"Kalo kalian berfikir kalian nggak bisa apa-apa, gue juga merasakan hal yang sama. Dan kalau kalian berfikir gue punya kuasa untuk melakukan apapun yang gue suka, kalian salah."
Wooshin menatap Sejeong dari samping ketika cewek itu mulai bersuara. Menatap dengan ekspresi datar. Tidak ingin menilai cewek itu seperti apa yang sering ia dengar dari orang lain. Wooshin tahu, Sejeong sedang menunjukkan sisi lain dari dirinya yang tidak diketahui banyak orang. Entah kedepannya hal itu akan menjadi boomerang untuk Jiwoo, atau sebaliknya. Hanya Sejeong yang memegang kendali atas diri cewek itusendiri. "Gue memang putri dari seorang pengusaha bernama Kim Youngwoon. Tapi gue hanya seorang Kim Sejeong, yang menjadi bidak catur oleh ayahnya sendiri," lanjut Sejeong. kali ini gadis itu balas menatap Wooshin.
Wooshin sendiri masih mempertahankan ekspresi datarnya. Meski sempat melebarkan mata, namun Wooshin masih bisa mengendalikan diri. Berusaha agar Sejeong tidak menyadari pergejolakan batin yang dialaminya sekarang. Satu hal yang ia tangkap dari sorot mata Sejeong, cewek itu hanya ingin di dengar.
Sejeong kembali menatap ke depan. Sebelum melanjutkan ceritanya, gadis itu menyempatkan diri untuk menghela napas. "Kalo ditanya apakah gue cinta sama Doyoung? Jawabannya 'iya'. Tapi gue masih punya harga diri. Udah cukup untuk gue ngejar cowok yang bahkan nggak ngelirik gue sama sekali."
"Tapi," kata Wooshin.
"Gue bisa lepasin Doyoung, tapi orang tua gue nggak." Sejeong berdiri setelah tadi mematahkan ucapan Wooshin.
Wooshin hanya bisa melihat punggung Sejeong yang beranjak menjauh. Saat beralih ke jam tangannya, Wooshin baru menyadari mereka sudah melalui sepuluh menit perjanjian mereka.
***
Tidak ingin menyia-nyiakan hari selama masih berada di Bandung, Doyoung dan kawan-kawan menikmati hari Minggu mereka di sebuah café. Bercanda tawa sambil menikmati rintikan hujan di luar sana. Tidak lupa Taeyong dan Yuta dengan sebatang rokok, sementara Wonwoo sambil bermain games ketika Doyoung sibuk dengan laptopnya. Suasana mereka sempat hening sementara.
Doyoung menggeser sedikit posisi laptopnya, setelah itu meraih gelasnya yang tidak jauh dari sana. Menikmati segelas es kopi siang itu. "Gimana skripsi, Bang?" tanyanya. Tentu tertuju antara Taeyong dan Yuta.
Taeyong tersenyum sambil menekan sisa rokoknya pada permukaan asbak. "Lo ada niatan ngejar skripsi dari sekarang biar bareng lulus sama gue?" ledeknya yang justru tidak menjawab pertanyaan Doyoung.
Wonwoo hanya tersenyum melihat keduanya yang kebetulan duduk di seberangnya. Cowok itu tampak lebih pendiam sejak beberapa waktu belakangan. Terlebih, suasana kembali sunyi.
Doyoung menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Ada hal yang belum ia sampaikan pada teman-temannya. "Gue mungkin bakal lulus lebih telat dibanding Wonwoo."
Yuta sampai membatalkan niat untuk menghisap rokoknya karena ucapan Doyoung yang sontak menyita perhatian dari mereka. "Kenapa?" tanya Yuta yang juga mewakili rasa penasaran Taeyong dan Wonwoo juga.
Doyoung tidak langsung menjawab. Menimbang kalimat apa yang tepat untuk ia pergunakan. Belum lagi semalam—disaat yang lain sudah tidur—dirinya dan Jungwoo terlibat obrolan serius di meja makan. Doyoung akhirnya menceritakan obrolan dirinya dengan Jungwoo.
[Flashback on]
Doyoung mendengar pintu apartment terbuka ketika tengah menyelesaikan pekerjaan mencuci beberapa gelas kotor yang tadi mereka pakai. Jungwoo yang datang, dan langsung menyusul Doyoung ke dapur. Setelah mengambil sebotor air dingin, Jungwoo menunggu Doyoung sambil duduk di salah satu kursi makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SKY AND EARTH
Fanfic"Persahabatan gue terasa seperti bisnis." -Wonwoo "Doyoung gitu-gitu harga dirinya tinggi, mana mau sama cewek yang lebih kaya dari dia." -Taeyong "Gue cuma ngebayang gimana sahabat gue berada di posisi kayak dia, gue cuma berharap ada orang baik ya...
