Tidak peduli waktu. Cinta! Keberadaannya tak terusik oleh apapun, karna selalu diingatkan oleh rindu.
Danu dan Ainah berjalan bersisian melewati lorong rumah sakit menuju ruang rawat Ainah. Walau sempat menolak karna merasa baik-baik saja tapi akhirnya Danu berhasil membujuk gadis itu agar mau kembali beristirahat.
Dari kejauhan Ainah bisa melihat masih begitu banyak orang berdiri menunggu didepan pintu kamar nya. Langkah Ainah menjadi ragu tiba-tiba saja rasa takut itu menjalar saat melihat mereka. Seolah-olah mereka semua adalah musuh Ainah yang ingin melawan dirinya.
"Mereka siapa sebenarnya?" tanyanya dan membuat Danu menoleh.
Yang dikenali Ainah hanyalah Rina, dan Della itu saja.
Mengerti bagaimana kondisi Ainah, Danu hanya tersenyum.
"Mereka teman kamu, orangtua kamu, jadi jangan khawatir dan ada aku disini."
"Aku gak tahu, aku merasa semua tatapan mereka seolah gak suka aku, bukan aku yang mereka harapkan!"
Perlahan bahu merosot Ainah semakin merosot.
"Kamu bukan bagian dari mereka kan?" tanyanya.
Danu diam. Dia bukan bagian dari pemikiran Ainah, tapi dia juga tidak yakin harus memilih yang mana.
"Bukan! Aku menginginkan kamu!"
Ainah tersenyum, setidaknya ada Danu yang siap melindungi dan berpihak padanya. Itu saja sudah cukup.
Danu membawa Ainah kedalam kamar dan membantunya berbaring diatas tempat tidur.
"Kamu istirahat, aku ada diluar jadi jangan takut."
Ainah mengangguk. Saat Danu bersiap keluar Ainah menahan, memanggil namanya.
"Ada apa?" tanya Danu.
"Terima kasih. Sudah mendukung ku!"
Berapa kali lagi Danu harus dibuat terdiam? Tapi dia mempertahankan senyuman diwajahnya. Pria itu mengangguk sekali lalu meninggalkan Ainah didalam ruangan sendiri. Dan entah, kapan ia bisa melihat Ainah bukanlah hal yang mampu ia tebak.
Pintu kamar berbunyi saat dibuka, Ainah yang belum tidur berbalik untuk melihat seseorang yang masuk kedalam kamar. Seseorang yang ia lihat juga ada didepan kamarnya, wanita yang berpakaian syar'iah dengan hijab lebar.
Mata wanita itu sembap, ia menghampiri Ainah dan duduk ditepi ranjangnya.
Ainah mendudukkan diri, menatap lekat sosok yang baru dijumpainya.
"Assalamualaikum." sapa Fitri.
"Waalaikumsalam. Maaf anda Siapa"
Lagi-lagi 'Anda', Fitri merasa terlempar sangat jauh mendengar putri nya menyebutnya begitu tapi lebih menyakitkan melihat Viona kehilangan jati diri, dikuasai pribadi lain. Fitri yakin ini tidak mudah untuk Viona dan semua ini karna kesalahannya.
"Kamu bisa panggil Mama!"
"Mama? Tapikan kita tidak saling mengenal?"
Fitri terkekeh walau dimatanya ada air mata. Ainah sampai kaget wanita itu menangis saat berbicara dengannya.
Tangan Fitri terulur untuk mengelus kepala Ainah yang dubaluti hijab hitam. Saat ia bertanya pada Della dari mana asalnya hijab itu, katanya semenjak mengidap DID Viona membawa-bawa sehelai kain itu didalam tas nya. Lagi-lagi Fitri tidak bisa membayangkan bagaimana akhirnya Viona berdampingan dengan kondisinya.
"Siapa yang tahu memang? Kasih sayang itu kan tidak terukur, tidak ada batasan untuk mencintai dan dicintai."
"Anda mencintai saya? Kenapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is Me (SELESAI)
RomantikAlhamdulillah sudah rampung! Ini tentang cara berpaling dari ketakutan, tentang cara menolak kenyataan. Segalanya melampau kemauan, merusak pijakan hingga kisah menempati ruang. Tentang Viona Tentang Ainah Tentang penyatuan hidup mereka yang dilanda...
