32. jangan menyerah!

159 36 3
                                        

Jangan menyerah. Cukup menangis saja, lalu melawan lagi, putriku!

📍

Fitri menangis, kehilangan adalah hal paling ditakutinya saat ini. Sungguh, dia tidak akan sanggup jika harus mengalami perpisahan seperti dulu lagi. Wanita itu membekap mulut menatap keluar kaca mobil yang melaju sangat cepat, dipacu Rustam, suaminya.

Mereka berhenti pada satu bangunan rumah cukup besar. Didepan sana, dua mobil lain juga berhenti.

Rustam, Fitri, Zio, Danu dan Hanin. Kelimanya berlari memasuki rumah mewah itu, lalu berteriak-teriak didalam sana memanggil nama Viona.

Zio berlari melewati tangga, disusul yang lainnya. Sebisa mungkin Zio menahan agar tidak mendobrak pintu itu, dan hanya mangangkat tangan dan mengetuknya walau kasar, terburu-buru.

"Viona!"

"Buka pintunya, saya tahu kamu didalam."

"Vi.., buka pintunya, sayang!" panggil Fitri.

"Viona! Saya minta maaf, tolong! Jangan pikirkan kejadian dirumah sakit. Vi, kamu orang paling kuat yang saya temui, jadi jangan melemah hanya karna kesalahan saya."

Tidak peduli Zio sudah membujuk seperti apa, pintu itu tetap tertutup rapat. Fitri kalang kabut, meminta Zio dan Danu mendobrak pintunya. Naluri keibuannya terguncang berat. perasaannya tidak enak.

Zio dan Danu mundur selangkah, mengambil ancang-ancang akan menendang pintu itu tapi sebelum benar-benar terjadi, pintunya terbuka. Semua orang bernapas lega, Viona berdiri didepan mereka dengan senyuman.

"Jangan merusak pintunya, itu mahal!" ucapnya.

Semua orang diam, karna Viona terlihat baik-baik saja, hanya cukup pucat. Tapi Fitri tidak yakin, hatinya berkata telah terjadi sesuatu. Lalu detik berikutnya, semua kata hatinya terbukti benar.

"VI...!"

lalu tumbang. Viona ambruk didepan mereka. Dan semua orang sadar bahwa sejak tadi darah segar mengalir dari nadi Viona yang koyak. Pergelangan tangan kanannya mengucurkan darah yang membanjiri lantai.

Pakaian Fitri berlumur noda darah putrinya saat ia berjongkok dan memangku Viona diatas pahanya. Semua orang panik, Hanin berlari keluar rumah untuk mengambil tas medis didalam mobil. Rustam mengobrak abrik lemari Viona untuk mencari kain menutupi luka gadis itu.

Hanya Zio dan Danu yang mematung ditempat mereka. Pikiran keduanya kosong, tak sedikitpun terlintas apa-apa untuk bertindak. Keterkejutan menguasai mereka lebih lama.

"Jangan diam saja, Bantu angkat Viona" Danu dan Zio kembali sadar saat mendengar pekikan Hanin dan teriakan Fitri yang menangis.

Zio bergerak lebih cepat, mengangkat tubuh Viona dan membawanya keatas tempat tidur gadis itu. Darah itu masih mengalir dari tangan Viona meski sudah disumbat kain, Zio yakin Viona baru saja melakukan aksinya–mungkin saat mendengar teriakan mereka.

Hanin duduk ditepi ranjang dan mengeluarkan semua alat medis. Hanin menumpahkan cairan alkohol pada luka Viona, tidak peduli mengotori lantai kamar gadis itu. Setelah membersihkan semua darahnya Hanin berkutat dengan luka menganga yang hampir setengah melingkari tangan Viona, menutupnya dengan jahitan.

Rasanya jantung Fitri sempat terhenti saat melihat kondisi Viona. Dia bersyukur ada Hanin yang ikut dengan mereka dan bisa langsung bertindak pada keadaan Viona. Rasanya kaki-kaki Fitri melemah, karna dia benar-benar takut kehilangan Viona lagi.

Usai melilit pergelangan tangan Viona dengan perban, Hanin memeriksa kondisi Viona dengan stetoskop, ada lega diwajahnya yang hanya dimengerti dirinya.

 She Is Me (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang