10 Agustus tiba.Besok adalah hari keberangkatan Bryan keAmerika untuk melanjutkan kuliahnya disana.
Malam ini sederet keluarga dan para sahabat sedang berkumpul dirumah Rian,menghabiskan waktu bersama sebelum Bryan benar-benar pergi dengan waktu yang cukup lama.
Tadi sore juga sudah melakukan pengajian ibu-ibu dan anak yatim.Bryan juga sudah mengunjungi makam Gibran untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi untuk sesaat.
Bahkan dari malam sebelumnya Bryan tak henti menangis karena akan meninggalkan ayah,mamah dan keluarga juga sahabatnya.
Apalagi meninggalkan Raya yang sedang hamil tua,bahkan tinggal menunggu proses melahirkan.
"Broo..Gua sedih banget deh"celetuk Rafa.Karibnya Bryan jika ada yang lupa.
"Alah so soan sedih lu.seneng kan lu gua pergi"Balas Bryann.
"Mana ada seneng-senengan.semenyebalkanya seorang Bryan,gua sebagai Rafa juga akan sedih bro"Jelas Rafa.
"Ya dah iya.kita kan baru ya,pisah gini"kekeh Bryan.
Sahabat dekat Bryan hanyalah Rafa,begitupun sebaliknya.bukan bearti tak mempunyai banyak teman.mereka saling nyaman dengan persahatan mereka berdua .
"Hooh"
"Lu berangkat kapan?"Tanya Bryan.
Rafa akan melanjutkan studynya diUGM,tapi Rafa masih diJakarta.
"Nanti tanggal 14-san.kemarin kan gua udah kesana juga"katanya.
"Yang bener lu belajarnya,malu-maluin SMA kita,kalau lu kuliah kagak bener"celetuk Bryan.
"YaAlloh.gua bakal seriuslah,gila aja.sayang biaya bro,biayanya gak murah soalnya"kekehnya.
"Akhirnya otak dengkul lu bisa mikir"
"SiAnying"
"Lu duluan gih kebelakang,gua mau nyusul adek gua yang nyungsep dikasur"kata Bryan.
Rafa mengangguk.Ada acara bbquan,banyak teman-teman alumnis kelas Bryan juga yang ikut hadir atas kemauan Bryan.itu juga sebagian karena sebagiannya lagi udah ada yang mencar.
"Ayah"panggil Bryan.
Rian menengok dan tersenyum."sini duduk,ayah mau ngobrol dulu sama kamu"ajak Rian.Bryanpun duduk disebelah Rian.
"Gimana?udah siap semuanya?"Tanya Rian pada Bryan.
"Siap apanya?"tanya Bryan.
"Ko malah nanya balik sama ayah"kekehnya.
"Hehe..udag kok,yah.ingsaAlloh kakak dah siap"katanya dengan semangat.
"Belajar yang bener,biar cepet pulang"
"Baru aja besok mau berangkat,udah ngomongin pulang aja"kata Bryan.
"Ayah tuh sedih kamu udah dewasa.dulu kamu masih pendek banget,eh sekarang udah tinggi.dulu kamu jajan kedepan aja mau ayah anter terus,sekarang malah mau hidup sendiri dinegeri orang."
"Ayah..aku kan tumbuh,masa ia pendek terus.gaj apa-apalah tinggi aku pasti ditikung sama tingginya si Rey,tuh anak udah tinggi apalagi nanti."kekehnya.
Rian tersenyum,memang benar."tapi,kalau dulu aku gak bisa kemana-mana sendiri bukan bearti sekarang aku gak bisa kemana-mana sendiri kan yah?.aku udah dewasa,aku mau masa depan aku baik dan bisa buat bangga ayah sama mamah,mungkin dengan cara ini jalan satu-satunya"jelas Bryan.
"Bryan janji bakal belajar dengan benar,gak akan bolos.Bryan akan belajar terus,juga gak akan lupain kewajiban dan hak-hak aku yang lainnya"lanjutnya.
"Aku akan rajin solat,wajib juga sunnahnya seperti apa yang ayah ajarkan,aku juga akan senyum keorang.aku bakal membatasi pergaulan yang gak baik.aku janji akan jadi anak yang baik"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gibran Zaidan || END
Ficção AdolescenteSquel Gibran || Book Dua ||Sedang Revisi "Hidup dengan harapan, namun dikalahkan oleh harapan, lantas?" 11 Mei 2020-19 Agustus 2020 2 januari 2022-
