Jangan berteriak! Beberapa orang punya masalah dengan volume tinggi. Saling menghormati, itu fitrah kemanusiaan.
📍
Pagi ini jika kamu membuka satu-satu nya pintu kamar dari sebuah rumah mewah yang terletak ditengah kota, hal pertama yang kamu temui adalah seorang gadis yang mematut diri di depan cermin kamarnya. Dengan ekspresi datar, rupa cantiknya terlihat tidak bercahaya karna suramnya kehidupan gadis itu.
Mungkin sudah setahun lamanya ia mengetahui bahwa di dalam dirinya bukan hanya ada dia! Ada jiwa lain, dan itu menjadi semakin parah ketika Viona mulai sadar tanda-tanda setiap kali yang lain itu ingin keluar, menguasai tubuh nya dengan liar.
Tapi sejalan dengan waktu akhirnya Viona bisa mengerti dan berteman dengan kondisinya sendiri, membiarkan 'ia' merasuk dan berekspresi meski terkadang Viona menderita, tapi setidak nya dia tidak lagi kebingungan setiap kali seseorang mengatakan hal yang sama sekali tidak ia ingat.
Keinginan untuk sembuh tidak hilang. Dia masih tetap melakukan terapi dan pengobatan dengan dokter psikiater, sampai sejauh yang ia lakukan Viona masih belum menemukan jalan.
"Ini milik kita!"
Viona memasukkan sebuah kain hijab kedalam tas kerjanya. Ini yang sudah sering ia lakukan, dia tidak ingin ketika 'yang lain' dari kata 'kita' masuk dan dia tidak menemukan hijab. Karna Viona sudah mengerti sosok itu berkarakter seperti apa.
Selesai dengan dirinya Viona keluar dari dalam kamar, berjalan menuju meja makan yang diatasnya sudah tersaji sepiring nasi goreng dan segelas air putih. Viona duduk, perlahan tangannya mengepal menjadi satu, setiap jemari nya menyilang dan di dalam hatinya bergemuruh lantunan do'a, usai dengan itu tangan Viona bergerak menyendok tapi berhenti tepat di depan mulut nya.
Bukan karna sesuatu telah terjadi dengan salah, hanya saja otak Viona seolah tengah memikirkan bagian lain dalam dirinya, seolah ia juga ingin diperhatikan, dimengerti dengan sifat dan kebiasaannya.
Viona menatap sarapannya. Haruskah dia juga menengadahkan tangan dan membaca sebuah doa dengan bahasa Arab itu?
Tidak! Viona tidak ingin harinya beralih pada jiwa keduanya, tidak berniat memberi jalan dari sebuah kebingungan, pada akhir nya Viona mengangkat tangannya, berdoa dengan cepat kemudian menyantap sarapannya dalam hening.
Waktu terus bergulir, Viona seolah lenyap diantara kesibukan yang terjamah oleh pusat perhatiannya sendiri, untuk beberapa waktu kesibukan bisa menguntungkan bagi Viona tapi terkadang juga menjadi sebuah tekanan yang mengumpan jati diri yang lain keluar dari tubuhnya.
Sekarang gadis itu tidak henti meneliti beberapa buah mangkuk kosong di depannya, sesekali air muka terlihat menolak hingga ia menggelengkan kapala. Satu mangkuk paling ujung menarik perhatiannya, berbentuk sederhana dengan pinggiran lebar dan motif udara, Viona mengangkat mangkuk itu kemudian disodorkan pada karyawan dihadapannya
"ini, tolong pesan selusin, jangan ada yang berubah. Persis sama dengan ini"
Wanita dengan celemek putih melekat pada tubuhnya mengangguk.
"Baik chef!"
Kemudian berlalu dari hadapan Viona.
Ketika baru saja Viona akan duduk di kursinya pintu ruangan kembali terbuka, seorang wanita masuk dengan kecemasan terpatri jelas di wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is Me (SELESAI)
RomanceAlhamdulillah sudah rampung! Ini tentang cara berpaling dari ketakutan, tentang cara menolak kenyataan. Segalanya melampau kemauan, merusak pijakan hingga kisah menempati ruang. Tentang Viona Tentang Ainah Tentang penyatuan hidup mereka yang dilanda...
