Alhamdulillah sudah rampung!
Ini tentang cara berpaling dari ketakutan, tentang cara menolak kenyataan.
Segalanya melampau kemauan, merusak pijakan hingga kisah menempati ruang.
Tentang Viona
Tentang Ainah
Tentang penyatuan hidup mereka yang dilanda...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
📍
Seminggu tinggal bersama keluarga baru ternyata tidak buruk sama sekali, Viona bisa cepat berbaur dengan kebiasaan-kebiasaan Rustam, Fitri dan Nadia.
Tapi seminggu ini Viona merombak kembali kebiasaannya sendiri. Karena jika biasanya dia bisa berleha-leha ditempat tidur hingga pukul 9, sekarang tidak bisa lagi karena Mamanya pasti menyiramnya dengan air. Dan untuk beberapa hal Viona harus terbangun jauh lebih awal saat dia mendengar suara-suara dari aktifitas ibadah yang lainnya.
Dan yah! Viona juga lebih sering melihat bagaimana Islam itu dianut. Satu hal yang Viona cukup kagum, toleransi Agama benar-benar lekat diantara mereka.
Pagi ini seperti sejak seminggu yang lalu Viona bangun lebih awal, bersama Nadia dia memasak sarapan didapur, sekarang sudah lebih baik, tidak lagi menjatuhkan pisau atau sendok. Setelah masakan mereka selesai dan ditata diatas meja. Fitri dan Rustam bergabung.
"Nadia, Ayah dengar ada masalah kecil ya dikantor?" tanya Rustam sebelum ada yang memulai makan
Nadia menjadi sorotan, gadis cantik itu tersenyum.
"Nadia mau belajar menyelesaikan masalah sendiri, Yah. Gak mau apa-apa cerita dan minta bantuan Ayah. Dan masalah kemarin ternyata mudah selama Nadia mau berusaha menyelesaikannya. Ya walaupun harus begadang sih!"
"MasyaAllah, sekarang anak Mama udah gede aja. Mama bangga sayang!"
Nadia tersenyum saat Fitri menciuminya. Rustam ikut mengelus kepala Nadia dan mengatakan bahwa dirinya bangga pada si bungsu.
Viona tahu bahwa adiknya bekerja sebagai kepela divisi, cukup membanggakan diusia mudanya sudah berhasil meraih bagian itu. Karenanya Viona ikut mengakui kerja keras sang adik.
"Kakak bangga sama kamu"
"Makasih kak Viona"
"Sama-sama"
Barulah setelah itu mereka melangsungkan acara sarapan. Setelah itu Nadia dan Viona pergi ketempat kerja masing-masing. Kembali menyisakan Rustam dan Fitri.
Fitri memeluk Rustam tiba-tiba, memeluknya sangat erat dan tak mau lepas. Rustam membalasnya tak kalah erat.
"Viona benar, kamu sangat baik karna mampu mencintai kami dengan tulus seperti ini. Terima kasih sudah selalu ada untuk aku dan anak-anak, Yah!"
"Kamu bicara apa. Kalian adalah milikku sekarang. Memang untuk siapa cinta ku kalau bukan untuk kamu dan anak-anak"
"Aku gak ngerti lagi, bagaimana kamu bisa punya hati sebesar itu untuk mencintai Viona dan Nadia seperti anak sendiri?"
"Mereka anak aku, sayang. Aku sama sekali tidak peduli ada atau tidak darah ku didalam tubuh mereka. Mereka adalah putriku"
"Aku tau, dan aku selalu merasa bahagia karna itu. Tapi aku bingung kenapa aku gak bisa kasi kamu anak–"
"Mah!" Fitri menghela napas.
Fitri tidak tahu, kenapa dalam hubungannya bersama Rustam Allah tidak menitipkan buah cinta untuk mereka. Fitri tidak menyalahkan apapun bahwa mereka tidak dipercayakan lagi, tapi sampai hari ini terkadang masih ada perasaan sedih saat menyadari hal itu.
