LIMA BELAS

5K 290 7
                                        

SELAMAT MEMBACA
_______

Leo dengan malas menuruni tangga, Suara tawa dari bawah membuatnya benar-benar terbangun dari tidurnya yang begitu lelap, Sebuah pencapaian luar biasa ia bisa bangun di pagi hari seperti ini di kala waktu libur. Terlebih lagi pagi ini bunda, ayah dan kedua kakaknya tak membangunkannya.

Mungkin mereka sedang sibuk, Apalagi ada pacar kak Gilang si merek mayonaise itu yang jauh-jauh dari Bandung. Walaupun Ci Ayumi sering berkunjung.....wanita itu tetap akan menjadi tamu yang sangat bunda dan ayah sambut dengan begitu sangat baik.

Leo menarik salah satu kursi di dapur, Membuat mereka semua yang sedari tadi tertawa terdiam begitu saja melihat wajah kusut Leo di pagi hari bahkan Anak itu sudah menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan tak peduli lagi dengan mereka seolah mengisyaratkan jangan ribut dahulu ada seseorang yang masih ingin tertidur.

Bunda Hanum yang melihat putranya tersenyum tipis, Menepuk pelan pundak Leo membangunkan putranya yang masih dalam keadaan Yah begitu mengantuk "Kenapa tidur disini? Lebih baik kamu pergi mandi dulu!" Perintah Bunda pada Leo.

Leo membuka matanya menoleh ke arah bunda "Perut aku sakit Bun" Kata anak itu. Ia tak berbohong saat ini. Perutnya memang sedari tadi malam begitu tak enak.

"Alasan banget sih dek, Sana mandi dulu nggak malu di lihat mereka" Tunjuk Bunda pada ci Ayumi dan mbak Anggun.

Leo mengangkat wajahnya menatap semua orang yang berada di meja makan seperkian detik ia menggeleng "Leo udah kenal mereka seabad, Nggak malu lagi" ucapnya kembali meletakkan kepalanya di meja

"Mandi atau bunda yang mandiin kamu" Ancam Bunda Hanum.

Mata Leo membelalak sempurna, segera pergi dari dapur merasa malu akan ucapan sang ibu.

-----

Setelah kurang lebih tiga puluh menit membersihkan diri Leo kembali turun kali ini dengan langkah yang semangat, Kembali menarik kursi satu-satunya yang kosong dekat dengan Kak Ginan.

Tak perlu menunggu bunda untuk menyendok kan makanan nya Leo segera mengambil makanan sendiri hal itu pun membuat bunda lagi-lagi berdecak kesal

"Kamu seharusnya nunggu Bunda dong, Biar agak sopan Le" kata Bunda membuat kegiatan Leo menyendok kan nasi terhenti begitu saja.

Semua orang terdiam berfokus pada Bunda Hanum juga Leo.

"Biarkan dia sendiri Hanum" Ayah menyudahi, Masalah sepele seperti ini seharusnya tidak usah di jadikan sebagai masalah.

"Dia harus belajar untuk sopan mas, disini ada tamu" Ucap Hanum tak menerima akan pembelaan sang suami.

Leo meletakkan sendok yang ia pegang sedikit bantingan, meninggalkan meja makan begitu saja.

"Le kamu mau kemana?" Ginan menarik bawah baju sang adik tapi leo melepaskannya

"Leo buru-buru ada latihan bareng Arlan hari ini"

"Tapi kamu harus sarapan dong"

"Aku udah kenyang" Leo segera pergi meninggalkan mereka begitu saja.

----

Setelah membayar taxi, Arlan segera berlari menuju mini market yang sudah Leo kirimkan alamatnya, Betul saja ia menemukan sahabatnya yang sedang duduk santai di depan minimarket dengan mie instan di hadapannya.

Hal itu pun membuat Arlan terkejut segera meraih mangkok mie di hadapan Leo "Lo mau mati?" Tanya Arlan tak menyantai, baru kali ini ia mendapatkan Leo seperti ini dengan makanan yang sangat di tantang Oleh tubuh anak itu dan pastinya para keluarga Leo akan marah jika mengetahui hal tersebut.

"Gue belum makan Lan" Leo berniat mengambil kembali mangkok mie yang sudah Arlan jauhkan dari dirinya.

"Ya nggak makan mie juga kali"

"Udah nggak apa-apa" Leo berhasil meraih mangkok tersebut dari tangan Arlan, Tak peduli lagi dengan ocehan sahabatnya ia segera menghabiskan makanan nikmat itu dengan cepat.

"Ngapain lo manggil gue kesini, Hari ini kan belum latihan"

"Temenin gue makan mie"

Ucapan Leo membuat mulut Arlan Seketika membulat sebuah alasan yang sama sekali tak masuk di akal.

Arlan hanya menunggu Leo untuk menghabiskan makanannya. Ingin menegurpun Arlan tahu ucapannya tak akan pernah di dengarkan oleh anak ini.

"Lo ada masalah di rumah?" Tanya Arlan.

"Nggak ada" Jawab Leo di sela makannya.

"Tante Hanum tau lo disini, dengan mie itu?"

Leo menghembuskan nafas kasar, meletakkan dengan pelan sumpit yang ia pakai mendorong mangkok mie nya tak berniat untuk menghabiskaannya mengapa semua orang tak membiarkan makanan nya hari ini masuk dengan dengan mulus saja.

Perut Leo sedari tadi tak enak, Belum lagi rasa mual yang ia rasa, Tapi semua orang bahkan tak membiarkan dirinya mengisi perutnya dengan nyaman.

"Bunda marah sama gue" Leo menjawab pertanyaan sahabatnya, Merasa bahwa Arlan memang sangat penasaran saat ini.

"Karena?"

"Gue nggak sopan"

Arlan menatap Leo, Tante Hanum tetaplah Tante Hanum yang dahulu baik sebelum leo sembuh ataupun sesudahnya.

Etika dan pelajaran adalah dua dari banyak hal yang harus anak-anak nya junjung tinggi, Sebuah peraturan yang Arlan tau leo tak menyukainya.

Arlan sangat jelas tahu sikap Tante Hanum yang itu, ia merasa bersalah dengan sahabat nya seharusnya ia tak menanyakan hal itu tadi.

"Lo mau makan yang lain? Gue yang traktir" Ajak Arlan.

"Nggak deh, Gue langsung pulang setelah ini nggak enak ada ci Ayumi dan dokter Anggun di rumah"

Arlan mengangguk "Maafin gue"

Leo mengangkat wajahnya menatap heran sekaligus terkejut "Untuk?'

"Ganggu makan Lo"

Leo tertawa "Gue kenal Lo dari kapan sih Lan?, Sebulan dua bulan? Kita udah kenal lama benget hal seperti itu nggak usah di jadiin kata maaf"

"Nggak enak aja gue"

Leo menepuk pundak Arlan terdiam sejenak memikirkan sesuatu.

"Lan" panggil Leo pelan.

Kedua alis Arlan terangkat menunggu kalimat Leo selanjutnya.

"Ayo naik sepeda"

Mulut Arlan menganga sempurna ajakan itu lagi? "Lo nggak pernah naik sepeda? ngebet banget"

"Emang nggak pernah, Lo tau kan"

Arlan terdiam.

"Yaudah, Ayo tapi jangan kelamaan"

Leo mengangguk cepat tak segan-segan memukul lengan Arlan, Setidaknya ia bersyukur akan Arlan yang menerima ajakannya.

Salah besar jika Leo benar-benar ingin naik sepeda di cuaca yang amat sangat terik ini walaupun hanya masih menunjukkan pukul sebelas tapi panas matahari sudah begitu menyengat.

Satu-satunya alasan Leo adalah ia harus berlama-lama di luar rumah, Menhindari bunda adalah satu hal yang membuat leo melakukan hal ini, Bunda Hanum benar-benar berubah, bukan bunda Hanum yang dahulunya amat perhatian.

Bahkan sedari sejak leo meninggalkan rumah tak ada satupun pesan yang masuk di ponselnya, padahal dahulu langkah Leo baru saja di depan pintu rumah mereka semua akan memberondongnya, apa yang Leo harapakan?

________

Selamat malam Minggu, semoga kalian suka dan jika ada typo atau pun salah penulisan mohon di maafkan...
Keep voment
Sampai jumpa di part selanjutnya..

-SalamManisDariPenulis

LEO ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang