1.2

906 238 2
                                        

Aku terbangun dan mendapati wajah Wonjin begitu dekat denganku sampai aku bisa merasakan deru nafasnya menerpa wajahku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku terbangun dan mendapati wajah Wonjin begitu dekat denganku sampai aku bisa merasakan deru nafasnya menerpa wajahku.

Irisku perlahan jatuh pada kedua belah bibir tebalnya yang sedikit membuka lucu. Ah, aku jadi tak bisa marah lebih lama.

Wonjin terlihat menggemaskan sekali seperti bayi.

Aku semakin mendekatkan diri melesakkan wajahku di dadanya untuk mendengar debaran jantungnya yang mengalun lembut.

Kapan ya debaran jantungnya berdebar anomali ketika bersamaku?

Aku merasakan satu tangan besi Wonjin mengusap punggungku lembut, "Kenapa terbangun hm? Mimpi buruk?" Tanyanya serak yang membuat jantungku berdebar tak karuan.

"Tidak tahu. Aku terbangun tiba-tiba dan tidak bisa tidur lagi."

"Mau kubuatkan susu coklat?"

"Yah kalau tidak merepotkan."

"Tentu saja tidak sayang." Aku merasakan bibir tebal Wonjin mengecup puncak kepalaku.

Wonjin perlahan mengurai pelukan, mengecup keningku dan bangkit dari kasur.

"Gendong." Kataku yang membuat kedua mata Wonjin membola lucu.

"Serius?"

"Iya seribu rius malah."

"Ya ampun Bell. Aku gak mau ya encok di usia muda."

"Oh gitu yaudah." Aku membalikkan tubuhku merajuk.

"Okay. Ayo sini bayi besar." Wonjin semerta-merta mengangkat tubuhku seperti bayi.

"Ish Wonjin aku ingin di gendong di punggungmu."

"Oh iya iya." Wonjin menurunkanku dan aku langsung naik ke punggungnya.

"Kau ini harus makan lebih banyak Bell. Ringan sekali seperti bulu." Katanya ketika turun menapaki tangga dengan hati-hati.

"Halah gak usah merayu begitu."

"Eh hehehe..." Wonjin cengengesan dan aku melesakkan wajahku di perpotongan lehernya. Aku suka wangi Wonjin ntah kenapa.

"Geli Bella. Kau mau jatuh gelundungan."

"Abisnya Wonjin wangi dan kalau aku gelundungan awas saja kupelintir lagi bibirmu, mau?"

"Dasar istri galak."

"Biarin. Biar kau ini gak macam-macam."

"Iya iya sebahagia istriku saja..." Wonjin mengalah dan mendaratkan bokongku di meja counter dapur.

"Jangan terlalu manis."

"Ay ay capt." Wonjin manggut dengan lucunya yang baru kusadari rambutnya sudah bercabang kemana-kemana seperti baru di sengat listrik.

"Kenapa? Kalau ingin tertawa jangan ditahan nanti sakit perut." Katanya yang membuat tawa yang sedari tadi kutahan mengudara.

"Hei Bell, aku suka tawamu." []

" []

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
RECOVERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang