"Aku akan menemui orang tua mu besok" ucap bella
"Jangan besok. Aku belum berbicara pada orang tuaku" jawab refan
"Lah kenapa harus bicara? Bukannya orang tua kamu tau, aku pacar kamu?" bella
"Iya tau, tapi kan aku belum berbicara perihal pernikahan dengan mereka. Pasti mereka akan kaget ketika kamu datang tiba2 menentukan tanggal pernikahan" sela refan
"Yaudah kamu bilang malam ini sama orang tua kamu, jadi besok aku akan kerumah kamu" ucap bella bersemangat
"Ngga sayangg, kasih aku waktu yaa. Ngomongin pernikahan harus pas waktunya. Ga sembarangan" jelas refan
"Kalo minggu depan gimana?" tanya bella
"Emm aku akan kasih tau kamu kalau aku udah bicara dengan orang tuaku" jawab refan dengan hati2 namun berhasil membuat bella terpukul
"Segitu sulitnya ya kamu nikahin aku?" satu, dua tetes mata berhasil jatuh dari kelopak mata bella
"Bukan begitu sayang.." terpotong
"Dari tadi kamu bilang bukan begitu bukan begitu, lalu apa? Apa aku ga pantas nikah sama kamu? Apa kamu ga berniat nikahin aku? Semenjak kejadian kemaren dan kamu janji bakalan nikahin aku. Tapi pas aku mau kerumah kamu, kamu bilang nanti nanti nanti, nanti kapan? Nanti pas aku sama orang lain?" bella berdiri dari duduknya, ia berniat pergi dari hadapan refan. Namun tangan refan menahan bella
"Kalau kamu ga berniat nikahin aku, berhenti ditempatmu. Aku akan pergi darimu" bella yang mencoba melepaskan genggaman tangan refan
.
"Kau sedang apa disini?" tanya rendy pada refan yang terbaring di sofa ruang kantor rendy
"Pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu" refan
"Hey!! Ini ruanganku. Kenapa kau menyuruhku pergi. Kau yang harusnya pergi" rendy berjalan menuju kursi keagungannya
"Ka.." refan bangun dan duduk
"Hm?" rendy menjawab dengan gumaman sembari mengecek berkasnya
"Bella ingin dinikahi" lirih refan
"Apa? Kau ini manusia atau apa? Semua wanita pasti ingin dinikahi sama pasangannya. Apalagi sudah berhubungan bertahun2" kali ini pandangan rendy tertuju pada refan dengan tatapan sangat tajam
"Aku belum siap ka" refan benar2 tak berdaya
"Apa yang membuat kau belum siap?" tanya rendy
"Banyak ka" kali ini refan berdiri dan berjalan kearah pojok kantor rendy yang memperlihatkan pemandangan jalanan
"Kau mengajaknya berkencan dan menjadikan dia satu2 nya dihidupmu, bagaimana bisa kau belum siap untuk menikahinya? Dengan tanpa alasan" ujar rendy
"Entahlah ka, aku takut" refan
"Apa yang membuat kamu takut?" rendy
"Kata orang lain diawal pernikahan selalu ada godaan. Aku belum siap menghadapinya" refan
"Fan, kau tidak perlu mendengarkan cerita orang lain. Belum tentu kau mengalami apa yang mereka alami. Kau lihat aku, mimi begitu luar biasa mengujiku. Sampai aku berniat akan menceraikannya. Tapi aku tahan, aku hadapi semuanya. Dan sekarang lihat, aku bahkan tidak bisa jauh darinya. Padahal aku belum mendapatkan hak ku dari mimi. Intinya kita harus sabar. Jalani aja. Kalau kau lelah, kau tidur saja. Dan bangun seperti tak ada masalah. Aku selalu melakukan itu setiap hari" jelas rendy
"Tapi aku bukan kaka, aku bukan kaka yang sabar" elak refan
"Kalau kau mencintai dan menyayanginya, kau akan lebih sabar" rendy
"Tapi ka.." terpotong
"Nikahi, atau tidak sama sekali" rendy
Refan hanya diam, ia mencintai bella. Tapi dirinya belum siap dengan apa yang ia takutkan nantinya.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Wife
Storie d'amoreMenjadi seorang istri dari pria yang kadar ketampanannya itu melebihi dewa. Bagaimana rasanya? . .
