BAB TARKHIM

181 1 1
                                        

تَرْخِيْمَا نِ احْذِفْ اٰخِرَالْمُنَادٰي *

كَيَا سُعَا فِيْمَنْ دَعَا سُعَادَا

※ Buanglah huruf akhirnya munada apabila membuat munada murohhom, seperti org yg bernama سُعَادَا di ucapkan يَاسُعَا.

وَجَوِّزَنْهُ مُطْلَقًا فِيْ كُلِّ مَا * اُنِّثَ بِالْهَاوَالَّذِيْ قَدْ رُخِّمَا

※ Munada yg berupa lafadz yg di muannas kan dg ha' tanish itu di perbolehkan dijadikan tarkhim secara muthlaq (baik berupa alam / bukan, baik terdiri 3 huruf / lebih).

بِحَذْفِهَا وَفِّرْهُ بَعْدُ وَاحْظُلاَ * (٦١٠)

تَرْخِيْمَا مَا مِنْ هٰذِهِ الْهَاقَدْ خَلاَ

※ Sedangkan cara membuat tarkhim nya dg membuang ha' tanish, dan hal itu sudah di anggap sempurna.

اِلاَّالرُّبَاعِيَّ فَمَا فَوْقَ الْعَلَمْ *

دُوْنَ اِضَافَةٍ وَاِسْنَادٍ مُتَمّْ

※ Dan tidak diperbolehkan membuat tarkhim dari lafadz yg bukan berupa lafadz yg di muannas kan dg ha' kecuali jika memenuhi 4 syarat yaitu:
1.terdiri dari 4 huruf keatas
2.berupa isim alam
3.tidak berupa tarkib idhofi
4.tidak berupa tarkib Isnadi.

وَمَعَ الْاٰخِرِاحْذِفِ الَّذِيْ تَلاَ * اِنْ زِيْدَلَيْنًا سَاكِنًا مُكَمِّلَا

※ Apabila lafadz yg dijadikan munada murokham terdapat ziyadah berupa hurf lain (wawu yg terletak setelah harokat dhomah, ya' yg terletak setelah kasroh, & Alif Yg terletak setelah fathah) & berada pada urutan huruf ke 4 keatas, maka cara membuat tarkhim nya dg membuang huruf akhir & huruf lain tersebut.

اَرْبَعَةً فَصَاعِدًا وَالْخُلْفُ فِيْ *

وَاوٍ وَيَاءٍ بِهِمَا فَتْحٌ قُفِيْ

※ Jika huruf lainnya berupa ي/و yg terletak setelah fathah, maka para ulama terjadi khilaf, ada yv berpendapat di buang & adapula yv tidak

وَالْعَجُزَاحْذِفْ مِنْ مُرَكَّبٍ وَقَلْ *

تَرْخِيْمُ جُمْلَةٍ وَذَاعَمْرٌو نَقَلْ

※ Org yg namanya berupa tarkib mazji bila dibuat tarkhim, maka caranya dg membuang juz yg ke 2, sedangkan alam yg berupa jumlah (tarkib Isnadi) itu tidak boleh di tarkhim, sedangkan imam Amr (imam sibaweh) memperbolehkan tetapi hukumnya qolil (sedikit terjadi).

وَاِنْ نَوَيْتَ بَعْدَ حَذْفِ مَا حُذِفْ * (٦١٥)

فَاْلبَا قِيَ اسْتَعْمِلْ بِمَا فِيْهِ اُلِفْ

※ Apabila km masih mentaqdirkan pada huruf yg dibuang, maka jadikanlah huruf akhir yg tersisa, berharokat tetap seperti aslinya.

وَاجْعَلْهُ اِنْ لَمْ تَنْوِمَحْذُوْفًا كَمَا *

لَوْكَانَ بِالْاٰخَرِ وَضْعًا تُمِّمَا

※ Dan apabila tidak mentaqdirkan pada huruf yg dibuang maka sebagian dijadikan sebagaimana lafadz tersebut kita anggap sebagai isim yg sempurna yg dicetak dg shigot seperti itu (yaitu dimabnikan dhommah).

فَقُلْ عَلَى الْاَوَّلِ فِيْ ثَمُوْدَيَا *

ثَمُوْوَيَا ثَمِيْ عَلَى الثَّانِيْ بِيَا

※ Lafadz ثَمُوْدٌ bila di tarkhim mengikuti lughot yg pertama diucapkan يَاثَمُو, bila mengikuti lughot yg kedua di ucapkan يَاثَمِي (dg mengganti و menjadi ي ).

وَالْتَزِمِ الْاَوَّلَ فِيْ كَمُسْلِمَةْ *

وَجَوِّزِالْوَجْهَيْنِ فِيْ كَمَسْلَمَةْ

※ Isim yg huruf akhirnya berupa ta' yg membedakan antara muannas dg mudzakar , seperti lafadz مُسْلِمَةُ, yg di tarkhim maka wajib mengikuti lughot yg pertama, sedangkan lafadz ي ta'tanish nya tidak untuk membedakan muannas & mudzakar seperti مُسْلَمَةٌ di perbolehkan 2 wajah.

وَلاِضْطِرَارٍ رَخَّمُوْادُوْنَ نِدَا * مَالِلنِّدَا يَصْلُحُ نَحْوُ اَحْمَدَا

※ Didalam keadaan dhorurot syiir para ulama mentarkhim (membuang huruf akhir) pada lafadz yg tidak menjadi munada, tetapi dg syarat lafadznya memenuhi syarat jika dijadikan munada murokham (yt lafadz yg ada ha' tasniyah, / jika tidak ada ha' tanish terdiri dari lafadz yg 4 huruf keatas, & bukan merupakan tarkib idhofi / tarkib isnadi) seperti lafadz اَحْمَد.

==============SELESAI===========

Alfiyyah Ibnu MalikCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang