Kita diharuskan untuk terus mengulang segalanya dari awal. Tidak peduli seberapa banyak kita kalah, kita harus tetap memulai yang baru. Kita dilarang untuk berhenti segali nafas menggantung didalam jasad.
Viona seolah bisa melihat waktu, dimulai dari seorang anak kecil berusia lima tahun yang menangis dipinggir jalan, dari sebuah rumah mewah berlantai ganda malah menempati rumah sederhana bersama seorang pembantu rumah tangga. Bagaimana perjalanannya hingga tumbuh menjadi gadis dewasa yang dikurung oleh ketakutan selama 21 tahun lamanya, dan tentang Ainah yang menjadi jalan keluar bawah sadarnya.
Semuanya terasa mengambang. Tidak baik tapi juga tidak seburuk sebelumnya. Viona tersadar saat bahunya ditumpui dagu Fitri yang memeluknya dari belakang.
"Lagi mikirin apa, sayang?" tanyanya lembut, sesekali mencium pipi kanan Viona.
"Masa depan. Dimulai dari titik baru ini sekarang?"
Fitri memutar bahu Viona, membawanya menghadap padanya dari menghadap dinding kaca yang menampilkan ketinggian dari ruang rawat Viona.
"Mama udah bilangkan! Jalani saja, jangan banyak berpikir. Dan lagi pula–" Fitri menggenggam kedua tangan Viona. "Mulai sekarang tangan ini gak akan menggantung sendirian. Tangan mama siap menggenggamnya, dan menemani kamu menjalani semuanya!"
Viona mengangguk, membalas pelukan Fitri yang datang padanya. "Aku harap genggaman itu gak ajan terlepas lagi" lirihnya.
"Gak akan sayang. Mama gak akan melepas tangan kamu lagi"
Pelukan beberapa detik itu terurai. Fitri menatap tampilan Viona dari atas kebawah, memperhatikan tubuh putrinya yang sudah sangat tinggi dari terakhir kali ia melihatnya. Satu hal yang selalu Fitri sesali bahwa ia tidak berada disepanjang cara Viona tumbuh sedewasa ini.
Balutan pakaian serba hitam yang Viona kenakan terlihat pas ditubuhnya. Sementara itu Fitri memakai pakaian putih cerah. Hari ini mereka berniat menemui Romi dipusara nya. Menyapa nya dan Fitri–mungkin Caitlen– akan datang dan berterima kasih pada Romi, atas segala yang pernah mereka lalui, dan memberi tahu nya bahwa dia berhasil membawa putri mereka lagi.
Hari ini Viona juga sudah bisa dirawat dirumah, meski kondisinya belum pulih benar tapi pantauan dokter terutama Zio akan selalu aktif.
"Kamu udah siap?" Viona mengangguk, lalu berjalan tepat disamping Fitri keluar dari ruang perawatan.
Saat pintu terbuka wajah pertama yang ia lihat adalah milik Zio. Pria itu berdiri tepat didepan pintu bersandar pada tembok putih. Tersenyum pada Viona tapi tidak dibalas oleh gadis itu.
Lalu ada Danu yang datang bersama Hanin, dan keluarga Fitri. Rustam dan Nadia.
"Vi. Kamu masih marah sama saya?" rengek Zio, Viona memalingkan wajah.
Viona tak peduli, malah menyilangkan tangan didepan dada. Zio berdecak, sikap angkuh Viona sudah kembali.
"Vi. Saya sudah minta maaf, kamu bahkan tidak bicara sama sekali pada saya setelah kejadian itu."
"Jangan menghubungi ku kecuali untuk check up rutin. Percuma! Akan kuabaikan!"
"Vi–"
"Dan Kamu!" Viona menatap Danu. "Sesekali datanglah ke Oh Deliz, we have to talking about you and Ainah. About your love and your plan to take it clean the love. You know what i mean, right?"
Fitri menggigit bibir bawahnya, menatap memelas pada Hanin yang malah tersenyum geli melihat sikap sarkasme Viona kembali lagi, dia sudah tidak asing dengan bagian Viona yang ini, sejak berstatus teman seorang Viona. Beberapa kali dia sudah menerima lontaran sarkas gadis itu.
"Anda mengundang saya untuk apa sebenarnya?" Danu berdecak gusar
Viona terkekeh mengejek. Lalu beralih menghampiri Hanin dan wanita itu langsung memeluknya. Dalam diam Viona berterima kasih, Hanin pernah menjadi bagian menyenangkan dalam hidupnya dan sampai detik ini. Wanita itu selalu menjadi sosok baik baginya.
Lalu Viona melangkah lebih dulu setelah berpamitan pada Hanin dan mendelik kearah Danu dan Zio. Dua pria yang memperkeruh batinnya karna memperebutkan karakternya.
"Viona, ini tidak adil! Kamu mengundang pria ini datang ke Oh Deliz tapi saya bahkan tidak boleh menghubungi mu?"
Masih sambil berjalan Viona melambaikan tangannya keudara, tertawa ringan mendengar permohonan Zio.
"Kamu bisa menganggantikan saya datang ke Oh Deliz!" lirih Danu. Dan Zio semakin kesal.
"Saya tidak berniat dilempar pisau dapur oleh gadis itu."
↕↕↕
Viona membuka pintu mobil dibagian penumpang, langsung mengambil duduk dikursinya. Saat mobil mulai melaju Viona menyilangkan kaki, menopak dagu dengan tangan bersandar disisi kaca mobil.
Sikapnya tidak acuh, dingin tak tersentuh hingga gadis lebih muda disampingnya merasa begitu canggung. Nadia meremas jemarinya, kepala dan hatinya bertanya-tanya. Benarkah gadis disebelahnya adalah kakak kandungnya?
Tapi Nadia menderita duduk berdampingan dengan Viona. Aura gadis itu terasa menekan, Nadia menghela napas berkali-kali. Fitri didepan sana saling menatap dengan Rustam. Mereka saling tersenyum memperhatikan tingkah anak-anak dibelakang mereka.
Viona tiba-tiba saja menoleh, menatap Nadia intens! Nadia kikuk mengerjabkan mata berkali-kali dan menelan salivanya kuat.
"Mama bilang, kamu adik kandung saya" Viona berujar datar.
"Hm? ah, i–iya! Ayah juga sudah bilang, bahwa kamu adalah kakak–kandung saya!"
Setengah mati Nadia menahan gugup. Sementara Fitri dan Rustam tersenyum geli.
Dua adik kakak itu diam. Viona yang lebih terlihat santai, sibuk dengan dirinya sendiri.
"Sudah pernah melihat Papa? I mean, Romi!"
Nadia menggeleng "Belum sama sekali. Kata Ayah, beliau meninggal bahkan sebelum tahu saya ada!"
"Kalian mirip sekali. Kamu mirip dengan almarhum papa!"
Fitri berkaca-kaca
"Terimah kasih!" lirih Nadia.
"Itu bukan pujian! Itu penyiksaan. You make me so miss him"
Tidak ada yang memulai pembicaraan. Tidak Viona yang tenggelam dalam pikirannya, tidak Nadia yang juga sama, atau Fitri yang sekarang mulai merasa bersalah. Atau Rustam yang diam karna tidak tahu harus berbuat apa.
Satu mobil itu berhenti pada pemakaman dimana satu jiwa yang sangat Viona rindu tenggelam ditanahnya. Fitri dan Rustam berjalan bersisian, melewati begitu banyak makam bertanda salib. Hingga satu makam yang sama, mereka berhenti didekatnya.
"Vi!" panggil Fitri. Viona berjalan mendekati.
Romi Alexandher Niagara
Viona memalingkan wajah. Saat setengah pertahanannya hampir habis kacamata menjadi pengelabuan. Viona menutupi matanya yang mulai menitikkan air mata.
Bagaimana bisa? Jika saja Viona bisa merubah nama dibatu nisan itu. Atau mungkin jika saja Viona bisa mengganti marga Niagara dibelakang namanya. Tapi Viona bisa apa?
Viona berjongkok, dengan ibu jarinya dia mengusap nama itu. Melihat itu Fitri sudah tidak sanggup, berbalik dan langsung memeluk Rustam.
"Viona gak tau harus apa, pah!" lirih Viona. Menahan isakan.
"Waktu kita terlalu singkat. Saat itu aku bahkan belum mengerti apa-apa"
"Bisakah kita mengulang waktu? Viona masih butuh papa! Viona kangen pa–aaahh.."
Viona membungkuk, menjatuhkan kepalanya diatas nisan tua itu, bahunya bergetar sangat kuat.
Apa yang pernah mereka habiskan? Saat itu Viona hanya berusia lima tahun, lalu menghilang dan untuk selamanya mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Waktu untuk mereka benar-benar singkat. Viona bahkan lupa bagaimana ia tertawa untuk tingkah papanya. Tapi sekarang meski ia menginginkan itu lagi, itu hanya akan menjadi harapan belaka.
"Viona kangen pa..."
Assalamualaikum
😍❤❤❤
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is Me (SELESAI)
RomanceAlhamdulillah sudah rampung! Ini tentang cara berpaling dari ketakutan, tentang cara menolak kenyataan. Segalanya melampau kemauan, merusak pijakan hingga kisah menempati ruang. Tentang Viona Tentang Ainah Tentang penyatuan hidup mereka yang dilanda...
