[20]

1.3K 242 98
                                        

[Happy reading. Pelan-pelan ya bacanya 😄.]


















"Kamu saya pecat."





Perkataan itu masih baru banget terngiang-ngiang di kepala dinara saat inj. Pupil matanya terlihat bergetar dan tangannya terkepal kuat di samping kanan kirinya. Badannya jadi terasa berat banget, ketika dhirga membentaknya dan menyalahkan semua ini pada dirinya. Padahal jika ditelisik bukan sepenuhnya dinara.

Dinara udah ngerasain sesak banget di dada, ditambah lagi dia udah nahan tangis daritadi. Alhasil, dia cuma bisa nundukin kepalanya, terus menumpu telapak tangannya di lutut. Helaan napasnya memburu dan ada air di pelupuk matanya.

Meskipun dokter sudah mengatakan kalo jamjam udah tidak apa-apa, tetapi tetap aja dinara ketakutan. Dia udah naruh jamjam ke situasi bahaya. Dia hampir jadi tersangka atas kejadian mengerikan tadi.

Dinara terus-terusan menggelengkan kepalanya dan menahan isakan keluar dari bibirnya menggunakan punggung tangan.

Sakit hati gini banget rasanya. Gak enak.

Seumur hidupnya dia punya ketakutan terbesar terhadap air, dan sekarang ia sudah mempunyai ketakutan yang lain.

Apa yang ia dapatkan setelah ini?

Keluarga yunandra pasti akan membencinya karena hampir mencelakakan salah satu cucu dari keluarga itu. Udah dibayangkan, Yeji pasti udah gak bakal mau nemuin dia lagi. Dhirga udah benci sama dia setengah mati.

Gadis itu sekarang berusaha menopang badannya dan ingin berdiri. Dinara berjalan pelan mendekati pintu IGD yang mana disana ada kaca yang menembus ruangan tersebut. Ia bisa melihat dari pintu ketika dhirga memancarkan sirat kekhawatiran dan cemas sambil menciumi tangan anaknya.

Seakan dia seperti tidak tau diri, pikirnya, dinara akhirnya memilih untuk pergi dari sana. Sangat tidak masuk akal jika ia memasuki ruangan tersebut dan menanyai keadaan jamjam.

Dengan perasaan dan pikiran tak menentu, dinara meninggalkan koridor itu sambil berlari kecil. Pengen banget meluk jamjam tadi, tapi ya, gak bisa.

Sampai di luar, dinara gak bisa membendung tangisnya. Gadis itu menahan suara tangisannya agar tidak menarik perhatian orang-orang.

"Jamjam, maafin kak nara..."

"Jamjam maaf, kak nara gak sengaja..."

"Kak nara bodoh gak ngikutin perintah papanya jamjam..."

"Kak nara minta maaf karena udah nyelakain jamjam..."

Gumamnya.

Ia memilih buat duduk di salah satu bangku taman di rumah sakit itu. Masa bodo dengan orang-orang yang melihatnya aneh. Dinara gak peduli itu semua. Yang ia pedulikan adalah batita itu, jamjam.

Gak tau harus apa, akhirnya dinara gak kuat lagi buat nahan rasa penyesalan itu. Dia hanya bisa menangis sambil menggumam kata maaf terus-terusan.

Seharusnya tadi ia tidak membeli makanan dari luar.

Seharusnya tadi ia memasak saja untuk jamjam.

Seharusnya ia tidak terbujuk dengan keinginannya sendiri dan mengesampingkan keselamatan jamjam.

Terlalu kata banyak seharusnya tapi sudah tidak bisa terlaksana, karena sudah terjadi begitu saja.

Apa setelah ini jamjam bakal benci sama dia?

Apa setelah ini dia gak bisa lagi ngeliat jamjam?

Dinara semakin terisak kalo kenyataan itu memang sudah benar adanya. Dhirga yang memecatnya sudah mengeluarkan pernyataan mutlak, kalo ia sudah tidak diperbolehkan lagi untuk merawat jamjam.

Babysitter JamjamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang