Bella pikir Wonjin akan memulihkan rasa sakitnya tapi alih-alih begitu si suami malah menjadi bom waktu untuk kehancuran hidupnya.
⚠️ TRIGGER WARNING - DEPICTION OF MANIPULATION, EMOTIONAL/PHYSICAL ABUSE AND STRONG LANGUAGE THAT WILL NOT BE SUITABLE...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku terbangun dan mendapati wajah Wonjin begitu dekat denganku sampai aku bisa merasakan deru nafasnya menerpa wajahku.
Irisku perlahan jatuh pada kedua belah bibir tebalnya yang sedikit membuka lucu. Ah, aku jadi tak bisa marah lebih lama.
Wonjin terlihat menggemaskan sekali seperti bayi.
Aku semakin mendekatkan diri melesakkan wajahku di dadanya untuk mendengar debaran jantungnya yang mengalun lembut.
Kapan ya debaran jantungnya berdebar anomali ketika bersamaku?
Aku merasakan satu tangan besi Wonjin mengusap punggungku lembut, "Kenapa terbangun hm? Mimpi buruk?" Tanyanya serak yang membuat jantungku berdebar tak karuan.
"Tidak tahu. Aku terbangun tiba-tiba dan tidak bisa tidur lagi."
"Mau kubuatkan susu coklat?"
"Yah kalau tidak merepotkan."
"Tentu saja tidak sayang." Aku merasakan bibir tebal Wonjin mengecup puncak kepalaku.
Wonjin perlahan mengurai pelukan, mengecup keningku dan bangkit dari kasur.
"Gendong." Kataku yang membuat kedua mata Wonjin membola lucu.
"Serius?"
"Iya seribu rius malah."
"Ya ampun Bell. Aku gak mau ya encok di usia muda."
"Oh gitu yaudah." Aku membalikkan tubuhku merajuk.