∆
Joy berdiri di ambang pintunya untuk kesempatan ini. Terpaan angin bertabur rintik deras masih belum cukup untuk mengalahkan keras kepalanya.
Ia memutuskan bertahan disana selama beberapa menit dan sesekali menarik jubah tidur satin warna silver nan bertengger di bahu, menjulur ke sepanjang betis hingga jatuh sempurna keatas lantai kayu.
Matanya konsisten.
Terpaku di satu objek nan tergeletak di sofa, hanya mengijinkannya mendapatkan sedikit tilikan akan kepala yang dimahkotai helaian hitam legam.
Terdiam tanpa ada sedikitpun pengerakan.
Tidak terdapat pula keterkejutan di diri Joy kala menangkap sepasang kelopak nan dipaksa menutup erat, lengkap dengan dua tangan yang menekan lubang telinga.
Barulah lonjakan tercipta begitu sofa sedikit terguncang atas kehadiran Joy disisi sang leader.
Bahkan eksistensinya pun tak menghentikan Irene untuk balik memejam di detik kerlapan putih menembus gorden samping kanannya.
"Eonni, apa yang kau lakukan? Kenapa tidak mengetuk kamarku saja?"
Suaranya campuran dari kekesalan dan kekecewaan. Masih diperjelas oleh sudut alis menurun, juga lengkung bibir rendah.
Tapi Irene sudah terlalu kalut berkat gemuruh dahsyat nan terus menerus mengekori sinar kilat nan telah cukup menjatuhkan sisi tegar sepenuhnya.
Joy tahu bahwa Irene sebenarnya juga tahu.
Paras tegas tidak mau kalah dan sikap batu mereka malah mengarahkan keduanya pada gelagat pengecut.
"Kukira kau sudah tidur. Aku tidak ingin membangungkanmu."
Ya. Aku bangun karena teringat padamu.
Paham jika rasa di hati tidak lagi sesederhana senior–junior, rekan kerja, atau bahkan keluarga.
Joy tidak ingin menjadi adik Irene.
Tidak sekalipun.
Keserakahan muncul sedikit demi sedikit saat Irene mulai memperhatikannya di era Red Flavor dan hanya berkembang intens setelahnya.
Pelukan tiba - tiba Irene diatas panggung saat konser Redroom mereka di Jepang malah menumbuhkan emosi nan niatnya Ia coba hapus.
Bisikan hari itu yang menelusup gendang telinga begitu kepala Irene ditaruh nyaman dibalik perlindungan ceruk leher, akan selalu terngiang pada saat - saat seperti ini.
Saat dimana Irene bersikeras menutup titik lemah di depannya.
"Nyatanya kita sangat penakut, bukan?"
Mendengung keras bagai jarum yang setia menghujam pikiran, serta batin.
Kesadaran akan relita bahwa Irene mungkin akan terus mempertahankan persembunyian, menjadikan Sooyoung kehilangan peluang mengambil keputusan.
"Ayo, eonni."
Lantas satu - satunya aksi yang bisa Ia realisasikan ialah mengambil salah satu tangan Irene untuk ditarik lembut. Seolah apa yang Ia pegang saat ini adalah selembar kertas nan akan koyak bila Ia pertahankan terlalu kuat.
Seribu keraguan bahkan masih dengan kejam menghadang Joy di garis pembatas ruang tengah dengan kamarnya; mengundang kakinya untuk berhenti sepersekian detik sebelum menghabiskan seluruh keberanian di satu malam.
Menentang batasan.
Irene sendiri masih belum berubah.
Tidak seperti Joy yang tingkatannya sedikit diatas Irene dalam konteks nyali, Irene tak ragu memelihara perspektifnya.
Melanggar limitasi tapi juga tak mau menetap di satu titik terang.
Buramnya kepastian balik mengurung di sebuah zona familiar seiring tubuh mungil terposisi sempurna dalam dekapan erat si semampai.
Ciuman bibir tebal Joy di puncak kepala, menghiasi malam berseling keputus–asaan.
Meski begitu, Irene aman.
Ia selalu merasa terjamin ketika Joy dengan sukarela menyalurkan kasih melalui lengan nan diletakkan dibawah leher, juga dibagian belakang badan; memberikan usapan naik–turun pelan di punggung bergetarnya.
Dan pernyataan yang lolos tanpa penyaringan dari pihak yang lebih muda, menjadi penutup sebelum Irene memilih tenggelam dalam lautan mimpi.
Tenggelam begitu dalam di halusinasi akan bayangan masa depan bahagianya dengan pemilik nama asli Park Sooyoung.
"Ya. Kita memang penakut, Eonni. Sangat."
∆
I feel like I wanna do more about this.
Tapi mungkin aku stop disini dulu. Liat seberapa penasaran dan greget kalian sama sikap mereka xixixi
KAMU SEDANG MEMBACA
JoyRene
FanfictionOneshot collection of Joy X Irene ‼️The whole writing here is based on my own imagination plus some inspiration from another story. But I never even once plagiarized anyone's work. If there are any similarities, I sincerely apologize.
