~ 💚❤ ~
Joy tidak pernah menyangka bila Ia akan bertahan sampai pertemuan ketiga dengan Irene padahal kepalanya sudah sempat memperkirakan Irene akan menangkap basah aktingnya sejak 'kelas' pertamanya.
Diatas segala kesempatan memandangi wajah serius Irene kala menjelaskan perlahan mengenai materi yang semesternya pelajari, Joy sendiri sesungguhnya cukup lelah, terus berpura - pura bodoh walau faktanya Ia sudah lumayan paham.
Tidak.
Joy sudah sepenuhnya mengerti bahkan sebelum Irene berperan menjadi tutornya.
Jujur saja, Joy sudah memiliki niat mengakhiri dustanya sejak 2 hari silam dengan mengatakan bahwa Ia telah dapat mengejar ketertinggalan lewat dua pertemuan yang Irene dan dirinya laksanakan.
Namun tanpa Joy sempat sadari, keserahakan lebih dulu mengambil alih logikanya; membuat Joy ingin mendapatkan lebih banyak momen sederhana melalui pendekatan berkedok pembelajaran.
Tapi siapa juga yang tahu apa yang dapat membuat semesta marah.
Barangkali kelakuan Joy telah jauh dari batas toleransi garis waktu hingga takdir seketika menurunkan sececah cahaya pada pikiran Irene; menjadikan perempuan itu berhenti menulis diatas kertas yang Ia siapkan lantas menoleh hanya demi melemparkan tatapan dingin pada Joy yang masih terdiam memandangi sisi wajahnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Huh?"
"Aku sedang menjelaskan caranya padamu."
"Uh... Oh, benar. Bisa kau ulangi? Aku sedikit tertinggal."
Dan disitulah titik henti terjadi.
Dengan satu kedipan mata, Irene dapat langsung menangkap kebohongan dari balik iris gelap Joy nan memanfaatkan situasinya untuk kepentingan yang lain.
Disisinya, kepanikan seketika terasa merambati tulang punggung Joy kala menyaksikan Irene merapikan seluruh barang - barang dengan amat cepat tanpa meluangkan satu detik saja untuk sekedar meliriknya.
Dari aksinya Joy tahu bahwa Ia telah mengacaukan rencananya sendiri; bahwa rahasianya telah terbuka lebar seperti buku nan siap dibaca.
Mungkin sedikit konyol.
Bertanya padahal alasan telah terpampang di depan mata.
Namun, Joy lebih memilih melangkah lebih jauh ke atas rintangan berbahaya daripada membunuh dirinya sendiri tanpa pernah mencoba.
"Kenapa? Apa kau marah karena aku tidak memperhatikan?"
Hebat.
Dua detik Joy berbicara, sudah berhasil menghentikan seluruh kegiatan Irene bahkan membuat perempuan berkacamata itu menoleh hanya untuk menatapnya tajam.
"Kau berbohong. Kau dapat menyelesaikan semua permasalahannya tanpa bantuanku."
Apa juga yang Joy harapkan ketika Ia tahu penyebab hal ini terjadi adalah karena dirinya sendiri.
Namun menurutnya untuk apa berhenti padahal Ia sudah sejauh ini. Maka Ia diam-diam berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberanian demi menatap Irene dengan ketegasan alih-alih sorot kerisauan.
KAMU SEDANG MEMBACA
JoyRene
FanfictionOneshot collection of Joy X Irene ‼️The whole writing here is based on my own imagination plus some inspiration from another story. But I never even once plagiarized anyone's work. If there are any similarities, I sincerely apologize.
