Haiii lama aku nggak nulis one shot. Berhubung di cerita sebelah aku lagi stuck, so pindah disini sebentar yes.
~ ❤💚 ~
"She is pretty."
"Sis, seriously? Dia?"
"Shut up, Kang Seulgi. Kau bahkan tidak berhasil mengajak si gadis Son berkencan."
"I'm not talking about the move. I'm talking about the person."
Beruntungnya, susunan kata membentuk kalimat yang terakhir, sukses untuk mengalihkan fokus perempuan berambut hitam legam di sebelah kanan.
Lagipula seorang gadis single eyelid yang tadinya dipanggil sebagai Kang Seulgi tersebut tidak sepenuhnya salah mengingat sahabatnya hampir saja membuang makan siang nan mereka beli, secara sia - sia dengan tidak menyentuhnya sedikitpun.
Bahkan Seulgi tahu tujuan karibnya masuk ke cafeteria sejak pertama, tak lain tak bukan hanyalah untuk memandangi dari jauh, sesosok hawa dengan rambut panjang terjalin menjadi satu kesatuan dan menghiasi wajahnya menggunakan kacamata baca sembari berkutat bersama satu ensiklopedi tebal tanpa lupa menggigit sandwichnya.
"Apa maksudnya itu?"
Lantas tatapan tersinggung yang seakan perempuan itu ludahkan di depan wajah Seulgi, telah memberikan penjabaran paling bersih akan bagaimana emosinya berputar kali ini.
Seulgi tidak berbohong, anyways.
Dia sempat mengekspektasikan Joy untuk menjatuhkan pilihan pada figur yang sedikit lebih...
Mengejutkan.
Yang ini memang sempat membuat Seulgi menganga.
Namun tentu dalam konteks negatif.
"Dude, look at her! She is a freaking nerd!"
Sedetik kemudian Joy tak bisa menahan dirinya untuk tidak memicing; agaknya marah namun tak memiliki kalimat sanggahan.
Seulgi benar.
Irene bagaikan ratu kutu buku di angkatan mereka dengan namanya yang secara mengerikan selalu menempati nomor satu dalam peringkat paralel.
Joy juga tak melewatkan bisikan - bisikan sebayanya tentang sikap Irene yang mereka bilang dengan anti–sosial dimana statement itu semakin dibuktikan lewat vista Irene yang makan sendirian jauh di depan mata.
Jika ditanyai, Joy sendiri tidak pernah mengerti mengapa Ia menginvestasikan rasa pada persona yang jauh sekali dari tipe nan selama ini Ia set di standarnya.
Mungkin sebab hari itu Ia menyaksikan Irene yang menepis tangan lelaki paling diinginkan di kampus ketika berusaha merangkulnya.
Atau mungkin juga karena Ia tidak pernah mendapati Irene mencoba membentuk sebuah koneksi dengan siapapun.
Atau bahkan mungkin karena Irene pernah menatapnya dingin sebab Ia secara tak sengaja menabrak bahunya dan justru terdiam bukannya meminta maaf.
Yang Joy bisa katakan saat ini ialah bahwa segalanya dimulai dari penasaran nan perlahan terbangun makin besar di dada.
Sesuatu tentang Irene entah bagaimana caranya, dapat menggugah ketertarikan yang Joy belum pernah rasakan sebelumnya.
Seperti misal, bayangan jika Ia bisa mengobrol singkat dengan Irene, atau memperbincangkan hobi, atau bertukar informasi sederhana, atau bahkan melihat Irene tertawa karena candaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JoyRene
Fiksi PenggemarOneshot collection of Joy X Irene ‼️The whole writing here is based on my own imagination plus some inspiration from another story. But I never even once plagiarized anyone's work. If there are any similarities, I sincerely apologize.
