-Tiga puluh-

50 9 0
                                        

"Ada apa yah?" Tanya vinka seusai makan ia langsung menemui sang ayah karna memang indra sudah berpesan saat di ruang makan tadi.

Indra mengambil sebuah cangkir yang berisi kopi lalu meneguk nya sekilas.

"Kamu punya hubungan apa sama pria itu?" Tanya indra yang membuat vinka terkejut.

"P-pria yang mana y-yah..." Vinka berusaha setenang mungkin. "Apa yang dimaksud ayah itu adalah...... Kevin?" Tebak vinka dalam hati.

"Kevin."

"Uhuk!.... Uhuk!...." Vinka tersedak. Lebih tepatnya tersedak ludah sendiri.

Vinka menoleh ke hadapan indra. Dilihatnya sorot mata yang begitu tenang tanpa ada emosi. Dengan itu vinka merasa sedikit lebih tenang.

"Aku?... Aku sama kevin hanya temen kok yah" Ujar vinka jujur. Memang ia tidak ada hubungan apa-apa bukan sama kevin?

"Untuk kali ini saja vinka. JUJUR SAMA AYAH!"

Vinka terkejut melihat indra yang sudah tersulut emosi. Bahkan membentak nya. Selama ini, sang ayah tidak pernah sekalipun membentak kecuali jika vinka melakukan kesalahan yang besar.

"A... Ayah...."

"Aku... Gak ada hubungan apa-apa sama----"

"Bohong! Gak usah bohongi ayah vinka."

"Aku gak bohong yah...." Mata vinka sudah berkaca-kaca melihat ayah nya yang sama sekali tidak percaya kepadanya.

Indra menghela nafas kasar. "Semenjak kamu dekat sama kevin, kamu udah mulai pinter ngebohongin ayah ya!" Ucap indra ketus lalu beranjak pergi meninggalkan vinka yang sudah menangis pelan.

Sedari tadi, seorang wanita paruh baya melihat aksi dari anak dan suaminya dibalik pintu kamar.

Ratna. Hatinya juga terasa sakit melihat putri nya menangis sambil membekap mulut nya agar tidak didengar siapapun.

"Maafin bunda vin.... Bunda gak bisa nolongin kamu...." Ucap ratna lirih.

***

"Arghhh!!" Kevin membuang semua buku yang ada dimeja maupun dihadapnya. Kepala nya terasa benar-benar pusing.

Setelah kejadian tadi malam. Insomnia kevin kumat. Ia hanya tidur 2 jam saat malam tadi.

"Aku harus nyelesain ini semua. Bisa-bisa aku gila kalau gini terus" Ujar kevin frustrasi dan mengacak rambut nya sendiri.

Ia memutuskan untuk membersihkan diri dan mampir ke sebuah studio berita untuk menghapus kan semua berita tentang perjodohan nya dan chelsea.

Ya! Kevin harus melakukan itu untuk mempertahankan gadisnya.

Baru saja kevin ingin melangkah ke kamar mandi, sebuah ketukan terdengar nyaring di depan pintu utama apartemen nya.

Tok... Tok... Tok...

"Arghhh! Siapa lagi sih!" Kesal kevin lalu segera berlari menuju pintu utama.

Ceklek!

Kevin melebarkan mata saat melihat seorang wanita paruh baya yang menampilkan raut wajah bahagia tapi tidak menutupi mata nya yang sedikit.... Sembab.

"Mommy?" Ujar kevin tak percaya. Dari mana susi tahu tempat tinggalnya? Jika susi tahu mana gerald?.....

Kevin melihat sekeliling. Ibu nya hanya sendiri dan tidak bersama satu orang pun.

"Boleh mommy masuk?" Tanya susi yang masih tersenyum lembut.

Kevin menjauhkan tubuh nya lalu mempersilahkan susi untuk segera masuk.

"Daddy mana mom?" Tanya kevin cemas. Takutnya jika gerald tau tempat tinggal nya ia akan dijadikan boneka lagi oleh sang ayah.

"Kamu tenang saja. Daddy gak bakal tau kok" Susi menenangkan anak nya yang terlihat khawatir.

Kevin menghela nafas lega. "Bentar ya mom, kevin ambilin minum sama cemilan dulu" Susi menggaguk tanda setuju lalu kevin dengan cepat menuju dapur untuk membuatkan ibu nya sesuatu.

Seusai selesai, kevin segera mendatangi susi kembali dengan membawa nampan berisi dua air putih dingin dan beberapa biskuit serta bolu yang lezat.

"Ini mom, dimakan ya"

"Terima kasih my son.."

Keduanya berbincang-bincang hangat sesekali tertawa renyah mengingat kejadian dahulu yang mereka anggap lucu.

"Kevin?" Nada bicara susi tiba-tiba berubah menjadi serius. Kevin menoleh dan bersiap memperhatikan apa yang akan diucapkan oleh ibunya.

"Iya mommy?"

"Kemarin kamu kemana?" Tanya susi yang berhasil membuat kevin agak terkejut.

"Kemarin kevin seharian di sini aja mom. Ga kemana-mana" Dusta kevin dengan yakin. Ia tidak mau jika susi sampai tahu identitas vinka.

Susi meneliti wajah putra nya yang nampak sekali berbohong.

Susi mengeluarkan sesuatu yang berupa benda pipih miliknya.

"Ini apa?" Tanya susi agak tegas. Memperlihatkan sebuah berita baru yang berjudul

Musisi terkenal 'Kevin Alatas' dihebohkan dengan seorang wanita asing yang digendong nya di tengah jalan. Siapakah itu?

Kevin melotot kaget melihat sebuah berita yang tertampang di layar handphone milik ibu nya.

Cobaan apa lagi ini untuk kevin?

Baru saja ingin menyelesaikan satu masalah tapi masalah baru datang lagi.

Bagaimana kevin tidak stress memikirkan nya?

***

Vinka berdiam diri di kamar miliknya dengan posisi tengkurap serta bantal diatas dagu nya.

Hari ini, vinka berjualan agak siang, karna ratna sedang ke pasar untuk membeli beberapa bahan yang kurang. Alhasil, vinka harus menunggu nya seusai membuat roti.

Ia mengusap air mata yang menetes di pipi mulus nya. Mengingat kejadian  di mana ia dibentak oleh ayah nya sendiri.

Tiba-tiba sesuatu bergetar di samping nya. Vinka menoleh dan mendapati handphone nya berbunyi pelan tanda seseorang menelfon diri nya.

Sekarang bau is calling.....

Vinka mengusap kasar pipi yang basah lalu mengelap nya dengan selimut.

Ia memencet tombol hijau lalu mendekat kan handphone nya di telinga.

"Halo kar?" Ucap vinka kepada sekarang setelah tersambung.

"Halooo vinka yuhuuu, gila! Kita udah berapa lama nih gak ketemu? Gue kangen banget sama lo!!" Suara sekar yang keras dan nyaring membuat vinka menjauhkan telfon genggam nya sekilas.

"Biasa aja sih kar ngomong nya. Aku nanti budeg giamana?" Kesal vinka.

"Hahaha maaf, tadi tuh gue refleks. Kita ketemuan bisa gak nih hari ini? Gue juga punya kabar baik!"

"Aku gak bisa kalo hari ini. Nanti siang aku harus jualan. Ohiya, kabar baik apa kar?"

"Gue temenin jualan tenang aja. Kabar baik nya lo tau gak? Kevin alatas konser lagi minggu depan"

Vinka terdiam. Kevin? Mengingat nama itu membuat vinka merasakan seperti ada batu yang menghantam hati nya.

***

Hanya Sebatas PenggemarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang