2.6

751 194 5
                                        

Wonjin mendudukkan aku di sofa dengan nafas masih tersenggal sementara aku sudah mentertawakannya sedari tadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Wonjin mendudukkan aku di sofa dengan nafas masih tersenggal sementara aku sudah mentertawakannya sedari tadi.

"Tuan nona kamarnya suda bibi bersihkan." Kata Bibi Jung, penjaga villa yang Papa Jongsuk titahkan selama ini.

"Ah ne. Terima kasih bibi." Kata Wonjin sambil membungkuk sopan bersamaku.

Bibi Jung hanya membalas membungkuk sopan dan pamit pergi sementara suaminya Paman Jung menjaga di pos depan villa ini.

"Ayo ke kamar sekalian pijit punggungku." Ajak Wonjin sambil menarik tanganku mengikutinya menuju kamar kami yang letaknya sepertinya di lantai atas.

"Tapi aku cape Wonjinie."

"Tidak ada tapi. Pokoknya harus tanggung jawab ya. Punggungku sakit sekali tahu karna menggendongmu sampai villa."

"Iya iya. Dasar perhitungan."

"Biarin." Katanya menyebalkan yang hanya aku tanggapi dengan dengusan karna sibuk melihat interior villa ini yang bagus sekali. Semua tembok diganti dengan kaca yang membuatku masih bisa melihat suasana pegunungan.

Kamar kami juga sangat indah. Rasanya jadi seperti bulan madu eh apa yang kau pikirkan Bella!!! Sadar sadar!!!!

"Kenapa memerah begitu? Berpikiran mesum ya?" Aku terkesiap dan langsung menggeplak bahu Wonjin beberapa kali.

"Aduh iya iya maaf." Ringgisnya sambil menahan kedua tanganku dan mengajakku duduk di tepi ranjang, "Nah sekarang pijit punggungku." Katanya sambil duduk membelakangi dan mulai membuka kemeja seragamnya.

Glup

Aku menelan salivaku susah payah. Kenapa suasananya jadi aneh begini?!!!

"Ayo pijit Bell."

"I-iya iya." Aku pun mulai memijat punggung Wonjin sampai tetiba saja ia beranjak berdiri, "Eh mau kemana?"

"Kamar mandi." Katanya cepat dan tak sengaja aku melihat celana seragamnya mengembung, "Yak!!! Kau berpikiran mesum ya!!"

Wonjin tak menjawab dan langsung menutup pintu kamar mandi sementara wajahku sudah panas sekali. Ya ampun apa-apaan tadi itu!!!

Aku lantas segera keluar dari kamar untuk melihat-lihat apa yang ada di villa ini dari pada diam di kamar bisa-bisa habis dilumat Wonjin.

Terus berkeliling sampai terhenti pada piano besar berwarna hitam mengkilat yang terarah pada halaman belakang. Saat duduk di bangku piano aku langsung disuguhi pemandangan taman bunga mawar yang indah dan bertekat besok pagi akan pergi bermain disana.

Mendadak aku jadi membayangkan bagaimana Wonjin ketika bermain piano disini. Sepertinya sangat membahagiakan. "Jangan melamun." Aku terkesiap dan mendapati Wonjin juga ikut duduk disampingku dalam keadaan tubuh yang sudah terbalut piama.

"Dasar curang mandi tidak bilang-bilang."

"Terus mau mandi bersama begitu?"

"Ti-tidak. Maksudku--"

Cup

Wonjin menciumku sekilas, "Kenapa cantik sekali, sih. Bawaannya jadi khilaf terus."

"Wonjin!!"

Wonjin hanya terkekeh kecil dan mengusak suraiku lembut, "Jangan khawatir, aku akan melakukan hal itu nanti kalau kita sudah legal."

"Yak jangan membahas itu dulu!"

"Iya iya... aku kan hanya ingin memperjelas saja takutnya kau ini berpikiran kemana-mana karna insiden tadi."

Aku hanya berdeham pelan dan menekan tuts tuts piano sembarangan untuk mengalihkan rasa gugupku. "Kau bisa bermain piano?"

"Tidak terlalu, sih. Hanya bisa memainkan satu lagu."

"Coba mainkan, aku ingin mendengarnya."

"Boleh, apapun untuk suamiku." Kataku yang perlahan mulai memainkan piano dengan satu lagu yang pernah Kak Seulbi ajarkan.

Aku menoleh kesamping untuk melihat reaksi Wonjin yang kini malah menatap kedua tanganku dengan sendu. "Wonjin..." Aku berhenti dan segera menariknya kedalam pelukanku.

Aku bisa merasakan tubuh Wonjin sedikit bergetar dan pundakku yang basah. Sudah pasti kini ia tengah menangis tanpa suara, "Maaf... maafkan aku."

"Tidak, jangan minta maaf. Bukan salahmu." Aku malah ikut menangis dan semakin memeluknya yang kini terlihat sangat rapuh.

"Aku rindu bermain piano lagi Bell... rasanya seperti sudah berabad-abad lamanya padahal baru beberapa bulan aku hiatus."

"Aku ingin bermain piano lagi. Ingin sekali tapi tak akan pernah bisa karna kedua tangan besiku ini. Aku harus bagaimana? Ini semakin menyiksaku Bell." []

" []

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
RECOVERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang