-Empat puluh dua-

34 7 0
                                        

Suasana malam terasa dingin dan mengigil. Terlebih lagi, sikap vinka yang tidak acuh membuat kevin sangat kesulitan bernafas.

Mereka sekarang sedang ada di dalam mobil untuk pulang ke rumah masing-masing. Tetapi kevin tetap harus mengantarkan vinka lebih dulu. Mana mungkin kevin bisa tega melihat vinka pulang sendiri? Apalagi ini sudah malam.

Acara konser nya sudah berlalu sejak jam pukul 19.00. Padahal kevin sudah menyuruh vinka untuk pulang diantarkan dengan sopir nya, tapi vinka tetap ngeyel. Ia takut jika terjadi apa-apa. Entah hati nya mengatakan hal tersebut.

Sedangkan vinka dari tadi hanya memikirkan dimana kehadiran sekar. Pasalnya saat sekar meninggalkan ruangan, vinka tidak bertemu lagi dengan nya. Di lain sisi vinka juga sebenarnya kesal dengan sahabat nya itu. Tapi dilain sisi juga vinka khawatir jika terjadi apa-apa dengannya.

Tring!

Suara notifikasi dari handphone mengagetkan dua insan yang sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Hp kamu" Ucap kevin dan vinka bersamaan. Membuat mereka menjadi salah tingkah.

"Ka-kamu vin" Titah Vinka mulai merasa panas dingin.

"Engga.. Kamu kok. Soalnya handphone aku udah mati tadi" Balas kevin.

Vinka menyeringit.

Sekar :
Maaf fin gue baru kasih
Kabar. Ini gue udah
Nyampe rumah, jadi lo
Gak usah panik yaa hehe

Vinka mengumpat dalam hati.

Ia memutuskan untuk tidak membalas dan hanya vinka read tentu nya.

"Sudah sampe" Ujar kevin berhenti tepat di depan perkarangan rumah vinka.

"Makasih" Ucap vinka sambil tersenyum paksa. Hati nya masih berdenyut sakit jika mengingat kejadian tadi saat diri nya merasa sangat terhina.

Saat vinka hendak keluar dari mobil, Tiba-tiba kevin menarik kembali pergelangan tangan vinka dengan pelan dan lembut.

"Maaf" Ucap kevin pelan sebelum vinka keluar. Vinka bisa membaca dari sorot mata nya yang terluka dan penuh penyesalan.

Vinka tersenyum tipis. "Gak perlu. Ini bukan salah kamu kok"

Tanpa vinka duga, kevin mencium telapak tangan vinka dengan lembut. Membuat vinka merinding seketika.

"Terima kasih. Aku akan hubungi kamu kalau udah sampai" Ujar kevin sembari tersenyum lebar. Hati nya merasa sedikit lega dengan hal itu.

Akhirnya, vinka keluar dari mobil kevin dengan senyum merekah. Hari ini berasa begitu sesak dan nano. Berhasil membuat vinka terus merubah ekspresi hati nya yang sedang berbunga sekarang ini.

Dari kejauhan, seorang pria paruh baya memperhatikan anak nya dengan heran.

Indra bingung. Kemarin bukannya vinka sudah benci terhadap kevin? Tapi mengapa sekarang pulang dengan kevin sambil tersenyum bahagia? Pikiran indra mulai berkecamuk.

Indra hanya ingin anak nya bahagia. Jikalau memang vinka bahagia, indra pun begitu. Tapi jika vinka merasa sakit hati, indra juga akan merasakan nya.

❣❣❣

"Bangun nak" Suara wanita yang lemah lembut dan rabaan tangan di dahi nya membuat vinka mau tak mau membuka mata yang amat lengket.

Vinka menyeringit. "Bun? Kenapa?" Tanya vinka yang masih lemot.

Ratna tersenyum kecil. "Bangun atuh vinka. Ini udah pagi, shalat dulu ya" Titah ratna dengan lembut.

Vinka mengangguk. Ia beranjak dari tidur nya dengan langkah gontai. Maklum, masih bangun tidur suka kadang-kadang tertidur di tengah jalan.

Setelah menunaikan kewajiban nya, vinka berniat melanjutkan tidur. Tapi dari tadi, perut nya meminta diisi sesuatu karna vinka semalam hanya makan dikit.

Dengan sangat malas, vinka menuju dapur untuk memakan sesuatu. Tujuannya adalah supaya perut ini bisa berhenti mengoceh dengan suara-suara macam kentut.

Vinka membuka tudung saji. Nihil. Tidak ada lauk pauk dan hanya menyisakan satu piring nasi dan tempe satu biji.

"Yaallah. Ini gimana aku mau makan" Tanya vinka dalam hati. Ia membuka lemari dapur, dan untungnya masih ada satu bungkus mie instan yang siap ia ingin buat.

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan pintu, membuat vinka yang tadi nya asik sedang memasak mie menjadi terhenti.

Vinka bingung. Ini masih pagi, tak mungkin jika ada orang atau tetangga yang pagi-pagi mengetuk pintu rumah seseorang dengan keras.

Karna semakin lama ketukan itu semakin keras dan tidak sabaran, akhirnya vinka pun mengalah. Ia tidak ingin membangun kan kedua orang tuanya dan adik nya yang mungkin sedang melanjutkan tidur nya.

"Sebentar" Teriak vinka dengan suara yang agak pelan.

Vinka dengan cepat menuju pintu keluar. Dan...

Ceklek!

Tidak ada siapapun. Kecuali sebuah kotak bewarna hitam tanpa ada keterangan apapun.

Vinka menyeringit.

"Siapa?" Teriak vinka di depan teras rumah nya. Tapi nihil. Hanya suara jangkrik yang membalas itu semua.

Vinka meraih kotak itu. Lalu ia guncang kan isi nya. Sambil mendekat kan pada telinga.

Agak berat. Vinka bisa mencium aroma aneh dari dalam kotak itu. Karna semakin penasaran, vinka akhirnya membuka dengan pisau yang telah ia ambil terlebih dahulu di dapur.

Srekk... Srek...

Vinka mengoyakkan bungkus nya dengan cepat. Lalu segera membuka isi inti dari kotak tersebut.

"Kyaaaaaaa!!!!!!" Refleks vinka membuang kotak itu ke lantai. Darah segar bercucuran dan bau amis menyebar ke setiap sudut ruangan teras nya.

Bangkai kucing yang telah mati dengan darah segar yang seolah baru saja di terkam. Jangan lupakan pisau yang menancap pas di ulu jantung nya.

Vinka mengerang ketakutan. Ia terduduk lemas tak mampu berbicara seolah kesadaran nya sudah hilang di jiwa nya.

Vinka menangis tanpa suara. Suatu kertas bersamaan dengan sebelah kucing mati itu terbang mendekati vinka.

Dengan tangan yang sudah bergemetar dan keringat dingin yang mulai berjatuhan, vinka membuka isi surat itu perlahan.

Nasib mu akan sama dengan binatang itu, vinka.

Gelap. Vinka kehilangan kesadaran nya setelah membaca surat itu dengan hati yang gemetar.

❣❣❣

Hanya Sebatas PenggemarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang