2.9

767 188 20
                                        

Minhee langsung meninju wajah Wonjin sampai tubuhnya mundur beberapa langkah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Minhee langsung meninju wajah Wonjin sampai tubuhnya mundur beberapa langkah. "Bella?" Minhee mendekat dengan iris hitam jelaganya terpaku sesaat pada leherku.

"Bajingan kau Ham Wonjin!!!" Minhee kembali meninju Wonjin keras sekali sampai tubuh Wonjin limbung terbaring dilantai dan terus meninjunya sampai Wonjin terbatuk darah.

Wonjin malah terkekeh sarkas membiarkan Minhee meninjunya terus menerus, "Kau sialan!! Berani sekali kau menyentuhnya!!"

"Dia istriku Kang Minhee. Sudah sepantasnya kami melakukan hal itu."

Minhee mencengkram kerah kemeja yang Wonjin pakai erat, "Apa ini balasan yang pernah kau katakan itu Ham?"

"Mungkin."

"Sialan!! Aku tidak pernah menyentuh Hana keparat!" Minhee kembali meninju Wonjin bertubi-tubi yang membuatku memberanikan diri mendekat menghentikan Minhee.

"Sudah Minhee. Sudah." Aku meraih kepalan tangan Minhee yang melayang siap meninju Wonjin kembali, "Kumohon berhentilah Hee..." Ucapku yang ntah sejak kapan air mata sudah jatuh berkelindan memenuhi wajahku.

Iris hitam jelaga Minhee menatapku redup lalu perlahan bangkit menjauh dari Wonjin yang masih terbaring dilantai dengan wajah penuh lebam, "Kau harus ingat Ham, kau akan menuai apa yang sudah kau tabur. Ingat itu Ham Wonjin."

Selepas berkata begitu ia berjalan menghampiriku dan menghapus air mataku lembut sekali seolah aku ini akan pecah berserak kalau ia sentuh berlebihan, "Mianhae..." Lirihnya lalu membuka jaket yang ia pakai dan memakaikannya padaku. "Ayo pulanglah bersamaku, kau mau kan?"

"Pergi saja dengannya, lagi pula aku sudah puas memakaimu Kim." Ucap Wonjin sambil bangkit dan pergi begitu saja kearah kamar.

Minhee akan mengejar meninjunya lagi yang langsung aku cekal satu tangannya erat, "Mulutnya harus kurobek Bella. Dia--"

"Sudah Hee.. sudah aku--" Aku tak sanggup meneruskan perkataanku karna lesakkan isak tangis yang tidak bisa kubendung lagi. Aku tak mengerti dengan semua rentetan kejadian tadi. Begitu membingungkan dan menyesakkan.

Minhee membawaku kedalam pelukannya dan mengusap punggungku lembut, "Sstt uljimma... kau tak pantas menangisi seseorang sepertinya Bell." Aku malah semakin terisak dan meremat kaus depan yang Minhee pakai erat.

"Ayo pergilah bersamaku Bell, tinggalkan Wonjin okay?"

Seharusnya aku mengatakan ya dan pergi sejauh mungkin dari Wonjin yang sudah pasti dengan telak ingin menghancurkanku tapi bodohnya aku malah menggeleng dan melepaskan pelukan Minhee yang menatapku tak habis pikir.

"Kau masokis? Suka disakiti huh?!"

"Aku mencintainya Hee, mianhae..."

"Persetan dengan cinta Kim! Kau harus tahu dia dan Hana--"

"Cukup!! Sudah cukup Kang Minhee!! Berhenti ikut campur urusanku!! Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri!!" Kataku keras yang sangat tidak tahu diri sekali yang bisa kulihat air muka Minhee semakin keruh dengan rahang kian mengeras.

"Ara. Araseo. Aku tidak akan pernah ikut campur urusanmu lagi Kim." Minhee beranjak pergi keluar dari villa tanpa menatapku lagi.

"Wah kenapa ditolak? Padahal sudah kuberi kesempatan Kim." Wonjin tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangku membuatku terkesiap.

"Wonjin tolong jangan begini..."

"Terus aku harus bagaimana hm? Menjadi Wonjin si baik hati lagi?"

"Wonjin hiksss kumohon...." Aku terisak lagi yang Wonjin tanggapi dengan kekehan sinis yang menusuk relung hati.

"Aku sudah muak berpura-pura baik padamu Kim!!!" Teriaknya membuat hatiku kian mengepal erat. Rasanya sesak sekali.

Lalu Wonjin menarik rahangku agar kedua iris kami bertemu, "Ingat ini baik-baik Kim. Aku sangat membencimu." []

" []

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
RECOVERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang