Rutinitas di jam makan siang Sooyoung kini sedikit berubah. Waktunya bersama Yerim semakin berkurang seiring keinginannya untuk sekedar duduk di bangku beton dekat parkiran cafe, menunggu perawakan kecil Joohyun muncul dari balik tikungan menuju kampus dan berjalan ke arahnya, semakin besar dan terasa. Sebuah antisipasi yang telah lama tidak Sooyoung rasakan, kini perlahan mengaliri perasannya yang gersang.
Ini bukan semata-mata karena Ia menemukan dirinya sendiri bisa dengan percaya diri memuji kecantikan Joohyun dalam bisikannya. Dengan kesadaran penuh. Melainkan juga karena Joohyun sendiri tak pernah melewatkan senyum miring disusul gelengan tidak percaya ketika menyaksikan Sooyoung berada di spot yang selalu sama.
Kemudian satu bulan berlalu. Berlanjut hingga dua bulan. Dan di bulan ketiga sebuah pesan singkat terasa seperti bersinar diantara puluhan notifikasi lain di layar terkunci ponsel Joohyun.
Park Sooyoung
Aku harus mencari kado untuk Yerim. Temani aku?
Bahkan Joohyun sudah tidak bisa lebih tidak peduli lagi dengan Sooyoung yang tak memanggilnya dengan honorifik, menandakan bahwa kedekatan mereka sudah sangat berprogres dibandingkan dengan keheningan dibawah payung dan hujan salju di pertemuan pertama mereka.
Dan sesederhana balasan "Oke." dari Joohyun rasa-rasanya telah lebih dari cukup bagi Sooyoung untuk meletakkan ponsel nan digenggamnya lebih dari 15 menit terakhir sembari tersenyum lega.
Sungguh, Sooyoung berani bersumpah dia merupakan perempuan yang hati-hati. Kepintarannya bukan tak digunakan sama sekali. Maka ketika Ia menetapkan pada dirinya sendiri bahwa dia tak memiliki perasaan romantis apapun terhadap Joohyun, hal tersebut sudah melalui cukup banyak pertimbangan dan perenungan.
Yang lucu adalah... Sooyoung ragu. Lagi. Untuk kesekian kalinya. Sooyoung selalu berhasil meyakinkan dirinya sendiri bila menentukan seperti apa perasaannya dari awal akan lebih efektif bagi relasi apapun di kehidupannya. Ia butuh titel. Sebuah deskripsi. Dan Ia sungguh sudah melakukannya pula terhadap Joohyun; menetapkan bahwa mereka adalah senior-junior yang koneksinya berangsur mendalam menjadi kakak-adik sehingga Ia bisa saja bebas mengajak Joohyun pergi atau sekedar mengobrol dengannya didepan ketiga sahabat Joohyun itu.
Sooyoung tidak pernah menyangka bahwa ketika Irene membuka pintu café, membunyikan bel yang membuat Sooyoung menoleh dari mesin kasir didepannya, sebuah angin yang menerpa dan menciptakan kerut di dahi Irene tepat ketika helaian rambutnya diajak bergoyang ria, seluruh deklarasi perasaan yang ada di dalam dirinya runtuh begitu saja. Jantungnya seketika berdetak dua kali lebih cepat dari normal.
Pemandangan itu hanya terlalu indah untuk dilewatkan. Lalu segalanya mendadak menjadi lebih buram dari sebelumnya dan hanya ada Irene yang tampak seperti bergerak dalam kecepatan slow-motion di mata Sooyoung.
"Ugh... anginnya kencang tapi panas. Menyebalkan." Bibir merah muda itu berhasil mengisolasi perhatian Sooyoung sepenuhnya. Gerutu yang lolos darinya justru membuat Sooyoung seakan semakin tenggelam karena gerakan yang tidak beraturan. Hell, Sooyoung bahkan tidak dapat memproses apa yang baru saja Joohyun katakan.
"Hey," Sooyoung was doomed. Sebab ketika panggilan bernada rendah ditemani sekecap tone jahil itu menyentil kembali kesadarannya ke dunia nyata, Joohyun telah lebih dulu menatapnya dengan satu alis terangkat, sudut bibir menaik —sangat siap untuk menggoda si jangkung. "I know I'm THAT pretty, tidak perlu terpesona begitu."
"Memang cantik," kali ini Joohyun yang membeku, tidak bisa benar-benar mengembalikan jawaban ketika Ia sendiri merasakan rasa hangat menjalar ke wajahnya. Sooyoung tampak puas kala Ia secara pura-pura tak acuh membalikkan badan smebari melepaskan apron baristanya. "sayangnya urakan."
"YAH!! KURANG AJAR!"
***
Sooyoung sangat tidak suka ketidakpastian. Oh, she totally hated that. Bahkan meski dalam hatinya Ia menikmati hal tersebut didalam hubungannya dengan Joohyun, namun kini Ia paham mengapa Ia benar-benar harus kembali ke jalan yang sesuai dengan prinsipnya.
Salah satu alasan paling kuatnya ialah supaya Ia tidak perlu berdiri di sudut lorong bagian aksesoris wanita, menimbang-nimbang tentang hak apa yang dia miliki untuk menginterupsi percapakan Joohyun dengan seorang perempuan sama mungilnya yang tampak begitu menyenangkan.
Disaat-saat seperti ini, Ia paling membenci otaknya yang masih memiliki waktu untuk berpikir bahwa keduanya tampak serasi. Bodoh, batinnya.
Perempuan kaki jenjang itu bersumpah, Ia tidak pernah melarikan diri. Tidak pernah. Namun di detik Joohyun tertawa lepas usai kenalannya tersebut melontarkan sebuah candaan, disitulah Sooyoung merasa total kalah. Kakinya secara reflek diputar ke arah berlawanan dari tempat Joohyun berdiri.
Satu langkah. Baru satu langkah Sooyoung ambil untuk menjauh. Namun rasanya seperti turning point di awal dulu ketika Joohyun secara tidak langsung mendeklarasikan keinginannya untuk lebih dekat, lewat satu cup coffee ditengah hujan salju, di belakang café. Lagi-lagi Joohyun memberikan clue paling transparan di dunia.
"Sooyoung-ah!" tolehan Sooyoung hampir tidak berjeda. Tanpa delay sama sekali. Ia tidak pernah ingin Joohyun menunggu terlalu lama.
Lantas ketika leher sudah sukses diputar untuk menemukan sumber suara, Joohyun sudah berada di sana, di hadapannya, dengan mata mengkilap berbinar. Sinarnya cerah dan yakin, meskipun Sooyoung mendeteksi ada sedikit intensi usil dibalik dengusan geli si mungil itu.
"Jealous much?" mengikuti tawa kecil Joohyun yang tampak menikmati kesempatan untuk mengekspos Sooyoung, sebuah belaian telapak halus seolah dengan sengaja hendak menghentikan detak jantung Joohyun.
Sementara satu pihak berusaha untuk mengubah segalanya menjadi ringan dan sederhana dengan godaan nan sebenarnya hanyalah keinginan untuk menjadi 'lebih' namun dibalut jenaka, pihak yang lebih muda justru mulai serakah ketika itu tentang statusnya dengan Joohyun.
Ini bukan tentang 'memiliki' Joohyun. Menurut Sooyoung, perempuan itu tidak akan pernah bisa memiliki Joohyun. Wanita bermarga Bae itu akan tetap menjadi miliknya sendiri. Sooyoung hanya ingin menarik garis akan apa yang bisa dan tidak bisa dilakukannya. Tidak adanya status membuatnya sedikit kehilangan arah mengenai hak yang Ia miliki terkait hubungan apapun yang mengikatnya dengan Joohyun.
Maka gerakan menyelipkan jari-jari lentiknya diantara ruas-ruas jari Joohyun bukanlah semata-mata karena Ia ingin mengikuti alur candaan Joohyun. Hell, dia justru ingin keluar; menjadi sedikit lebih serius untuk sebentar saja.
"Can I?" mereka berada di sebuah department store, ditengah keramaian pemburu aksesoris wanita di akhir pekan, namun tetap saja segalanya buram di mata Joohyun. Hanya Sooyoung dan dirinya yang seolah berhenti dari waktu, menatap satu sama lain dengan suara sepelan bisikan yang tetap berhasil menggetarkan gendang telinga.
Joohyun pun tak membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Tatapan mata gelap Sooyoung yang hanya terpaku pada miliknya tanpa intensi untuk beralih bahkan sedetik saja, sudah cukup untuk menunjukkan konteks apa yang dimaksud dari pertanyaan Sooyoung barusan.
Lengkung bibir yang awalnya dibangun dari candaan, mulai berubah makna menjadi lebih dalam, lebih mengerti.
"Don't you see, Park Sooyoung? I'm the one who wants you to be jealous; to keep me for yourself." Dan dari situ perasaan Sooyoung yang awalnya melayang dan terombang-ambing layaknya seonggok kayu terbawa ombak laut, telah berlabuh di satu titik pasti. Kini ia berdiri tanpa keraguan.
Sebuah dengusan berasal dari kelegaan nan dibalut rapi dengan ekspresi geli menyusul tak lama. "Kau gila, Eonni."
"Gila karena kau," kali ini Sooyoung tak lagi gelisah ketika Joohyun menjulurkan lidahnya mengejek, kemudian berlari kecil melepaskan genggaman Sooyoung Bersama semburat merah menjalar dari pipi ke telinga si mungil.
Dasar prempuan menggemaskan itu...
***
KAMU SEDANG MEMBACA
JoyRene
FanfictionOneshot collection of Joy X Irene ‼️The whole writing here is based on my own imagination plus some inspiration from another story. But I never even once plagiarized anyone's work. If there are any similarities, I sincerely apologize.
