Hanya penggemar biasa yang seolah takdir mempermainkan aku dan dia dengan membuat perasaan ini menjadi lebih dari sebatas pengagum belaka.
***
Kevin Alatas, seorang musisi terkenal yang akan dijodohkan oleh aktris papan atas bernama Chelsea Vanira...
Mobil sport hitam berhenti di sebuah taman yang agak sepi dan gelap. Vinka yang melihat itu pun menyeringit bingung pasalnya disana tidak ada ruangan atau gedung untuk makan malam nanti.
"Ini tempat nya?" Tanya vinka seraya menoleh ke arah hutan di sekitar taman yang agak lebat.
"Iya. Bagus kan?" Vinka melotot aneh dengan ucapan kevin.
"Bagus? Gak ada apa-apa disitu vin" Ucap vinka kesal.
"Ada kok ada. Pasti kamu heboh deh nanti" Balas kevin tersenyum jahil. Lebih tepatnya tersenyum menggoda.
Vinka hanya menggaguk patuh walaupun hati nya masih sedikit ragu.
Keduanya keluar dari mobil dengan bergandengan tangan. Kevin yang menggandeng duluan ya, bukan vinka! Sekarang tau reaksi vinka? Deg deg an, pucat, keringetan, merinding.
"Vin....disini sepi dan.... Gelap" Vinka mengedarkan pandangan ke sekeliling nya tapi hasil nya nihil. Ia hanya menemukan tumbuhan liar yang menjulang tinggi dan pasti nya sangat lebat.
"Ikut aku" Kevin menarik tangan vinka agak kasar membuat vinka melotot ketakutan.
"Vin sakit..." Vinka meringis. Tangan nya di cengkraman kuat oleh kevin seolah meingsyaratkan bahwa ia tidak boleh pergi.
Kevin tidak menghiraukan ringisan vinka. Dirinya menatap lurus jalan dengan tatapan dingin.
Ketakutan vinka berkali-kali lipat saat ia ditarik ke suatu lorong yang sempit dan gelap gulita.
"Kevin!! Kita mau kemana??" Vinka memeluk lengan besar kevin dengan cemas. Mata nya tidak menangkap cahaya apa-apa layak nya orang yang buta.
Kevin terus berjalan diikuti vinka disamping nya. "Kevin!! Kamu.... Kamu kevin kan??" Vinka ragu bahwa di samping nya kevin karna sedari tadi kevin hanya diam saja.
"Kevin jawa----" Tiba-tiba kevin behenti di sebuah jalan. Otomatis vinka juga berhenti.
Kevin melepaskan tangan mungil vinka di lengannya membuat vinka refleks memekik pelan.
"Kevin! Jangan pergi aku takut...." Ucap vinka pelan. Ia sekarang tidak menemukan siapa-siapa di samping nya.
Suatu sentuhan pelan di belakang punggung nya membuat is tegang dan takut.
"Kevin?"
"Hm?"
Deheman kevin membuat vinka menghela nafas lega. "Tutup mata kamu vin" Pinta kevin lembut. Vinka sempat bingung karna semenit tadi kevin hanya diam saja dan tampak dingin. Mengapa ia sekarang tampak seperti memperlakukan vinka bak seorang ratu?
Vinka menurut. Ia menutup mata nya pelan. "Udah" Ujar vinka singkat.
Kevin memasangkan sesuatu di kelopak mata vinka.
Vinka terkejut merasakan ada sentuhan kain lembut di kelopak mata nya.
"Ayo jalan" Kevin berdiri lagi disamping vinka.
"Kamu apain aku vin?" Pertanyaan vinka agak terasa ambigu di telinga kevin.
"Udahh, kita lihat aja" Ujar kevin membuat vinka menurut saja.
Lorong yang sempit dan gelap itu juga sangat panjang. Butuh 15 menit vinka dan kevin berjalan di sana.
"Vin, masih jauh gak? Aku capek" Vinka memegangi lutut nya yang agak kram.
"Yaudah aku gendong aja ya" Tawar kevin membuat vinka berdiri tegang.
"Enghh engga! Ga.. Ga usah! Aku bisa jalan sendiri kok" Jawab vinka cepat sebelum kevin menggendong nya. Ia tidak mau jika suatu benda di dada nya ini mulai heboh.
Kevin tertawa renyah. "Yayaaya. Masih lama, mungkin 1 jam lagi" Ucapan kevin membuat vinka melotot kaget.
"Bercanda" Baru saja vinka ingin mengeluarkan kata-kata mengeluh, kevin sudah duluan bilang kalo hanya bercanda. Syukurlah! Batin vinka.
Keduanya masih berjalan dengan semangat. Tetapi vinka sudah sempoyongan. Akhirnya 20 menit berlalu, sampai lah mereka di sebuah alam yang terbentang luas dengan indah. Siapa lagi kalau bukan kevin yang mengiasi ini semua.
Kevin berdiri di belakang vinka untuk bersiap-siap membuka serbet yang dipasangkan di mata bulat vinka.
"Kevin.... Kok berhenti?" Tanya vinka pelan karna sudah sangat lelah.
"Udah sampai" Vinka berdiri tegap. Dengan semangat 45 ia berkata
"Beneran?!" Vinka memekik histeris. Ia menyadari jika kevin di belakang nya sekarang.
Sentuhan lembut di belakang kepala nya membuat vinka merasa sedikit geli. Ditambah lagi sentuhan di telinga dan mata. Kain yang tadi melekat sempurna di kelopak mata nya bernangsur-angsur terbuka dengan perlahan.
"Taraaaa" Teriak kevin di sela-sela vinka melebarkan mata nya saat melihat pemandangan yang begitu indah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hembusan angin malam dengan kencang menerpa wajah mulus vinka yang begitu menawan saat tersenyum. Ini benar-benar di luar ekspetasi vinka. Cahaya yang berwarna jingga membuat nya maju beberapa langkah.
"Ini.......... Kamu yang buat?" Tanya vinka berbinar.
"Hm. Siapa lagi?" Kevin tertawa renyah lalu mengajak vinka untuk duduk di kursi yang empuk dan lembut.
Kevin lebih dulu mengapai kursi lalu menyuruh vinka untuk duduk manis. Vinka membalas dengan seulas senyum.
Keduanya duduk di tengah-tengah rembulan yang menyala. Cahaya yang remang-remang serta angin yang sangat lembut.
"Wahh ini makanan nya banyak banget" Ujar vinka semangat. Ia belum pernah menyicipi makanan khas luar negri tersebut.
Prok prok prok
Suara ketukan tangan membuat seseorang pria dengan baju seragam hitam-putih mendekat. Vinka amat terkejut. Kiranya bahwa disini hanya ada dia dan kevin seorang. Ternyata disini banyak pelayan maupun orang lain.
Kevin berdiri mendekat kan wajah nya ke arah pelayan itu seraya berbicara sesuatu. Pelayan itu menggaguk lalu permisi pergi.
"Kamu ngomong apa sama dia?" Tanya vinka penasaran.
"Lihat aja nanti" Balas kevin sambil memandangi wajah vinka yang tampak kesal karna tidak diberi tahu secara langsung.
"Kamu.... Cute banget" Puji kevin membuat vinka tersipu malu.