Wooshin memasukkan ponsel sebelum menerima minuman pesanannya. Kemudian cowok itu balik badan untuk meninggalkan konter dan mengedarkan tatapan untuk mencari tempat kosong. Sedikit lebih dalam terlihat beberapa meja masih banyak yang kosong. Wooshin mulai melangkah dengan tatapan yang tanpa sadar tertuju pada dua orang pemuda yang entah mengapa sedikit mencurigakan. Pemuda yang—mungkin lebih tua dari Wooshin itu—saling berbisik dan menunjuk pada suatu arah.
Wooshin mengarahkan pandangan yang mungkin menjadi objek menarik bagi dua orang tersebut. Tepat berseberangan dengan mereka, seorang cewek duduk sendiri dengan celana hotpant, dan suasana café yang cukup sepi pengunjung itu memungkinkan dua pemuda tadi bisa melihat ke arah kolong meja tinggi yang ditempati cewek itu dengan leluasa.
Wooshin mengeluarkan ponsel dan mengetikkan seseuatu pada aplikasi catatan. Lalu sambil sedikit mengerutkan dahi, Wooshin melangkahkan kakinya pada cewek itu. Seperti seseorang yang pernah ia temui, namun Wooshin tidak bisa mengingat dengan jelas siapa cewek tersebut. Bukan seseorang dari masa lalunya.
"Maaf ya gue telat," kata Wooshin sambil menggeser kursi tinggi tersebut sebelum akhirnya duduk di depan cewek yang terlihat sangat terkejut.
Cewek itu—yang sebenarnya adalah Sejeong—sedikit melamun sejak tadi.
Tidak lupa Wooshin menyodorkan ponsel untuk menunjukkan isi pesan yang ia tulis pada layar ponselnya. PURA-PURA AJA KENAL GUE. ADA DUA COWOK DI BELAKANG GUE NGELIATIN PAHA LO.
Sejeong melebarkan mata, sambil tanpa sadar, ia merapatkan kedua kakinya yang berada di bawah meja. Dengan tangan sedikit gemetar, Sejeong mengembalikan benda itu pada Wooshin yang tampak sibuk dengan minumannya dan sedikit melihat-lihat ke arah lain dengan santai.
"Lo sendirian?" tanya Wooshin kembali memulai percakapan setelah sudah menerima kembali ponselnya.
Sejeong mendekap gelas minumannya dan mengangguk pelan sambil menyeruput ice latte melalui sedotan. Mata cewek itu sontak terangkat. Dua pria yang duduk cukup jauh di belakang Wooshin tampak sudah beranjang dari tempatnya. Salah satu dari mereka bahkan sempat menoleh seperti menyadari Sejeong menatpnya. Tidak lupa pemuda itu memberikan seringai tipis yang membuat Sejeong sontak mengalihkan tatapan dengan tangan terulur untuk menggenggam tangan Wooshin yang kebetulan terbebas di atas meja.
Wooshin hanya mengangkat pandangan dari gelas ke arah Sejeong, tepat bersamaan dengan cewek itu hingga keduanya saling melempar tatapan. Sejeong tersenyum tipis. Wooshin sempat membalas senyuman itu sebelum akhirnya memutar kepala. Dilihatnya dua pemuda tadi sudah ke luar melalui pintu utama. Wooshin sampai tidak menyadari jika ternyata Rowoon sudah di sebelahkan. Menarik paksa tangan Sejeong untuk menyingkir dari tangan Wooshin.
"Nggak cukup lo ngemis cinta ke Doyoung? Dan sekarang lo mau ngerayu Wooshin?" hardik Rowoon meski tidak dengan suara keras, tapi tangannya tegas menunjuk ke arah wajah Sejeong.
Mendengar Rowoon menyebut nama Doyoung, membuat Wooshin turun dari kursi dan memaksa Rowoon untuk menurunkan tangannya.
"Dia Cuma nolong gue," ujar Sejeong. Jelas ia juga harus membela diri. "Gue bahkan nggak kenal dia siapa."
Wooshin hanya sempat menyambar ponsel yang langsung ia masukkan ke dalam saku celana, dan gelas karton minumannya yang baru berkurang sedikit sebelum diseret Rowoon untuk pergi dari sana. "Ternyata itu cewek yang tunangan sama Doyoung," pikir Wooshin yang sempat sebentar menoleh ke belakang.
***
"Bisa nggak lo tinggal di sini aja?"
Jiwoo membatalkan niatnya ketika sudah mengangkat kaleng minuman miliknya. Lantas cewek itu menoleh dan mendapati Wonwoo sedang menatapnya dalam. Jiwoo menolak dengan gelengan, pelan. "Nggak . . ." Ucapan Jiwoo terputus karena tepukan ringan pada lengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SKY AND EARTH
Fanfiction"Persahabatan gue terasa seperti bisnis." -Wonwoo "Doyoung gitu-gitu harga dirinya tinggi, mana mau sama cewek yang lebih kaya dari dia." -Taeyong "Gue cuma ngebayang gimana sahabat gue berada di posisi kayak dia, gue cuma berharap ada orang baik ya...
