Alhamdulillah sudah rampung!
Ini tentang cara berpaling dari ketakutan, tentang cara menolak kenyataan.
Segalanya melampau kemauan, merusak pijakan hingga kisah menempati ruang.
Tentang Viona
Tentang Ainah
Tentang penyatuan hidup mereka yang dilanda...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
📍
Pertemuan bersama Ustadzah disekolah tahfiz itu tidak hanya untuk bercerita panjang lebar. Memahami Tuhan dalam bentuk penjelasan dan teori-teori yang dipahami Viona lewat tuntunan Ustadzah Fatiyah.
Viona juga diajak menghadiri kelas tahfiz yang berlangsung. Mendengarkan anak-anak malantunkan ayat suci Al-Quran. Bahkan Viona melihat dari mereka yang menghafalkannya, Viona sampai terkagum-kagum melihat anak-anak seusia mereka bisa menghafal kata perkata yang bukan dari bahasa indonesia dan banyak itu.
Hingga sore hari Viona dan Danu pamit pulang. Ustadzah Fatiyah memberi banyak nasihat dan do'a terkhusus untuk Viona.
Sekarang Viona dan Danu kembali berdua didalam mobil, menempuh perjalanan yang tiba-tiba saja terasa sunyi karna Viona diam saja.
"Viona?"
"Hm?"
"Kamu baik-baik saja?"
Viona diam saja
"Kenapa diam?" Danu kembali bertanya
"Entahlah. Danu, aku merasa aneh setelah seharian ini mencari jawaban atas pertanyaan ku. Aku gelisah tanpa sebab"
Danu perlahan menepikan mobil, berhenti dipinggir jalan, mengambil sebotol air didalam bagasi dan memberikannya pada Viona.
"Minum dulu. Tenangin diri!"
Viona melakukannya dan segera mengembalikan minuman pada Danu.
"Kamu mau cerita sesuatu?"
"Entahlah, aku bingung!"
"Gak papa. Kamu bisa cerita jika sudah siap"
Viona menyandarkan bahunya pada kursi dan menghela napas berkali-kali. Danu melakukan hal yang sama, dia mengerti, maka dia membiarkan Viona beristirahat sejenak bersamanya.
"Semua yang aku tanyakan sama Ustadzah Fatiyah bisa beliau jawab. Aku gak heran, aku percaya beliau memang sepintar itu. Sekarang setelah aku terlepas dari semua pertanyaan-pertanyaan itu, aku diserang pertanyaan lain. Kenapa aku berhak untuk semua ini? Kenapa aku berhak mengenal Islam dan semua tentangnya? Apa aku seistimewa itu untuk tahu? Dan sekarang satu pertanyaan paling membingungkan buatku muncul begitu saja. Kenapa aku merasa istimewa saat belajar tentang Islam?"
Danu menoleh pada Viona yang menatapnya berkaca-keca. Langsung saja dia membangunkan diri dan menghadap Viona. Raut penuh bingung itu menyiksa Danu juga.
"Boleh saya menjawab?"
"Please!"
"Karena Islam juga istimewa! Satu-satunya Agama disisi Allah dan Agama rahmatan lil-alamin bagi umat Rasulullah!"
Viona menunduk dan bahunya tiba-tiba bergetar menandakan dia menangis terisak. Kegelisahan yang datang tiba-tiba, perasaan-perasaan tanpa landasan itu seolah menyedot semua kekuatan Viona dan meninggalkan beban tak kasat mata didalam hati.