"Maaf" ucap rendy sambil melirik mimi sebentar lalu kembali menyetir
"Untuk apa?" tanya mimi santai
"Sudah membuatmu ketakutan dan bingung dengan kejadian tadi" kali ini rendy memegang tangannya
"Aku sama sekali tidak takut" santai mimi
"Trus kenapa tadi kau diam saja?" tanya rendy
"Trus apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mematahkan lehernya atau menendang kepalanya?" tanya mimi
"Yaa ga harus gitu. Yaa aku melihat mu cukup ketakutan tadi" kali ini rendy yang bingung
"Berarti penilaianmu salah" jawab mimi dengan cepat
"Ya namanya juga pria, selalu salah. Kalo ga pernah salah, namanya wanita" santai rendy
"Oh yaa?" tanya mimi polos
"Heem. Oh iya, apa kau tidak ingin tau siapa pria dan wanita tadi?" tanya rendy hati2
"Untuk apa? Sama sekali tidak menguntungkan ku" santai mimi sambil memasangkan kacamata hitamnya
"Ahh iyaa, kau benar. Tetaplah seperti ini yaa. Cukup aku saja yang kau tau" rendy
Kemudian mereka sampai di kantor rendy, rendy mengajak mimi untuk ke kantornya. Dan mimi tidak punya pilihan lain selain menurutinya.
"Silahkan tuan putri" ucap rendy sambil membukakan pintu mobil untuk mimi
"Kau ini apa2an? Aku bisa buka sendiri" ucap mimi kebingungan dan langsung berjalan masuk ke kantor rendy. Semua karyawan memberi salam pada mimi dan rendy, tidak sedikit yang membicarakan ketampanan rendy dan ke simple an mimi
"Aku ada meeting sebentar lagi, apa kau mau menungguku di ruangan ku atau di kantin? Aku tau kau tidak makan banyak tadi" ucap rendy
"Ah ternyata kau sangat tau maksudku datang kesini. Baiklah. Aku akan makan dikantin" mimi
"Baiklah sebentar, aku akan membawa berkas dulu lalu mengantarmu ke kantin" ucap rendy sambil membuka pintu ruangannya
Ketika membuka pintu ruangannya, rendy sangat kaget melihat sosok refan yang berantakan muncul dibalik pintu.
"Ahh shit!!! Kau membuat ku kaget!! Kenapa kau ada disini?" rendy terkesiap
"Ka...." lirih refan dengan pakaian yang berantakan dan lesu
"Kau kenapa?" tanya rendy, mimi yang memperhatikan refan hanya diam tanpa tertawa atau simpati karna kesedihan refan
"Bella jalan sama pria lain hikshiks" ucap refan sambil tersedu2
"Ish kau ini! Kan aku udah bilang, jangan sampai dia diambil orang. Kau tidak mendengar" ucap rendy sambil memeriksa berkasnya
"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" tanya refan memelas pada rendy
"Pulang, mandi dan makan. Gitu aja ko harus nanya" ucap mimi sambil melangkah mendekati sofa dan duduk
"Ahh benar kata mimi. Kau harus pulang, mandi dan makan. Dengan penampilan kaya gini, jangankan bella nenek2 pinggir jalan aja enggan melihatnya" rendy
"Iya, aku memang belum makan. Dan aku benar2 lapar. Kata orang kalau patah hati gamau makan. Apa mereka gak lapar yaa?" ucap refan sambil berjalan mengambil jas nya dan pergi meninggalkan mimi dan rendy
Rendy benar2 kebingungan dengan tingkah refan. Dia memang kekanak2an.
"Itu adikmu?" tanya mimi santai
"Iyalah, emangnya kenapa?" tanya rendy
"Pantas saja kelakuannya sama" ucap mimi sambil berdiri berniat meninggalkan rendy
"Sama apanya? Aku tidak pernah kaya gitu. Aku sama refan beda jauh" rendy berjalan menyeimbangi mimi
"Udah ah, aku lapar mau makan. Dimana kantinnya? Atau biar aku saja yang cari. Kau meeting saja. Atau aku perlu mengantarmu meeting?" tanya mimi sambil nyengir, mimi tau rendy tidak akan pernah membawanya meeting karna kejadian yang lalu takut terulang kembali saat mimi mengobrol dengan rekan bisnis nya yang berasal dari luar negeri
"Ah tidak. Biar aku antar sebentar dan setelah itu aku akan meeting" rendy
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Wife
RomansaMenjadi seorang istri dari pria yang kadar ketampanannya itu melebihi dewa. Bagaimana rasanya? . .
