chapter 12

8.6K 639 44
                                        

"Makan dulu, Rey," kata Bryan menyodorkan semangkuk bubur yang dibuatkan oleh Bi Ina. Reyhan yang memang belum tertidur pulaspun membuka matanya dan menatap malas pada Bryan.

"Lo aja."

"Gua nanti. Tugas gua sekarang jagain dulu, mastiin lo makan, minum obat dan istirahat," tutur Bryan panjang lebar.

"Bangun!" suruh Bryan dan Reyhan menurut dan membawa mangkuk yang ada ditangan Bryan.

"Gak disupain aja sama gua?" tanya Bryan yang membuat Reyhan mendelik.

"Gua bukan bocah," sahutnya dan menyuapkan bubur hangat itu.

"Yaudah. Lo makan gua mandi dulu," kata Bryan yang diangguki Reyhan. Bryan pergi kekamarnya untuk membersihkan badannya.

Setelah mandi, Bryan kembali kekamar Reyhan untuk mengecek keadaan adik bungsunya.

"Udah maknnya?" tanya Bryan pada Reyhan yang sedang bersandar dan bermain game.

Mendengar suara dan perkataan Bryan, Reyhan pun hanya mengangguk. "Siapa yang suruh main game?" tanya Bryan dengan dingin. Ia pun sudah terduduk disamping Reyhan.

"Apaan?" tanya Reyhan dengan polos.

"Lo lagi sakit bukannya istirahat kenapa malah ngegame?" kesal Bryan.

"Cuma sakit perut doang," balas Reyhan yang masih asik dengan game nya.

"Kalau makin parah gimana? Gua gak mau ya lo buat Ayah sama Mamah khawatir, cukup kondisi Gibran aja yang buat mereka khawatir," jelas Bryan.

"Gua gak papa, lagian cuma main game gak akan buat gua makin parah. Cuma sakit perut doang, Bang," kesal Reyhan.

"Capek gua ngomong sama lo," ketus Bryan yang langsung berdiri dan menatap kesal Reyhan.

"Yaudah gak usah ngomong sama gua lah, Bang."

"Terserah, kalau ada apa-apa jangan ngadu sama gua," keluh Bryan dan meninggalkan Reyhan sendiri dengan kesal.

Bryan duduk disopa kecil yang ada diruang belajarnya. Ia memijit keningnya. Ia sangat ingin kerumah sakit saat ini, namun melihat kondisi Reyhan yang juga sakit, membuat Bryan menimang nimang. Dia kesal pada Reyhan tapi ia tak tega meninggalkannya. Apalagi nenek dan kakeknya juga barusan pergi kerumah sakit.

Reyhan itu manja kalau lagi sakit, tapi gak manja pada Bryan. Mungkin karena gengsinya tinggi.

Dari pada pusing memikirkan kondisi Reyhan dan Gibran, Bryan membaringkan badannya dan menutup matanya perlahan hingga membawanya kealam mimpi.

"Denn.. Bryan," panggil Bi Ina pada Bryan yang tertidur. Bryan membuka matanya dan kaget melihat bibinya.

"Hemm. Ada apa Bi? Aku ngantuk banget," ringisnya dan membawa badannya untuk bangun.

"Itu loh, ada Oma kesini. Dirumah ini kan gak ada nyonya gak ada tuan. Bibi bingung," jelasnya dengan menampilkan wajah yang kelihatan bingung.

"Dia mau ngapain lagi sih, Bi?" kesal Bryan.

"Hus.. Den kalau ngomong jangan gitu ah."

"Ya terus mau ngapain dia? Sekarang Omanya dimana?"

"Ada diruang tamu, Aden samperin ya biar Bibi buat minuman." Bryan mengangguk dan membiarkan Bi Ina pergi untuk membuat minuman.

"Ganggu istirahat orang aja," dumel Bryan sambil menuruni anak tangga.

Dengan malas Bryanpun menghampiri sang oma yang kini terduduk manis,dengan itu Bryanpun duduk dihadapannya.

Gibran Zaidan || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang