Hari itu hari Selasa. Itu waktunya pelajaran Olahraga kelas Plan dan ada yang berbeda sebab sekarang kelas mereka digabung dengan kelas Mean. Kedua kelas dengan pakaiaj olahraga berkumpul di lapangan dan guru berdiri di hadapan mereka, menjelaskan tentang kegiatan yang akan mereka lakukan.
Mereka akan melakukan basket dan bertanding antar kelas. Ini adalag bagian dari ujian dan mereka alan mendapatkan penilaian. Sebelumnya, mereka dipasangkan berdasarkan nomor dari kedua kelas untuk melakukan pemanasan dan selanjutnya menyebutkan nomor mereka dan bergabung dengan nomor yang sama dan melalukan yang diperintahkan.
Semuanya tersentak kaget saat Mean dan Plan menyebutkan nomor yang sama sebab artinya mereka akan melakukan pemanasan bersama. Sebagian iri karena Mean dengan Plan. Ini adalah pikiran banyak lelaki yang sangat ingin menyentuh bagian tubuh Plan yang melebihi definisi keindahan itu. Mean begitu beruntung karena ia bisa menyentuhnya dengan leluasa dan mengatasnamakan gerakan pemanasan.
Yang lainnya iri karena Plan satu kelompok dengan Mean. O, siapa yang tak ingin disentuh Mean. Jiwa para perempuan itu sudah menggigil bertahun-tahun lamanya, mendambakan bahwa tubuhnya suatu hari akan disentuh oleh Mean Phiravich. Dan ini termasuk Jani, Jida, Jane dan Neena tentunya yang masuk ke dalam lima peringkat teratas perempuan tersempurna di sekolahnya.
Dan sekarang, bagaimana mungkin seorang Rathavit yang sabun untuk mandinya saja pasti tak bermerek akan membuat dirinya disentuh Phiravich yang sempurna itu.
"Siapa namamu?" tanya Mean pura-pura setelah ia berdiri di samping Plan sesuai perintah sang guru.
Plan terlihat sangat bingung. Ia menunjuk namanya dengan jarinya yang ramping, yang dijahitkan pada kaos atasan olahraganya di dada sebelah kanan tanpa mengeluarkan suaranya.
Namun, Mean tak memperhatikan yang ia tunjuk sebab matanya terpaut pada gelembung dada yang membuat sesuatu di dalam tubuhnya bergolak dan jika saja ia tak mengalihkan pandangannya, dengan segera yang ada di antara selangkangannya itu akan akan juga ikut menggembung sama seperti dada Plan yang sintal.
"Aku Mean. Mean Phiravich," ujar Mean dengan cepat mengalihkan perhatian dan ia menunjuk pada bagian dadanya juga.
"Iya," sahut Plan. Meskipun hanya sebentar dan kata-kata itu sangat pemdek sebagai sebuah jawaban, Mean bisa pastikan ia baru saja mendengar sebuah suara bidadari yang indah dam meski pendek, baginya komunikasi itu adalah sesuatu yang istimewa.
"Siapa yang akan mulai? Kau atau aku?" tanya Mean lagi saat semua diminta untuk melalukan sit-up.
"Kau saja dulu," ujar Plan sambil tersenyum. Hati Mean melambung lagi dan dengan sigap ia mengambil posisi. Plan berada di depannya, menahan lutut Mean dengan tangannya yang mungil. Guru melihat stop watch dan mulai meniup peluit sebagai tanda mulai dan semua siswa menghitung dengan keras.
Posisi mereka bertukar setelah peluit tanda selesai ditiup dan mereka mengulangi gerakan itu sampai beberapa kali dan akhirnya sit up selesai.
Sekarang gerakan peragangan. Mereka saling memunggungi dan mengaitkan tangan dan saling mengangkat satu sama lain sesuai hitungan. Tubuh mereka beradu meski hanya punggung dengan punggung tapi sebuah kehangatan menyeruak di antaranya dan itu membuat keringat Mean semakin banyak.
Pemanasan selesai. Mereka masuk ke gymnasium basket dan guru mulai mengelompokkan dengan cara yang berbeda. Kelas Mean lawan kelas Plan. Three on three dan perempuan lawan perempuan. Lelaki lawan lelaki.
Mean, Yacht, dan Prem lawan Joss, Saint, dan Zee. Permainan berlangsung ketat. Semuanya anggota tim basket dan sangat jago pula. Namun, pada akhirnya kelas Mean memenangkan pertandingan.
Sekarang perempuan lawan perempuan. Jida, Jani, dan Jane dari kelas Mean melawan Por, Sammy, dan Plan. Mereka punya kesempatan untuk bersiap sepuluh menit, waktu yang cukup untuk berkenalan khususnya tim Plan dan juga mengetahui bahwa Por dan Sammy benci olahraga dan anggota klub memasak. Hal ini sama sekali tak memberi keuntungan kepada Plan sebab lawannya adalah dua anggota tim basket, Jida dan Jani dan satu anggota atletik, Jane.
Tim pemenang sudah bisa diprediksikan dan tentu saja semuanya sudah tak punya harapan. Namun, itu berbalik saat sepuluh menit akhir pertandingan sebab tiba-tiba Plan Rathavit berubah menjadi seseorang yang lain. Ia seperti bukan dirinya yang digambarkan selama ini di sekolah sebab tiba-tiba ia tersenyum setelah ia menggelung rambutnya, dan itu semakin menekankan kecantikan dirinya.
Semuanya menatapnya terpesona dan kaget setelah dengan mudah ia merebut bola dari Jida, kapten tim basket putri yang dikenal paling kompeten dalam bermain basket. Suasana menjadi semakin memanas setelah Plan melakukan tembakan tiga angka dari tengah lapangan dengan gaya mirip dengan Midorima Shintaro dalam film anime Kuroko no Basuke. Dan tak menunggu kesempatan, Plan berlari dengan cepat mengambil bola lagi dan menunjukkan gaya streetballernya Aomine Daiki.
"Gayanya mengingatkan aku pada seseorang," ujar Yacht sambil serius mengamati permainan Plan.
"Uhm, lemparan dan permaiannya sangat luwes. Seseorang tak akan bisa melakukan itu kecuali dia lama dalam dunia basket," komentar Mean dengan mata berbinar mengamati Plan yang juga tengah sumringah bermain basket.
"Perth Tanappon," ujar Joss yang berada di sisi Yacht yang lain. Keduanya melirik ke arah Joss dan membenarkan.
"Eh, aku suka gadis misterius," ujar Joss. Mean menoleh ke arah Joss. Oke, sekarang Mean setidaknya tahu siapa pesaingnya untuk mendapatkan Plan.
Permainan selesai. Tim Plan memenangkan pertandingan dan gara-gara itu, Por dan Sammy menjadi dekat dengan Plan. Setidaknya mereka sering bertegur sapa tapi masih tak bisa untuk nongkrong atau jalan bersama sebab Plan selalu menolaknya dan menggunakan tugas belajar atau tugas taman sebagai alasan.
Sore itu seusai sekolah, Mean mendapati Plan berjalan mengikuti Joss ke belakang sekolah dan penasaran Mean mengikuti mereka. Ia bersembunyi di balik tembok tak jauh dari tempat mereka berdiri berhadapan.
"Kau belum memberikanku jawaban. Dan ini sudah lebih dari seminggu," sahut Joss. Rupanya Joss menyatakan cinta kepada Plan.
"Kau salah sangka. Aku sudah menjawabnya sejak kau bilang perasaanmu kepadaku. Aku menolaknya," ujar Plan tegas.
Mean yang mendengar hal itu membelalakkan matanya.
"Kau sudah punya pacar? Aku tak pernah melihatmu dengan seseorang," sahut Joss.
"Aku tak tertarik dengan hubungan seperti itu dan anggap saja begitu. Aku sudah punya seseorang dan dia bukan dari sekolah ini. Jadi, jangan menggangguku," sahut Plan menjelaskan.
"Ah, baiklah, cukup adil kalau begitu. Bagaimana dengan tawaranku yang lain?" tanya Joss.
"Tentang klub basket?" Plan memastikan.
"Uhm," guman Joss.
"Aku juga menolaknya. Tak ada waktu," sahut Plan lagi.
"O, sayang sekali. Tim sekolah putri kami sangat kuat," ujar Joss.
"Ya, aku tahu. Terima kasih atas ajakannya dan terima kasih karena sudah melihatku sebagai seorang perempuan." Plan wai dan kemudian ia pamit dan berlalu dari hadapan Joss.
"Hah! Gagal lagi!" guman Joss sambil menggaruk kepalanya dan ia pun pergi.
Yang tersisa hanya Mean dan ia harus menelan kesedihan karena cintanya harus berakhir sampai di sana. Plan Rathavit sudah punya pacar.
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
ROMANCE COLLECTION
عاطفيةTrack 1 This is a collection of romance short stories. Story cover by peakachupeem
