14. Dibalik Waktu

165 33 0
                                        

Perpisahan yang paling menyedihkan adalah ketika bumi dan tanah telah menghalangi. Namun ada kata 'maaf dan terimah kasih' yang belum tersampaikan.

📍

Tangisan itu memenuhi ruang perawatan. Sebuah wajah mungil yang berlumuran darah tengah disapui dengan kain basah oleh beberapa perawat.

Si anak terus menjerit dan mengatakan berbagai hal yang tidak jelas terdengar karna diselingi tangis kuat nya.

Dengan sabar perawat terus membersihkan dan memeriksa tubuh si anak apakah ada luka yang ia dapat selain goresan dibagian wajah nya.

"Papa... Vio mau ketemu papa.. Hiks.. Bi-biarin Vio ketemu papa"

Petugas medis didepannya saling pandang. Ragu ingin menjawab seperti apa.

"Nanti ya sayang. Kamu istirahat dulu, baru ketemu papa"

"Gak mau.. Hiks. Vio maunya sekarang, ketemu papa sekarang"

Menghela napasnya gusar. Viona kecil terus menangis sesegukan membuat mereka tidak tega. Akhirnya mereka menyerah dan membiarkan Viona menunggu didepan ruang operasi ditemani salah-seorang perawat wanita.

"Suster. Papa Vio gak akan mati kan? Dia baik-baik aja kan?"

Perawat itu tersenyum getir, mengelus puncak kepala Viona dan mengangguk.
"Papa kamu pasti baik-baik saja. Didalam sana kan sudah ada dokter-dokter hebat yang menangani. Mereka akan melakukan yang terbaik demi papa kamu. Sayang"

Viona menggeleng lemah. Semua terjadi didepan matanya. Dia melihat segelanya.
"Tapi om jahat itu, nembak papa disini" tangan kecil nya menunjuk dadanya sendiri.

"Tidak ada yang tidak mungkin. Dan papa kamu orang kuat, dia pasti akan bertahan demi anak semanis kamu."

Viona kecil merasa lebih baik. Percaya dengan apa yang perawat disampingnya katakan. Lalu seperti yang pernah diajarkan papa nya, ketika dia mengalami kesulitan Viona harus selalu mengingat Tuhan.

Ruas jemari tangan mungil nya menyatu didepan dada. Matanya terpejam, dan hatinya memanjatkan doa terbaik dalam bahasa anak-anak nya. Harapannya agar sang ayah baik-baik saja, semoga Tuhan mengabulkannya.

Lalu setelah berjam-jam menunggu. Brankar yang mengangkut papa nya pun dibawa menuju ruang rawat terbaik. Viona mengekor dibelekang mama nya yang masih menangis sesegukan.

Hingga ketika hanya ada mereka didalam ruangan. Tangis mama nya semakin mengeras, Viona ketakutan dibuatnya tapi memberanikan diri berjalan sambil menutup kedua telinganya mendekati si-mama.

"Mama.. Hiks" viona ikut menangis.

Yang dipanggil lirih menoleh. Seketika tangis nya berangsur berhenti tapi matanya menjadi asing bagi Viona.

"Kamu? Kamu ngapain disini?"

"Mama-"

"PERGI!!"

Tubuh Viona meremang dan seolah tersengat listrik begitu kuat mendengar gema teriakan mama nya. Tangis anak itu pecah karna ketakutan melihat mama nya yang marah.

"Pergi kamu dari sini. Jangan dekati saya dan suami saya lagi"

"Mama... Hisk. Mama kenapa marah sama aku. Aku salah apa"

"Salah apa? Kamu tanya, kamu salah apa? Ini semua gara-gara kamu. Karna kamu. Kemunculan kamu malah membahayakan suami saya"

"maaaa..."

 She Is Me (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang