Sedetik tatap kadang mampu merubah kita, sepenggal kata juga mampu memberi tawa. Tapi dari segalanya sentuhan kasih yang mampu memberi sebuah rumah.
📍
Segalanya jadi kacau. Pada sisi Viona, gadis itu masih terguncang. Pekerjaannya terbengkalai bahkan kali ini ia menyerahkan segalanya pada Della. Sang asisten hanya patuh dan mengerjakan sebisanya, enggan mencoba menenangkan dan mencari tahu masalah Viona yang sepertinya sangat rumit hingga gadis itu hanya datang ke resto sekedar mengecek kondisi lalu berdiam diri didalam ruangannya.
Seperi hari-hari lalu Viona berdiam diri didalam ruangannya, menatap keluar jendela dengan kepala depenuhi banyak masalah. Entah sudah berapa kali ia menghembuskan napas dengan kasar seakan-akan sebelumnya tercekat, tertahan ditenggorokannya.
Keadaan Viona memburuk sejak masalah cinta kandas ini. Ada perasaan bersalah yang malah membuatnya tidak bisa tidur. Ditambah ketakutannya yang bisa muncul kapan saja semakin menambah beban Viona. Kondisi mental Viona memburuk hingga kadang kehilangan kontrol, ia semakin sulit menguasai diri dan amarahnya.
Viona menarik wajah untuk menunduk, mulai menatap cincin manis yang menghiasi jemari nya yang indah. Lalu setelahnya perasaan-perasaan itu kembali menyerangnya. Viona memutar-mutar cincin itu, lalu pada akhirnya melepaskan nya dari jari tangannya.
"Haruskah dikembalikan?"
Benar! Haruskah ia mengembalikannya pada pemiliknya? Tapi itu artinya dia harus bertemu kembali dengan pria itu. Aahh! Viona pening jika harus dibebani dengan pemikiran seperti ini. Viona meletakkan dengan kasar cincin itu diatas meja, bersamaan dengan itu pintu ruangannya diketuk dari luar.
"Masuk!" seru Viona mempersilahkan.
Saat pintu terbuka, perlahan sosok remaja memasuki ruangan, dengan hijab menggantung dari kepalanya.
Rina! Gadis muda itu membawa nampan bersisi nasi goreng dan minuman macha ditangannya.
Rina meletakkan bawaannya diatas meja Viona, menggesernya tepat dihadapannya. Viona tersenyum kearah Rina
"Terimah kasih, Rina" ucapnya.
"Sama-sama Chef."
Viona melirik jam di dinding ruangannya, pukul 14.00, dia sungguh tidak sadar waktu.
"Ada lagi Rina?"
Rina sedikit tersentak tapi kemudian mengangguk perlahan. Karna benar ada lagi hal yang ingin ia sampaikan selain hanya membawa makan siang untuk chef nya.
"Ada seseorang yang mau ketemu sama Chef."
Viona mengusap wajah nya kasar.
"Bukan Chef. Bukan pelanggan complain beliau hanya ingin menyapa kepala dapur Oh Deliz." sambung Rina cepat.
"Meja nomor berapa?"
"10, Chef."
"Ya sudah nanti saya temui"
"Baik Chef"
Lalu Rina berbalik pergi. Viona mendesah berat, entah siapa yang ingin bertemu dengannya.
Viona meraih celemek dipinggir meja, memakainya sambil berjalan keluar.
Memasuki area makan yang terlihat sangat ramai, Viona mengode mata pada Reza yang menjaga kasir agar mengatur suhu ruangan dengan AC yang ada. Ruangan terasa cukup padat dan panas.
Viona menoleh pada meja bernomor 10. Dia hanya mampu melihat punggung seorang wanita yang ditutupi hijab. Perlahan Viona melangkah mendekat.
"Maaf, anda mencari saya Bu?" tanya Viona.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is Me (SELESAI)
RomanceAlhamdulillah sudah rampung! Ini tentang cara berpaling dari ketakutan, tentang cara menolak kenyataan. Segalanya melampau kemauan, merusak pijakan hingga kisah menempati ruang. Tentang Viona Tentang Ainah Tentang penyatuan hidup mereka yang dilanda...
