUM !
Fiksi PenggemarJimin berfikir di hidupnya tidak akan pernah ada kata BAHAGIA. Namun ketika Kim Haneul datang, wanita itu membawa bahagia tapi sekaligus membuat Jimin harus merasakan luka yang lebih menyakitkan. Perebutan sengketa Arboretum membuat Jimin harus bany...
