TERIMAKASIH UNTUK SAKIT HATINYA.
--RINJANI FABYOLA--
"Galang!" panggilan itu membuat Galang yang hendak masuk ke ruang kelasnya menoleh. Tampak Fathur sudah berdiri di belakangnya. Terasa sekali aura permusuhan di antara mereka. Setelah kejadian 'itu' mungkin. Tapi mereka sama sekali tidak mengungkit masalah pribadi ketika berada dalam lingkungan pramuka. Karena bagaimanapun mereka harus profesional.
Galang hanya menaikkan sebelah alisnya, tatapannya sedikit sinis.
"Gue gak mau cari masalah." Fathur memberikan beberapa lembar kertas hvs itu pada juniornya. "Kasihin ke Rinjani," katanya lalu pergi begitu saja. Galang menatap lembaran kertas itu.
"Rel!" cowok yang bernama Karel itu menoleh, lalu menghampiri temannya.
"Yoi, bro."
"Tarok di kursi gue, thanks."
Karel menatap nanar tas yang berada di tangannya itu lalu mengumpat.
"DASAR TEMEN GAK ADA AKHLAK! GUE BUKAN BABU LO, WOI!"
🌿
Rinjani bernapas lega ketika dia baru saja menjelaskan semuanya pada Dara. Tentang Juna, hubungan mereka dulu, lalu Juna yang meninggalkannya secara tiba-tiba, sampai telepon misterius itu yang ternyata dari Juna, hingga perkataan ayah Juna yang membuat Rinjani begitu merasa bersalah.
"Jadi, lo lebih milih nungguin Juna dan nyuruh Galang pulang?" Rinjani mengangguk.
"Terus Galang iyain?" Rinjani mengangguk lagi.
"Wahh. Harusnya dia gak ngebiarin. Emangnya dia gak cemburu, apa?" Dara memang tidak tahu atas apa yang terjadi pada hubungan Rinjani dan Galang, tentang larangan ayah Galang.
Rinjani menghela napas lalu matanya tak sengaja melihat ke arah jendela, tepat pada kepala Galang yang berjalan menuju kelasnya. Menunggu momen yang tepat, Rinjani menatap Dara, pura-pura tidak melihat Galang yang sudah masuk dan menuju mejanya.
"Mau dia cemburu atau enggak, gue gak perduli," kata Rinjani, sengaja agak mengeraskan suaranya agar Galang bisa mendengar itu.
Dara tersentak, lalu menatap sahabatnya itu bingung. "Eh? Hah?" tanyanya linglung. Sama seperti Dara, Kemal yang duduk tepat di belakang mereka pun dibuat bingung.
"Karena gue emang gak pernah perduliin perasaan dia." Rinjani memastikan bahwa Galang benar-benar mendengar ucapannya.
"Rinja, lo gak lagi drama, kan?"
"Sama sekali enggak. Lo tau? Gue nerima dia juga karna terpaksa. Gue males aja karna dia terus gangguin gue." Setelah mengatakan itu Rinjani meremas tangannya sendiri, menahan air matanya. Sungguh, apa yang dia katakan tadi menyakiti dirinya.
Bertepatan dengan itu, Galang mendekat lalu meletakkan kertas yang tadi di dapatnya dari Fathur. Dia menatap Rinjani dengan tatapan kecewa. Jelas dia mendengar semua perkataan gadis itu.
Dara panik, apakah Galang mendengar itu tadi? Tidak! Dara saja yang mendengar merasa sakit, apalagi cowok itu. Tapi dari ucapan cowok itu selanjutnya, Dara merasa bahwa Galang memang mendengarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RINJALANG [Completed]
Teen FictionGak ada salahnya untuk mendukung penulis dari nol, jangan tunggu viewers banyak dulu baru baca. Challenge nya, baca cerita ini sampai 5 chapter dulu, sanggup? ------------- Rinjani. Bukan nama sebuah gunung, melainkan nama seseorang. Ya, Rinjani Fa...
![RINJALANG [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/237906183-64-k13874.jpg)