Chapter 41

103 23 9
                                        

BUKAN TAKUT MENINGGALKAN, TAPI TAKUT DI TINGGALKAN.
--GALANG AUFARISKI--

Elma meletakkan anak perempuan satu-satunya di kamar apartemen Galang dengan perlahan agar tidak membangunkan putri bungsunya itu. Salman dan Elma baru saja tiba dari Bandung, besok malam mereka akan mengantarkan anak sulungnya ke Bandara.

Sang Bunda sempat tidak setuju pada keputusan yang di ambil oleh Galang. Indonesia-Melbourne bukanlah jarak yang dekat, namun Galang mengatakan bahwa keputusannya sudah bulat, anak laki-laki itu tidak mau membebani keluarganya yang sedang susah saat ini. Keluarganya saja kini tinggal di kontrakan sederhana di Bandung. Lagi pula kesempatan untuk kuliah di Universitas luar negeri dengan jalur beasiswa itu tidak akan mungkin datang dua kali, jadi Galang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Elma menghela napas berat sembari memperhatikan keseluruhan kamar anaknya. Sebentar lagi apartemen ini akan kosong, tidak lagi di tempati oleh Galang.

Asik melamun, Elma jadi tidak menyadari kehadiran Galang yang sudah berdiri diambang pintu.

"Bunda?" panggilan Galang akhirnya menyadarkan Elma, wanita itu tersentak kecil.

"Kok jam segini udah pulang?" Elma melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul sebelas.

Galang masuk lalu duduk di sisi ranjang, mengelus tangan adiknya yang masih tertidur pulas. "Sengaja di pulangin cepet, Bun, soalnya nanti malem ada acara prom night tahunan," ujar Galang.

"Kamu pergi?" tanya sang Bunda.

Air muka Galang berubah sendu, "pasti pergilah, Bun. Ini malam terakhir Galang bisa kumpul bareng temen-temen Galang. Dan...." Galang menghentikan kalimatnya.

"Dan apa? Malam terakhir kamu sama Rinjani?" tebak Elma tepat sasaran.

Galang bergumam, "Galang takut, Bun."

Elma berjalan mendekat lalu ikut duduk di sisi ranjang, "takut kenapa? Bukannya keputusan kamu udah bulat?"

"Galang takut bakal kehilangan cewek yang paling berharga di hidup Galang setelah Bunda dan Titi. Galang gak akan pernah siap untuk kehilangan Rinjani," ujar Galang, terlihat jelas sorot ketakutan di matanya.

"Kamu harus yakin. Bunda yakin kalau Rinjani itu sayang banget sama kamu. Dia gak mungkin ninggalin kamu cuma karena jarak. Dia pasti ngerti alasan kamu pergi."

"Masalahnya, Rinjani punya sahabat cowok disini, dan mereka udah deket dari lama. Galang masih inget gimana khawatirnya Rinjani waktu temen cowoknya itu pingsan dan masuk rumah sakit semalem. Galang cuma takut temennya dia bakal gantiin posisi Galang."

Bunda tersenyum, paham atas kegelisahan yang di rasakan putranya. Lalu di genggamnya tangan besar Galang. "Pacar kamu gak akan ninggalin kamu. Dan masalah temen cowoknya yang kata kamu deket banget sama Rinjani itu, gak usah terlalu kamu pikirin. Itu wajar karena mereka sahabatan. Percaya sama Bunda, oke?"

Galang mengangguk lalu menatap jahil sang Bunda, membuat Elma jadi curiga.

1...2...3

"BAAAA!" tuh, kan! Galang itu memang tipe Abang yang tidak berakhlak. Adiknya tengah tertidur pulas malah di kagetkan seperti itu. Untung saja Titi tidak terbangun, hanya merengek kecil lalu tertidur kembali.

"Galang! Adik kamu capek habis perjalanan jauh. Nanti tidurnya gak puas, dia rewel, lho!" seru Elma sedikit tertahan, takut membangunkan putrinya. Sedangkan Galang, sudah kabur melarikan diri.

🌿

"Operasi, Dok?" Elly membekap mulutnya setelah mendengar penuturan sang Dokter yang mengatakan bahwa Juna harus kembali menjalani operasi pengangkatan sel-sel abnormal yang tumbuh di otak pasien agar tidak menyebar dan menyerang organ tubuh lainnya.

RINJALANG [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang