Bagian 11

3.1K 108 0
                                        

Kegelisahan masih menyelimuti keluargaku, karena hampir satu jam dari kedatangan rombongan keluargan Kiayi Masykur, Gus Ashfa masih belum sampai rumahku. Entah apa yang akan terjadi hari ini, sungguh aku berpasrah pada pemilik qodo' dan qodarku.

Sebuah genggaman tangan dan pelukan pun bulekku berikan untukku, mungkin beliau berusaha menenangkan hatiku. Sementara Ummiku masih sibuk menemani keluarga Gus Ashfa yang ada di ruangan yang berbeda dengan tempatku berada, hingga tak lama kemudian sepupuku datang dan membisikkan sesuatu di telinga bulekku yang aku sendiri tidak dapat mendengarkan bisikannya itu.

Ya Allah sungguh aku tidak dapat menutupi rasa cemasku, entah apa yang sepupu perempuanku itu bisikkan pada ibunya. Mungkinkah tentang Gus Ashfa yang tidak datang, dan acara pernikahan ini harus digagalkan? Fikiranku penuh tanda tanya, seketika aku terngiang dengan kejujuran Gus Ashfa kepada Umminya kalau dia mencintai wanita lain yang bernama Alya, ya mungkin saat ini Gus Ashfa sedang mengejar wanita impiannya itu, dokter muda Alya yang sangat dia cinta.

"Gus Ashfa sudah datang" bisik bulekku kemudian. "Tadi ada kecelakaan beruntun di jalan, jadi kendaraan macet total, dan handphone Gus Ashfa kehabisan baterai, sementara handphone Gus Azka ada di dalam tas istrinya, dan istrinya sudah sampai duluan di sini, makanya tadi tidak ada yang bisa di hubungi" jelas bulekku kemudian sambil tersenyum dengan mengangkat daguku menggunakan tangan lembutnya.

Lamunanku pun terhenti, prasangkaku tentang Gus Ashfa ternyata adalah sebuah kekeliruan besar, ya Allah aku sudah bersalah karena telah berprasangka buruk terhadap calon suamiku itu, meski pernikahan ini bukanlah sebuah impianku, namun hatiku terasa lega, setidaknya tak ada lagi kegelisahan di dalam hati keluargaku, apalagi ketika terdengar suara petugas pencatat nikah dari pengeras suara hendak memulai acara ijab qobul pernikahan kami.

Atas kehendak Allah aku mendengar Gus Ashfa mengucapkan kalimat ijab qobul dengan lancarnya. Dan doa serta sholawat pun terdengar setelah kalimat syah dari para saksi diucapkan.

Ada tangis haru dari beberapa tamu yang menyaksikan acara ini, dan aku pun segera diminta untuk berdiri dengab digandeng oleh bulek serta sepupuku untuk dipertemukan dengan Gus Ashfa, seorang laki-laki yang telah syah menjadi suamiku. Jantungku mulai berdegup kencang ketika hendak menemui pria itu, ya Allah sungguh aku takut bertemu dengan dia, seorang suami yang jelas-jelas aku tahu tidak pernah menginginkanku, dan ada rasa sedih di dalam hatiku karena hal itu.

Segera ku cium tangan kanannya saat aku di pertemukan dengannya, sebagai rasa taat dan baktiku karena telah menjadi makmum halalnya. Sungguh aku tak berani menatap matanya, karena aku takut menerima tatapan mata beku darinya.

Menunduk, menunduk, dan menunduk itulah yang aku lakukan saat kami diminta oleh keluarga untuk duduk bersanding berdua, tak sepatah kata pun aku ucapkan padanya, begitu juga dengan dia, tak sepatah kata pun dia ucapkan padaku, hanya senyum tipis kepada para tamu yang menyapanya, dan hingga acara selesai kita pun tidak bertegur sapa.

Bersambung

Hubbyna "Menanti Cinta"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang