-Dua puluh tiga-

59 10 0
                                        

"Aku akan buat kamu lebih dari apapun" Ujar kevin mantap lalu mencium kening vinka dengan lembut dan penuh perasaan.

Deg

Vinka merasa jantung nya segera berhenti saat ini sangking cepat nya menompa. Kevin kembali tersenyum. Bahkan lebih hangat dari sebelumnya, tetapi posisi nya masih sama yaitu hanya berjarak senjekal di wajah vinka.

Tanpa sadar, vinka mendorong tubuh kevin. Membuat sang empu terlonjak kaget lalu mundur 2 langkah.

"Ma-maaf kev....." Demi apapun vinka bersumpah bahwa ia hanya refleks mendorong kevin. Ini juga demi kesehatan jantung nya.

Kevin tersenyum penuh arti. Tapi bagi vinka, arti dari senyum itu adalah rasa yang bercampur. Antara kesal, marah, emosi dan menyesal.

Kevin mengganguk lalu pergi tanpa ucap sekata patah pun. Itu yang membuat vinka kembali menunduk sedih.

"Maaf kevin....."

. . . . . .

"AYAHHHH!!!!!!" Seseorang perempuan tengah berteriak histeris sembari berlari ke ruang kerja milik ayah nya.

Benda pipih ditangan chelsea hampir jatuh saat ia sudah sampai dan berdiri tepat di depan meja anton yang tampak sibuk dengan laptop nya.

"Kenapa chel? Kamu kok sampai pucat seperti itu?" Anton tampak khawatir dengan kondisi chelsea. Bibir nya memutih serta mengeluarkan tetesan keringat yang tampak dingin.

"Yah.... I-ini" Chelsea menyodorkan handphone nya kepada anton. Segera  anton mengambil nya dan langsung tercengang.

"Ini.... Kevin?" Tanya anton memastikan. Jawaban chelsea hanya menggaguk lemas.

"Ini tidak bisa dibiarkan!" Tegas anton lalu pergi meninggalkan chelsea di ruang kerja nya.

Anton melangkah lebar menuju ruangan bawah tanah yang kedap suara. Ia berniat melaporkan berita ini kepada gerald. Anton tidak rela jika kevin dekat-dekat dengan wanita lain kecuali putri nya, padahal kevin sudah mau dijodohkan oleh gerald dan anton.

"Halo ton? Ada apa menghubungi saya?" Tanya gerald dari seberang sana.

"Kau sudah melihat berita itu ger?" Anton berbalik tanya dengan emosi yang sudah ingin meledak.

"Tentu saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan segera menuntaskan itu semua. Bolekah kalau kita bertemu sebentar?"

"Its okay. Hubungi saja alamat nya"

"Okay, aku akan memberi pesan padamu"

Tut.

Sambungan telfon terputus. Anton segera keluar dari ruangan tersebut dan langsung menyambar kunci mobil untuk segera bertemu dengan gerald.

"Ayah? Ayah mau kemana?" Tanya chelsea yang sudah duduk di ruang tengah.

"Ayah akan membereskan semua masalah kamu chel. Kamu tunggu saja disini" Jawab anton lalu pergi menggunakan mobil sedan bewarna coklat tua.

Chelsea hanya terduduk kembali. Wajah nya kembali menahan geram.

"Siapa sih yang berani deketin kevin ku!" Kesal chelsea. "Semoga aja ayah bisa nemuin tuh perempuan. Enak aja dia main rebut-rebut kevin dari aku!" Ujar chelsea mantap dan tegas.

. . . . . .

"Berapa nek aqua nya?" Tanya kevin kepada seorang nenek - nenek yang sudah tua.

"10 ribu cu" Jawab nenek itu semanagat.

Kevin mengeluarkan dompet dan memberikan selembar uang bewarna merah kepada nenek itu.

"Loh ini kebanyakan cu, nenek gak ada kembalian nya"

"Ambil aja nek"

Nenek itu terlihat antusias lalu berkata "Terima kasih cu. Semoga kamu bisa diberikan banyak kemudahan oleh Allah"

"Amin nek"

Kevin segera pergi ke suatu tempat. Yaitu taman rumah sakit.

Cuaca di sana terlihat sangat sejuk. Baru selesai hujan deras selama satu jam akhirnya berhenti. Dadun-daun mengeluarkan tetesan air bekas hujan.

Awan nya pun mendung tapi terlihat cerah.

Kevin duduk di salah satu bangku taman yang agak sepi. Mungkin efek terlalu dingin, banyak pasien-pasien tidak diperbolehkan keluar terlebih dahulu.

Kevin jauh memerawang langit yang tampak bersedih. Sama seperti suasana hati nya sekarang.

Tiba-tiba terlintas bayangan vinka di benak nya. Kevin jadi teringat saat dia duduk berdampingan dengan vinka di bangku taman. Saat adik vinka sedang dirawat di rumah sakit.

"Kamu tau ga vin, kalo aku liat langit gini, berasa pengen terbang." Sahut vinka yang membuat kevin tertawa renyah.

"Gimana mau terbang, emang kamu punya sayap?." Kevin bertanya konyol untuk mencairkan suasana yang kembali hening.

"Punya, sayap nya ada di kamu." Balas vinka asal tapi sukses membuat kevin terhenyak untuk beberapa saat.

Kevin tertawa renyah saat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat vinka mengecap bahwa sayap nya berada di kevin.

Untuk beberapa saat senyum kevin hilang. Dia kembali teringat bagaimana keterlaluan nya sikap ia kepada vinka tadi. Tepatnya beberapa menit yang lalu.

Kevin mengacak rambut nya frustasi. "Aku benar-benar brengsek".

"Seharusnya aku tadi gak nodain wajah vinka! Kenapa? Kenapa? Kevin! Kau bodoh sekali. Sikap ku itu seharusnya sangat dicap keterlaluan. Vinka sedang sakit dan kau mencium kening nya? Prilaku apa itu?" Kevin mengumpati diri nya sendiri. Dengan suara tertawa bagaikan iblis.

"Kevin..." Suara pelan dan menyayat hati membuat kevin terhenyak untuk beberapa detik.

"Vinka?" Ucap kevin pelan dan menoleh ke arah belakang.

Terlihat vinka yang sedang duduk di kursi roda. Bersama satu orang perawat.

"Kamu ngapain disini?" Kevin beranjak dari duduk nya lalu berjongkok menyamai posisi dia dan vinka.

"Nysuslin kamu" Balas vinka tertunduk.

Kevin mengalihkan pandangannya ke arah suster yang berdiri di belakang vinka.

"Maaf tuan. Nyonya vinka tadi berontak untuk segera keluar. Makanya saya mengajak dia kesini untuk menangkan diri" Jelas perawat itu kepada kevin.

"Kamu kenapa mau keluar vinka?"

"Aku mau ketemu sama kamu. Maaf vin. Kalo tadi perlakuan aku nyakitin kamu...." Kedua mata vinka memanas. Mengingat kejadian ia mendorong tubuh kevin dengan lantang.

Kevin segera mengakat dagu vinka agar menatap mata nya dengan tepat. "Kamu ga salah! Aku yang salah vinka... Harusnya aku gak berprilaku kaya gitu. Pasti buat kamu gak nyaman kan?"

Vinka menatap manik biru kristal yang terang menerang di mata kevin. Mengisyaratkan penyesalan yang terdalam.

"Aku juga ga becus jagaian kamu" Lanjut kevin sayu.

Vinka meneteskan air mata nya. Hanya satu tetes tapi membuat seluruh perasaan nya tercurahkan.

Melihat dua bola mata kevin membuat vinka hanyut sehanyut-hanyut nya di lubang yang tidak dia ketahui.

Persaan nya ter ombang-ambing seperti kapal di tengah-tengah samudra yang luas.

Perasaan yang tidak pernah ia rasakan selain bersama kevin.

Perasaan yang melebihi kekaguman terhadap idola nya.

Dan perasaan yang menyadarkan vinka bahwa ia tidak pantas bersama kevin

. . . . . .

Kasih saran dan kritik ya kalo misal nya ada kata-kata yang kurang dimengerti ☺

Ohiya, part uwu uwu nya diganti yang gaes bukan part 22/23 menjadi part 24 / 25 / 26. Aku harap kalian bisa memaklumi nya yaa

Soalnya cerita perfect my you malah aku panjangin gaess😕 jadi part uwu uwu nya ke undur terus..

Terima kasih yang udah vote dan follow! ❤

Hanya Sebatas PenggemarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang