"Kau sudah pulang" tanya mimi yang melihat rendy sedang duduk bersandar di sofa
"Kau dari mana?" tanya rendy
"Dari cafe" berjalan santai kearah kamar
"Tunggu. Aku mau bicara" rendy
"Apa?" mimi menghampiri rendy dan duduk disebelah rendy
"Aku akan ke jerman" lirih rendy
"Trus?" dengan muka tanpa ekspresi mimi bertanya yang membuat rendy refleks melirik kepadanya
"Trus? Pertanyaan bodoh apa ini? Kau tau aku akan ke jerman. Apa kau tidak bertanya untuk apa aku kesana atau sekedar kapan aku pergi?" cerocos rendy
"Ish, justru itu. Trus aku harus nanya apa atau aku harus gimana? Ya kalo mau pergi2 aja" dengan muka datarnya mimi berbicara
"(Rupanya aku emang gaada artinya buat wanita ini) Yasudah" rendy menyudahi obrolannya dan langsung pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya
"Ada apa dengan dia? Apa yang salah dari aku? Aku benar bertanya, trus? Aku harus bagaimana? Apa aku harus ikut dengannya atau aku harus bagaimana? Ishh, dia sangat membuatku bingung" mimi mengomeli dirinya
.
Semenjak kejadian tadi, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut rendy. Rendy yang biasanya selalu nyuruh mimi mengambilkan makan, kini ia sendiri yang mengambilnya. Sekalinya berpapasan dengan mimi, rendy langsung pergi meninggalkan mimi.
Mimi adalah orang yang sangat cuek dengan tingkah seseorang. Kali ini mimi dibuat bertanya2 dengan tingkah rendy yang mendiamkannya. Namun mimi tetap anteng dengan sikap yang tidak berdosanya itu.
.
"Hey tuan, aku akan kerumah ibuku" mimi
"Pergilah" singkat rendy lalu berlalu pergi menuju mobilnya dan melaju
"Ada apa dengannya? Biasanya dia selalu memaksa mengantarkan ku kerumah ibuku. Dia juga selalu pamit dulu kalo pergi" mimi bingung kenapa belakangan ini sikap rendy berubah padanya
.
"Senin aku akan berangkat" rendy
"Sendiri?" tanya refan
"Mungkin"
"Apa mimi tidak kau ajak?" tanya refan
Rendy hanya mengangkat pundaknya
"Kalo kau pergi, siapa yang akan jaga dia ka? Sedangkan kau tau dia selalu bikin masalah"
Akhirnya rendy menceritakan kejadian waktu ia ngobrol dengan mimi tentang kepergiannya ke jerman.
"Separah itu? Ah tapi aku juga sudah menduga akan seperti itu" refan
"Aku berasa gaada artinya buat dia. Kita juga menikah udah 1 bulan. Gaada perkembangan apapun dari dia. Malah makin gila aja kelakuannya"
"Ya sabar dulu dong ka. Sedikit2 kau rubah sifatnya. Jangan mau instan" refan
"Padahal entah kenapa aku tidak ingin meninggalkannya. Kehadiran dia udah menjadi candu buat aku" lirih rendy
"Apa kau jatuh cinta padanya?" tanya refan
"Apa aku harus menceraikannya?" berbalik nanya pada refan
"Apa kau gila? Kau nikahi gadis itu dan sekarang dengan mudah kau ingin menceraikannya? Pernikahan tidak selelucon itu ka" dengan nada tinggi refan berbicara
"Dia sama sekali tidak mengingin kan aku. Bahkan kehadiran aku saja buat dia ga berarti. Aku gaada artinya buat dia. Lagian mungkin dengan aku melepas dia, dia akan menikah dengan pria lain yang dicintainya" rendy
"Justru dengan kau melepas dia, dia akan hancur di manfaatkan oleh lelaki lain. Bagaimana tidak, otaknya yang minim dan tingkahnya yang gila akan mudah dipermainkan" jelas refan
"Huhh, entahlah. Mungkin mulai hari ini aku akan mencoba mundur, agar nanti tidak susah untuk melepasnya" rendy membaringkan badannya di sofa kantor sambil satu lengannya menutup matanya
'Kau telah berjuang sangat keras ka. Tapi ku selalu berdoa agar kau tetap kuat mempertahankannya' ~ refan dalam hati
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Wife
RomanceMenjadi seorang istri dari pria yang kadar ketampanannya itu melebihi dewa. Bagaimana rasanya? . .
