13.

1K 78 3
                                        

Irgi membukakan pintu belakang, "Selamat sore, Tuan" Akbar menganguk lalu masuk ke dalam mobil, Irgi menutup kembali pintu belakang kemudian memutari mobil lalu duduk di kursi kemudi.

Irgi melirik ke atas, dari kaca terlihat bahwa Akbar sedang banyak pikiran, "Tuan, kita langsung pulang atau---"

"Jalan saja," ucap Akbar agak dingin

"B-baik," Irgi menghidupkan mesin mobil lalu melajukannya keluar dari parkiran kampus, sekarang dia bingung harus pergi kemana jika begini?

"Berhenti," ucap Akbar tiba-tiba, tanpa pikir panjang Irgi langsung menginjak rem dan untung saja di belakang tidak ada kendaraan atau apapun itu yang bisa menyebabkan kecelakaan terjadi.

"Ada apa, Tuan?"

"Lihat, dia sedang bersama sekelompok pria dewasa, aku penasaran apa yang sedang dilakukannya disana bersama para pria tersebut, " Akbar langsung keluar dari mobil lalu berjalan menuju warung kopi dimana gadisnya berada. Irgi menepikan mobil terlebih dahulu baru setelah itu ikut keluar.

Akbar duduk di warung makan dekat dengan warung kopi dimana gadisnya berada---bersebelahan. Tidak mungkin jika dia mampir di satu tempat dimana gadisnya berada karena dia hanya ingin mencari tau bukan sengaja ingin mampir. "Duduklah,"

"Tidak, saya---"

Akbar menghela napas, mendongak---tatapan Akbar tajam ke arah Irgi yang banyak protes, "Duduk,"

Tidak ingin mengambil resiko, memilih cari aman, Irgi langsung duduk di kursi kosong. Ikut memperhatikan objek yang sudah berhasil menarik perhatian Akbar, "Mereka?"

Akbar yang sedang fokus melihat mereka, lebih tepatnya mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan, terpaksa mengalihkan perhatiannya pada Irgi yang sepertinya tau akan sesuatu, "Ada apa dengan mereka?"

"Tuan, apakah ini mimpi atau---aw!" Irgi meringis menahan rasa sakit saat Akbar menendang tulang kakinya cukup kuat. Kakinya tidak melakukan kesalahan, tapi kenapa?

"Ini nyata, dan saat ini aku sedang serius jadi jangan sampai kau tidak fokus," ucap Akbar dengan tampang yang sangat serius, sedang tidak ingin bercanda.

Glek!

Irgi mencoba untuk tetap tenang, "M-maaf, Tuan"

"Sekarang katakan, apa yang kau maksud dengan mereka?"

"Chen, pria yang pernah berkunjung ke mansion utama, Tuan ingat 'kan?"

"Iya, lalu?"

"Dia orangnya!"

"Lalu, apa kau tau itu siapa?" tanya Akbar lagi, Irgi beralih melihat orang yang dimaksud, refleks kedua matanya melotot.

Deg!

"Tuan, dia adalah orang yang patut kita waspadai termasuk Chen dan Dikying, mereka bertiga sepertinya sangatlah berbahaya bagi kita dan mungkin juga bagi Tuan Besar,"

***

"Apa maksud semua ini?" tanya Intan yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya buka suara, sedari tadi Intan bingung harus bagaimana karena situasi cukup canggung walaupun saudaranya ada. Tapi tetap saja, rasanya dia ingin pergi saja dari tempat ini apalagi berada di situasi yang sangat tidak nyaman

Semua perhatian langsung tertuju padanya, itu membuatnya sangat malu karena jadi pusat perhatian.

"Adik manis, tidak terasa sudah tumbuh besar ya sekarang padahal dulu kau setinggi pinggangku tapi sekarang kau sudah jadi gadis cantik," ujar Peng, terharu karena adik manisnya ini sudah tumbuh besar, itu berarti, sekarang dirinya sudah tua!?

"Kau tidak mengenalku ya?" ujar Peng lagi, melihat Intan yang sepertinya mencoba untuk mengingat siapa pria tampan ini yang punya banyak pesona, siapa lagi kalau bukan dirinya?

"Kau tidak perlu mengingatnya, tenang saja ...lagi pula itu percuma karena kita bertemu hanya sekali, jadi pantas saja kalau kau tidak mengingatnya,"

"Maaf" ucap Intan, merasa sangat bersalah tapi dia memang tidak tau sama sekali siapa pria itu?

Peng menganguk, menghela napas panjang karena dia akan berbicara serius kali ini, "Langsung saja karena waktunya sudah mepet. Dikying, sekarang aku sedang belajar menyamar dan ternyata itu berhasil, dari penampilan dan suara berhasil karena terbukti kau sampai tidak sadar bahwa ternyata itu adalah aku,"

"Intan, aku ini adalah partner kerja saudaramu, Sera. Kita sudah lama saling kenal, aku juga yang paling tua diantara kalian tapi aku masih sendiri dan saudaramu yang paling muda diantara aku dan Chen tapi dia sudah dua kali menikah, tidak adil!"

"Kak Chen, belum menikah?" celetuk Intan, suasana langsung hening, tidak ada yang berani menjawab.

"Saya memutuskan untuk tidak menikah, saya hanya ingin fokus pada pekerjaan sekaligus tanggung jawab saya,"

"Kak, memang menikah itu tidak mudah tapi jika belum siap sekarang mungkin bisa nanti 'kan?"

"Sekarang maupun nanti sama saja, keputusan saya sudah bulat untuk tidak menikah,"

"Pacar?"

"Tidak ada,"

"Satupun?" tanya Intan lagi, Chen menganguk.

"Kak Chen, masih normal 'kan?" pertanyaan tersebut berhasil membuat sebagian dari mereka terkejut, Peng dan Sera sampai tersedak saat sedang minum.

"Tentu saja, saya sangat sehat walaupun sudah beberapa kali terluka karena pekerjaan,"

"Kak Chen, apa tidak sayang?"

"Sayang?"

"Iya, apa tidak mau punya keluarga kecil dimana nanti bisa menua bersama dengan anak istri, berkeluarga juga tidak terlalu buruk"

Chen menghela napas, "Saya sangat menyukai kakak kamu, jadi bagaimana?"

Dikying yang sedari tadi menyimak dengan tenang seketika terkejut mendengar kenyataa  yang satu ini..

"Apa?"

Chen tersenyum kecil, "Sampaikan pada kakakmu, saya rela di madu asalkan bisa terus bersamanya,"

Deg!

Intan terdiam sesaat, "Tapi 'kan kakak sudah menikah..."

"Kamu sudah lupa apa yang sudah saya katakan barusan?"

Sera menyimpan gelasnya di meja dengan kasar, sudah cukup, reuni ini tidak sesuai dengan ekspetasinya---yang ada kacau balau, "Chen hanya bercanda, jangan kamu anggap serius. Kamu termasuk kita sendiri juga tidak bisa mengaturnya, biarkan saja selain keras kepala karena itu juga sudah menjadi keputusannya, jangan memaksanya untuk mengikuti apa yang menurut kamu bagus tapi bisa saja tidak baginya,"

Intan menunduk, "Maaf,"

Chen tersenyum kecil, "Tidak papa,"

"Dikying, kenapa kau diam saja?" tanya Peng, penasaran kenapa anak baru ini diam saja dari tadi, tidak makan ataupun minum, anak baru ini tidak se-rakus tadi.

"Saya baik-baik saja," ucap Dikying, yang dikatakannya itu tidak benar karena yang sebenarnya terjadi adalah hatinya terasa sangat sakit, dia terluka.

AKBAR INTAN |End & Proses Revisi|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang