Chapter 37

104 22 0
                                        

IZINKAN AKU MEMBANTU
--RINJANI FABYOLA--

Hari terakhir ujian semester genap telah usai. Akhirnya para siswa dan siswi kelas 10 dan 11 SMA Tunas Kelapa bisa bernapas lega, tinggal menunggu pembagian raport maka mereka akan mengetahui hasilnya, memuaskan atau bahkan mengecewakan. Sementara itu murid kelas 12 juga sudah selesai mengadakan Ujian Nasional juga pengumuman kelulusan. Kabar baiknya tahun ini mereka semua lulus tanpa terkecuali. Maka dari itu pihak sekolah dan siswa/siswi kelas 12 itu sendiri tengah sibuk mempersiapkan acara prom night yang akan di adakan setelah pengambilan raport, itu artinya tinggal satu minggu lagi.

"Akhirnya ujian selesai juga, otak gue udah mau kusut!" begitulah keluhan yang keluar dari mulut Dara.

"Mana yang kusut?" tanya Kemal sembari mengecek kepala Dara, seolah memeriksa otak pacarnya yang katanya kusut. Sontak membuat sang empunya tersipu.

"Bucin teroos!"

"Halah kayak lo enggak aja. Lo lebih parah!" timpal Dara pada Rinjani yang barusan mengejeknya bucin.

"Tumben lo gak bareng Galang. Cowok lo kemana?" pertanyaan Kemal menyadarkan Rinjani. Benar. Galang kemana? Katanya dia hanya ke kantin sebentar, tapi kenapa tidak muncul sampai sekarang?

Rinjani menyandang tasnya lalu berdiri, "gue nyari Galang dulu," katanya yang langsung mendapat cebikan bibir dari Dara.

Rinjani sudah mencari Galang kemana-mana, kantin, kelas, toilet, bahkan perpustakaan, tapi dia sama sekali tidak menemukan kehadiran pacarnya. Hingga akhirnya otaknya mengingat suatu tempat. Mungkinkah Galang disana?

Ternyata benar, sosok yang di carinya berada di sini. Duduk menunduk di sofa usang yang berada di pinggir rooftop. Dengan pelan Rinjani mendekat, berusaha tidak menimbulkan suara. Lalu tiba-tiba gadis itu memeluk leher sang pacar dari belakang, membuat Galang yang sedang melamun tersentak kecil.

"Ngagetin aja kamu, By," sewot Galang kemudian menarik tangan Rinjani untuk duduk di sampingnya.

"Kamu, kok, disini? Bukannya ke kantin?"

Galang tersenyum tipis tanpa menjawab. Rinjani mengamati wajah pacarnya dengan seksama. Wajah yang tampak lelah seperti orang yang kurang tidur.

"Kamu kenapa?" Rinjani mengusap kelopak mata Galang yang redup dari biasanya, "kamu kurang tidur, ya?"

Galang hanya menggeleng lemah, tangannya menggenggam jemari Rinjani lalu menciumnya, "aku boleh pinjam bahu kamu sebentar?" ujarnya yang langsung di angguki Rinjani. Setelah mencari posisi nyaman untuk kepalanya, Galang menuntun jemari Rinjani untuk mengelus pipinya, kemudian mata yang tampak lelah itu terpejam. Galang tertidur.

Masih mengusap pipi Galang, Rinjani merasakan bahwa Galang terlelap di bahunya. Lalu, pertanyaan-pertanyaan mulai muncul di kepalanya. Sebenarnya, Galang ini kenapa?

Rinjani menyadari bahwa ada yang aneh dengan pacarnya akhir-akhir ini, seperti ada yang di simpannya sendiri. Galang yang biasanya tengil dan selalu menjahilinya, mendadak berubah menjadi pendiam, dan yang paling kentara adalah wajah lesunya. Apa ini ada hubungannya dengan kemauan ayahnya? Apa Galang se-tertekan itu harus berdekatan dengan Airin? Tapi sepertinya tidak. Galang tidak pernah memikirkan itu. Lalu apa?

Rinjani menghela napas berat, "sebenarnya kamu kenapa? Kenapa kamu gak cerita apapun ke aku?" tanyanya dengan lirih, sangat lirih.

🌿

Pengunjung coffie shop itu tengah ramai-ramainya malam ini, membuat bartender itu terlihat sangat sibuk meracik kopi untuk para pengunjung kafe. Yang menarik adalah bartender tampan itu terlihat masih sangat muda, tapi tangannya sangat lihai, seperti seorang ahli.

RINJALANG [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang