Untuk yang ini aku terinspirasi dari foto yang barusan aku temuin.
A chick and a rabbit uwuu 😭
∆
Meski kita semua selalu meyakinkan diri sendiri bahwa apapun keputusan yang kita ambil telah ditetapkan oleh semesta, tapi pasti selalu ada satu–dua titik dimana rasa sesal mendadak muncul, iya 'kan?
Bukan karena hal - hal berjalan tidak selaras dengan ekspektasi.
Terkadang bisa sesederhana sensasi hati yang hampa, namun juga dapat berkembang lebih serius bila kesialan terus ikut mengambil peran.
Dan memilih opsi menggapai cita - cita sebagai selebriti, aku sudah tahu konsekuensi sedari awal.
Tentu saja harus ada yang dikorbankan demi meraih angan nan jauh berada di atas.
Barangkali bukan sebab aku tidak ingin dia menggagalkannya atas status yang sempat kami jalani.
Mungkin karena aku tidak setega itu membiarkan dia ikut menerima kerasnya kritik dunia berkat bidangku yang memang pada dasarnya diwajibkan sesuai dengan preferensi mata serta telinga manusia diluaran sana.
Jalur keras dimana puluhan sinar flash berkedip - kedip menyilaukan mata ditemani lensa nan tak bosan menyorot satu spot sampai aku merasa sisi privasi diinvasi.
Tapi bahkan dengan riuh sorak sorai yang didominasi wanita nan disebut sebagai penggemar, aku tetap saja mendeteksi terai kesepian nan bertumbuh seiring kejayaan mencapai puncak.
Bahkan dengan kumpulan murid SMA ikut mengantri hanya demi mendapat coretan eksklusifku di satu album kecil yang mereka beli, hatiku masih dengan serakah menginginkan subjek lain.
Objek lain.
Orang lain.
Terlalu banyak keraguan akan keputusanku sendiri setelah dia meninggalkanku.
Tidak.
Akulah yang menciptakan konflik sambil diam - diam menyerahkan tugas padanya untuk mengatakan kalimat menyakitkan itu supaya nantinya ada sesuatu yang bisa kusalahkan.
Ya. Aku memang sekejam itu.
Dan mungkin kesadaran akan fakta tersebutlah yang mengundang senyum sendu terbentuk di bibirku kala seorang wanita nan tampak dari belahan bumi bagian barat, berdiri di area tengah kumpulan orang - orang hadapanku, memegang mic menggunakan dua tangan seraya bertanya,
"Eonni, kau bilang kau sendiri yang memilih itik dan kelinci sebagai hewan representatifmu. Wae? Kenapa ada dua?"
Mereka pun mungkin menyadarinya.
Bahwa ada cerita di balik putusan nan aku ambil sendiri.
Mataku juga secara spontan terarah ke dua boneka perempuan di genggaman dengan pakaian itik serta kelinci; menatapnya cukup lama seakan memohon keberuntungan sekali lagi.
"Mungkin karena aku tidak ingin si itik kesepian, atau... mungkin karena aku terlalu menyukai si kelinci sampai tanpa sadar tidak mau melepaskannya(?) entahlah, aku juga masih belum mengerti."
KAMU SEDANG MEMBACA
JoyRene
Fiksi PenggemarOneshot collection of Joy X Irene ‼️The whole writing here is based on my own imagination plus some inspiration from another story. But I never even once plagiarized anyone's work. If there are any similarities, I sincerely apologize.
