9. Waktu berhenti

204 38 0
                                        

Kadang logika jadi tidak bermakna. Tunduk pada rasa.
Kadang perasaan terlalu berlebihan. Mengartikan tanpa mengerti keinginan.

📍


Tak tak tak..

Sssttttt...

Seng!

Prak

Tidak. Viona tidak sedang ikut peperangan atau bermain lari-larian hingga menghancurkan ruangan. Dia hanya sedang mencincang bahan masakan, memasukkan tumisan kedalam minyak panas di wajan, dan mengaduk nya dengan spatula besi. Itu suara-suara yang ditimbulkan.

Tumis kangkung, sup daging sederhana, dua segelas minuman macha, dan tumpuk nasi diatas dua piring. Terakhir Viona menaburkan bawang goreng diatas sup daging nya.

Menepuk tangan karena rasa puas. Viona lalu duduk dikursi yang ada.

Suasana Oh Deliz begitu sepi, hanya ada Viona dan cahaya lampu yang menyinari. Pintu utama sudah ditandai kata Close tapi seorang pria berjas putih khas pelaku medis tetap masuk kedalam demi memenuhi janji nya.

Zio berdecak kagum pada semua masakan diatas meja. Beralih menatap Viona yang duduk dengan senyuman jernih.

"Trust me, kamu yang terbaik!" puji Zio seraya duduk.

"Pembohong! Bilangnya gitu kalo lagi laper"

Zio meringis. Sarkas, tapi Zio tidak peduli dan memutuskan menyeruput kuah sup sesendok. Tampilan masakannya begitu sederhana tapi rasanya begitu nikmat dengan takaran yang pas. Zio selalu suka sup buatan Viona.

Zio membuka jas dokter nya, menyampirkan pada kursi tempat ia duduk.

Jadi disini mereka. Di resto yang sudah tutup sejak beberapa jam yang lalu. Sebenarnya Viona ada jadwal periksa bersama Zio hari ini tapi gadis itu meminta Zio datang ke resto, makan malam bersama sebelum melakukan pemeriksaan ditempat yang sama.

Keduanya mulai makan. Menghambiskan sebisa mereka. Viona sering memasak untuk Zio, entah itu dirumah atau di resto setelah tutup seperti ini. Psikiater nya ini kadang tidak makan dalam sehari karna kesibukan atau karna memang malas.

Usai makan, Zio berserdawa kecil merasa perut nya penuh dengan masakan buatan Viona.

Vio bergegas membereskan bekas makan mereka, membersihkan meja yang terkena tetesan kuah sup. Baru kemudian Viona kembali duduk dikursi semula.

"Mau langsung?" tanya Zio seraya mengeluarkan buku catatan hasil pemeriksaan Viona keatas meja.

Viona malas sebenarnya. Tapi harus tetap dia lakukan.

"Dok!"

Zio mendongak cepat. Nada rendah Viona mengundang kekhawatiran.

"Ada apa?" tanya nya.

"Ainah. Saya rasa Ainah jadi lebih sering keluar. Begitu cepat, bahkan ketika saya berdoa di Gereja. Saya gak ingat banyak tapi terakhir kali saya liat ada anak kecil duduk disebelah saya yang main pistolan. Itu bikin saya ingat--"

Zio mengangguk paham. Tapi hati nya merasa gelisah. Hanya melihat anak bermain bisa mengumpan trauma Viona. Gadis ini benar-benar rapuh dihadapan ketakutannya. Zio bisa mengerti ada semburat takut yang memenuhi air muka Viona.

"Viona! Dengarkan saya" Viona mendengarkan.

"Disini!" Zio menunjuk kepalanya "Ketakutan itu datang nya dari cerna kepala kamu. Kamu banyak melihat hal dan menyamakannya dengan masa lalu. Logikanya adalah anak kecil di Gereja itu hanya tengah bermain dengan benda yang terlihat sama dengan yang selalu muncul di mimpimu, yang menyebabkan trauma kamu.

 She Is Me (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang