"Badanmu panas lagi. Aku akan mengambil kompresan. Tunggu sebentar" mimi
Kali ini rendy benar2 sakit, biasanya setelah diperiksa dan diberi obat langsung mendingan. Rendy sama sekali tidak banyak bicara hari ini. Bahkan ditanya saja kadang tidak menjawab. Mimi benar2 khawatir melihat rendy sakit seperti ini. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Apa mimi harus membawa rendy kerumah sakit? Tapi rendy menolak dibawa kerumah sakit.
"Kita kerumah sakit yaa, badanmu panas sekali" mimi sambil mengompres rendy
"Tidak. Besok juga sembuh" rendy
"Sembuh gimana? Tadi juga udah turun panasnya, sekarang panas lagi. Aku takut terjadi apa2" mimi
"Jangan jadi penakut" rendy
"Aku serius" mimi
Rendy tidak menjawab. Mimi benar2 tidak bisa tidur. Jam sudah menunjukan pukul 1 malam, dan mimi masih terjaga mengawasi rendy, tanpa ada rasa ngantuk mimi terus mengompres rendy. Diluar hujan begitu deras, membuat malam itu semakin menakutkan bagi mimi. Satu dua tetes air mata jatuh dari mata mimi, mimi tidak menyadari nya. Kenapa ia menangis? Mimi hanya tidak pernah ada diposisi saat ini. Mimi benar2 ketakutan.
"Ah yang benar saja, aku benar2 takut" batin mimi saat mengusap air matanya.
"Kenapa tidak tidur?" ucap rendy saat sadar mimi masih duduk dikursi yang menghadap padanya
"Ah kau bangun. Panas mu belum juga turun. Aku harus bagaimana? Hikshiks" kali ini air mata mimi tidak bisa ditahan lagi. Mimi tidak tau harus bagaimana sekarang
"Kenapa kau nangis? Aku tidak apa2. Ini biasa. Jangan menangis mimi" rendy memegang tangan mimi
"Aku tidak pernah menunggu orang sakit seperti ini. Aku benar2 takut" mimi kembali menangis dan tangan satunya menutup matanya saat menangis
"Haha kau manis sekali. Ambilkan obat untukku" rendy bangun dan duduk menyangga
"Tapi kau harus makan dulu" mimi
"Ambilkan roti satu" rendy
Mimi langsung bergegas kedapur dan mengambil roti yang disuruh rendy dan segelas air.
"Makanlah, kau harus makan banyak" mimi
Rendy memakan setengah roti lalu meminum obatnya. Entahlah, apa roti tidak masalah untuk dimakan saat akan meminum obat.
Setelah selesai meminum obat, rendy kembali berbaring.
"Sini tidur. Sudah malam" rendy
"Ah, aku disini saja. Aku harus mengompres mu" mimi
"Aku sudah minum obat, tidak perlu dikompres. Sini cepat tidur" rendy
Mimi menuruti rendy dan baring disisi rendy. Rendy berbalik kearah mimi dan memeluknya.
"Ahh dingin sekali" rendy
Mimi masih belum bisa tidur, badan rendy yang menempel padanya membuat mimi resah karna kepanasan dipeluk rendy.
"Hmmmm dingin sekali. Miiiii dingin" lirih rendy
"Tapi kau sudah pakai selimut yg tebal. AC kamar juga sudah aku matiin. Apa aku harus menyalakan pemanas ruangan?" mimi
"Hmmmmmmm" rendy mengubah posisi tidurnya mendekati mimi, lebih dekat. Hingga kini rendy berada diatas mimi
"Ren.." lirih mimi saat rendy mencoba membuka kancing baju mimi
"Sekali ini saja, aku benar2 kedinginan" ucap rendy dan perlahan mencium bibir mimi lembut
"Bagaimana ini? Aku benar2 takut. Apakah ini waktunya rendy akan mengambil perawanku? Ah aku tidak bisa membayangkan rasanya akan seperti apa. Kata orang benar2 sakit. Ya tuhan aku harus bagaimana" batin mimi
Rendy berhasil melepas semua kancing baju mimi. Rendy belum melepaskan ciumannya. Tangan rendy mulai meremas payudara mimi diluar bra mimi. Mimi benar2 tidak bisa menolak. Badannya terkunci dibawah rendy. Perlahan mimi mulai membalas ciuman rendy, membuat rendy semakin gencar melakukan aksinya. Entah bagaimana mulainya, kini mimi dan rendy telanjang bulat tanpa sehelai benang menutupi tubuh mereka.
"Ren.." mimi
"Hmm" rendy hanya bergumam saat menghisap payudara mimi
"Ahhh geli ren.." racau mimi
Rendy hanya tersenyum dan melanjutkan aksinya
"Hentikan ren ahhh.." mimi
"Sekali ini saja, aku mohon. Aku kedinginan mii" lirih rendy dengan desahannya yang sudah tidak tahan
"Tapi aku takut rasanya akan sakit. Bahkan sakit sekali" mimi
"Tahan ya sayang, sakitnya cuma sebentar. Kesananya akan enak" rendy kembali mencium bibir mimi dan mulai membuka selangkangan mimi, mencari lubang kewanitaan mimi yang akan memanjakan kejantanannya.
Mimi memejamkan matanya. Tangannya mengepal dam meremas sprei kasurnya. Ia benar2 takut. Perlahan namun pasti, rendy memasukkan kejantanannya kedalam milik mimi. Sempit, yaa itulah yang ada difikiran rendy saat ini.
"Aww ren sakit ahhhh.." mimi merintih kesakitan saat rendy berhasil memasukan kejantanannya, namun tidak semuanya. Baru setengah masuk, mimi sudah sangat kesakitan.
"Tahan ya sayang, sakitnya cuma sebentar hmmmm" rendy kembali mencoba mendorong penis nya agar masuk sempurna kedalam milik mimi
"Ahhh ren, sakitttt awww...." kali ini suara mimi sangat jelas.
Jlebbbb...... Rendy berhasil memasukkan penisnya sempurna. Mimi mengerang kesakitan.
"Maaf sayanggg" lirih rendy
"Sakit ren hikshiks" air mata mimi mengalir
"Baiklah aku tidak akan memaju mundurkan milikku sampai kamu tidak kesakitan lagi" rendy kembali mencium bibir mimi, tangannya meremas payudara mimi. Ciumannya turun keleher mimi dan meninggalkan banyak kiss mark disana. Mimi terangsang dengan perlakuan rendy, mimi mendesah berulang kali. Hingga dirasa pas, rendy mulai memaju mundurkan miliknya. Cepat dan semakin cepat. Mimi sudah sangat terbang. Membuat rendy menang.
"Ahhh, sempith sayangghh ahh..."
Tidak hentinya rendy menjamah milik mimi sampai benar2 kelelahan. Sampai waktu menunjukkan pukul 4 dini hari. Rendy dan mimi kelelahan.
"Terima kasih sayang" rendy mencium kening mimi lalu tertidur memeluk mimi dan tangannya tidak lepas dari payudara mimi.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Wife
RomantikMenjadi seorang istri dari pria yang kadar ketampanannya itu melebihi dewa. Bagaimana rasanya? . .