"Memang Mama siapa? Bukan Mama yang berhak atas hamil atau tidaknya Mama, tapi Allah. Dan hanya Dia lah yang lebih tau."
"Tapi aku–"
"Lagi pula kita tidak pernah tau, Mah. Ayah selalu punya harapan sampai sekarang, tapi Ayah gak akan kecewa jika pun Allah tidak berkehendak. Karna memiliki kamu, Viona dan Nadia sudah lebih sari cukup"
Fitri selalu merasa tersindir dan iri, karena cinta yang dimiliki Rustam terlalu banyak dan besar untuk dirinya yang sama sekali tidak sempurna.
↕↕↕
Malam hari sepulang dari Oh Deliz Viona menyempatkan diri ke klinik Zio untuk melakukan check up kembali.
Sekarang Zio tengah mempersilahkannya duduk saat Viona tiba.
Hal pertama yang selalu Zio tanyakan adalah kabar Viona, baru kemudian berali pada kondisi Viona dari check up terakhir kali.
"Obatnya?"
"Aku mengurangi dosis, dan beberapa kali berusaha melawan agar tidak meminumnya"
"Baguslah!"
Zio sangat bahagia jika akhirnya Viona berusaha berhenti mengomsumsi obat-obatan darinya, lebih dari itu, artinya Viona mulai berpikir logis bahwa dia tidak butuh lagi tergantung pada semua obat itu.
"Ah, dok, aku mau tanya sesuatu?"
"Tanyakan!"
"Apa mungkin aku bisa mengingat semua yang pernah Ainah lalukan saat dia muncul didalam diriku?"
Zio mengerutkan dahi, "Apa terjadi sesuatu?" dia malah bertanya balik
"Aku gak ngerti tapi akhir-akhir ini aku sering dejavu. Aku yakin banget aku pernah melakukan dan melalui itu semua tapi aku gak ingat, kapan dan dimana atau kenapa aku melakukan itu? Jadi aku berpikir apa mungkin semua itu bayangan dari apa yang pernah Ainah lakukan?"
"Sebenarnya Viona, aku belum mempelajari secara mendetail masalah DID ini. Tapi yang aku tau, jika suatu hari nanti kamu bisa membedakan antara diri kamu dan Ainah, atau kamu bisa mengontrol diri dan kamu sadar bahwa Ainah sebenarnya hanya diri kamu sendiri, maka itu bagus. Maksud ku jika sebagai Viona kamu mengenali Ainah dan bisa menguasai diri dari kemunculan Ainah mungkin suatu hari nanti kamu bisa menghilangkan Ainah"
"Jadi maksud dokter, kalau aku bisa menguasai diri dan saat Ainah akan muncul tapi aku menekan dan tetap dalam kesadaran sebagai Viona–"
"Jika kamu bisa mempertahankan diri sebagai Viona dan berusaha menyadarkan diri. Ainah tidak akan ada lagi"
Viona menghela napas. Selama ini itu yang selalu dia coba lakukan dan itu tidak mudah untuk mempertahankan diri sebagai Viona. Menekan Ainah.
"Apa Ainah pernah muncul lagi?" Viona menggeleng.
"Syukurlah. Semoga tidak lagi"
Malam itu Viona pulang dengan pikiran penuh, tapi sebisa mungkin dia tepis dari benaknya. Viona sudah berjuang sampai sejauh ini, dia mampu terlepas dari beberapa obat-obatan adalah hal yang awalnya Ia anggap mustahil. Meski tidak lebih mudah tapi jalannya lebih dekat sekarang. Viona percaya dirinya bisa.
Viona juga tidak selemah dulu, yang hilang telah kembali dalam hidupnya bahkan lebih. Untuk keluarganyalah Viona akan meraih sebuah mimpi baru dan harapan lebih kuat demi sebuah 'kesembuhan'
Viona takkan menatap kebelakang selama didepan masih banyak jalan yang harus ditempuhnya.
Aku gak tau harus apa, intinya kita menuju akhir, gak relaaa *nangis haru*