Bella pikir Wonjin akan memulihkan rasa sakitnya tapi alih-alih begitu si suami malah menjadi bom waktu untuk kehancuran hidupnya.
⚠️ TRIGGER WARNING - DEPICTION OF MANIPULATION, EMOTIONAL/PHYSICAL ABUSE AND STRONG LANGUAGE THAT WILL NOT BE SUITABLE...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah satu minggu, aku baru saja mendapatkan pekerjaan paruh waktu menjadi kasir di toko klontong yang tidak terlalu jauh dari rumah yang kusewa hasil tabunganku selama ini.
Berada disini membuatku bisa bernafas kembali dengan benar. Tidak terlalu sesak lagi karna tidak ada yang mengenaliku.
Suara pintu toko berdenting terbuka menampilkan Minhee yang sudah berpakaian rapih sekali, "Aku harus kembali ke Seoul." Katanya dengan seraut wajah sedih, "Tak apa kan kutinggal?"
"Tak apa Hee. Lagi pula aku sudah besar, bisa menjaga diriku sendiri."
Minhee mengulas senyum dan meminta ijin pada pemilik toko untukku bisa berbicara dengannya sebentar di luar toko.
"Aku sudah tidak bisa absen sekolah lagi Bell, Ayahku juga sudah mengamuk memintaku cepat pulang." Jelasnya dan aku hanya mengangguk mendengarkan.
"Kau bisa kan menjaga dirimu sampai aku kembali?"
"Iya Hee. Kau pikir aku ini bocah apa?" Minhee cengengesan dan menjawil hidungku yang membuatku teringat akan Wonjin.
Lelaki itu apa kabar? Apa dia merindukanku?
Aku lantas menggeleng cepat berusaha mengenyahkan segala pikiranku pada lelaki bermarga Ham itu. "Hei kenapa?"
"Tidak, tidak apa-apa Hee."
Minhee perlahan memelukku dan membuai punggungku dengan lembut, "Aku pasti akan sangat merindukanmu Bell..."
"Sekolah yang benar Hee."
"Baiklah calon istri."
Aku perlahan melepas pelukan Minhee yang menatapku bingung, "Aku bukan calon istrimu. Aku sahabatmu, bukan begitu?"
"Bella..."
"Sudahlah Hee. Kita sudah pernah membahas ini kan?" Kataku yang bisa kulihat iris hitam jelaganya kembali berpendar redup, "Tidak bisakah kau mencintaiku Bell?"
"Aku belum bisa membuka hati lagi Minhee-ah. Pergilah, aku juga ingin kau bahagia Hee."
"Aku bahagia bersamamu Bell, hanya denganmu tidak ada yang lain. Aku tidak akan seperti Wonjin. Aku tidak akan menyakitimu seperti si sialan itu. Aku akan menjagamu bukan merusakmu seperti yang telah Wonjin lakukan."
"Minhee dengar, kau tidak pantas bersamaku. Kau pantas mendapatkan gadis yang lebih baik diluaran sana."
"Kau yang terbaik untukku Bella." Minhee tetap bersikukuh dan mencengkram kedua bahuku erat, "Aku mohon biarkan aku disampingmu. Kita menua bersama Bella, kau mau kan?"
"Aku benar-benar mencintaimu dan ingin merenta bersamamu Bella-ah."
Kilasan kebersamaanku dengan Wonjin menyeruak seperti gada yang menghimpit dadaku membuatku dengan cepat menyentak kedua tangan Minhee dari bahuku. Bagaimana mungkin aku bisa menerima Minhee disaat aku tahu sendiri bahwa hatiku masih tertambat pada Wonjin.
Karna sekeras apapun aku mencoba membencinya setelah apa yang ia lakukan namun tetap saja perasaanku kukuh mencintainya bahkan merindukannya disetiap hela nafasku selama disini. "Mianhae Minhee-ah, aku tak bisa." Selepas berkata begitu aku pun beranjak berbalik untuk kembali masuk ke dalam toko namun tetiba saja pandanganku terasa berputar dan kegelapanpun menyelimutiku.
Sesaat terbangun dari pingsanku, aku sudah berada di ruang rawat, "Bella, akhirnya kau sadar juga." Minhee berjalan mendekat dan mengamit kedua tanganku lembut.
"Kenapa aku disini Hee?"
"Kau pingsan tadi karna--" Minhee menjeda sesaat dan menatapku dengan tatapan sulit yang kentara, "Kau Hamil Bella-ah, sudah dua minggu."
"A-apa?" Aku lantas memegang perutku, "Aku hamil Hee?" Tanyaku lagi untuk memastikan dan Minhee mengangguk sambil mengulas senyumnya.
Aku tak bisa untuk tidak tersenyum. Rasanya bahagia sekali dan mengusap perutku lembut karna ada anakku bersama Wonjin.
Haruskah aku memberitahunya? Apa dia akan bahagia mendengar kabarku hamil anaknya sekarang?
"Bella..."
"Ya kenapa Hee?"
"Tadi dokter bilang kandunganmu lemah. Apa lagi mengingat usiamu yang masih rentan untuk mengandung Bell, jadi jangan memaksakan diri lagi untuk bekerja. Biar aku saja yang menanggung semuanya."
"Karna aku yang akan menjadi Ayah dari anakmu itu Bella-ah." []
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.