"Zel, gue mau nanya sesuatu yang semalem nggak sempet gue bilangin ke elo karena Lo udah mau tidur"
"Hm, apa?" tanya Ella lalu meneguk air mineral dari botol yang dia pegang
"Zel, bukannya gue ngeraguin elo atau gimana, tapi apa Lo nggak mau nyeritain tentang cowok kemarin?" tanya Zion hati-hati
Ella hanya menganggukkan kepalanya sambil berkata, "Oke gue ceritain"
"Jadi dia itu namanya Daniel, dia temen gue dari kelas 5 SD deh kalau nggak salah. Gue kenal dia waktu lomba, dan waktu gue pertama kali liat dia tuh gue kayak langsung suka. Kita pernah diikutin beberapa lomba bareng, tapi kita tuh minim komunikasi banget. Sampai akhirnya gue nggak pernah ngobrol sama dia karena nggak pernah ketemu, walaupun kita satu sekolah sih waktu itu"
"Gue pikir pas SMP kita nggak akan ketemu lagi karena dia pindah sekolah, tapi ternyata dia sekolah di SMP yang sama kayak gue. Nah terus kita jadi temen sekelas dan sahabat, dan entah gimana ceritanya, perasaan gue ke dia sama perasaan dia ke gue tuh terungkap perlahan-lahan. Kita saling suka, tapi bedanya… sampai waktu kita SMP, gue masih suka sama dia, tapi dia udah nggak suka sama gue. Di situ gue… apa ya, kayak agak nyesel sih nggak ngungkapin rasa suka gue dari dulu. Tapi kalau gue pikir-pikir lagi, gue sama Daniel tuh masih bocil" lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir pada pemikirannya sewaktu kecil
"Terus?" desak Zion
"Terus ya… gue sama dia balik kayak biasa aja, kayak sebelum kita jujur tentang perasaan kita. Ya walaupun kita jadinya nggak seakrab sebelumnya. Gue sedikit nyesel sih gara-gara bilang tentang perasaan gue, gue jadi ngerasa kehilangan satu-satunya sahabat cowok gue, kita jadi nggak sedeket dulu"
"Terus waktu kelulusan SMP, nah itu gue pisah sekolah sama dia, tapi waktu kelas 10 kita masih sering chat-chatan gitu. Tapi chat-chatan nya tuh makin hari makin singkat, abis itu waktu naik ke kelas 11 gue udah nggak pernah tau kabarnya dia lagi"
"Dan tiba-tiba kemarin dia ngehubungin gue"
"Udah gitu aja" kata Ella saat Zion masih diam menatapnya seolah menunggu cerita lebih lanjut
"Cuma gitu?" tanya Zion
"Iya" Ella mengangguk
"Terus perasaan Lo ke dia?" tanya Zion
"Udah biasa aja, maksudnya tuh gue nganggep dia kayak temen deket gue aja"
"Yakin nggak ada perasaan lebih yang kesisa?"
"Yakin, Zi… Kalaupun gue punya perasaan lebih entah suka, sayang, ataupun cinta, cuma Lo yang berhak dapetin itu" ucap Ella sambil tersenyum
"Kok gue baper ya?" gumam Zion yang hanya dibalas Ella dengan tawanya
"Masalahnya udah clear kan berarti?" tanya Ella
"Iya, maafin gue ya udah mikir yang enggak-enggak" ucap Zion dengan wajah bersalah
"Nggak pa-pa. Gue lagi pengen es krim, temenin beli" ajak Ella sekaligus mengalihkan pembicaraan
"Yaudah ayo" balas Zion sambil menggandeng tangan Ella lembut
*#*
"Zi, beli buat dibawa pulang juga" ucap Ella saat Zion baru saja berdiri dari duduknya hendak membayar tiga cup es krim yang telah dia dan istrinya makan
"Apa?" tanya Zion tak percaya
Dia yang menghabiskan satu cup es krim saja sekarang sudah merasa kenyang, tapi istrinya malah meminta es krim untuk dibawa pulang juga.
"Beliin lagi, buat dimakan waktu di rumah"
"Kan udah banyak banget, Zel. Nanti Lo sakit"
"Pilih gue sakit apa anak kita ileran? Masih bagus anak kita mintanya nggak aneh-aneh" balas Ella dengan menjadikan ngidam sebagai alasan
"Jangan ngadi-ngadi, itu akal-akalan Lo doang" kata Zion tak percaya
Ella berdecak kesal, "Lo mana tau rasanya?! Orang gue yang hamil! Jangan sok tau jadi orang!" ketusnya
Zion menghela napas kasar, istrinya itu semenjak hamil menjadi lebih sensitif, dan rasa-rasanya dia selalu salah sekarang.
"Lo pikir gue juga mau kayak gini? Hiks… ini juga gara-gara anak Lo" ucap Ella yang kini mulai terisak
Perempuan itu berusaha menghapus air matanya yang terus saja keluar dari kedua matanya.
"Sstt… iya-iya, gue beliin, tapi nanti jangan dimakan sekaligus ya? Gue nggak mau Lo sakit" kata Zion sambil merangkul Ella dan mengelus bahunya
"Iya, tapi hiks… beliin ya?"
"Iya. Udah jangan nangis. Tunggu bentar, gue beliin dulu, abis itu kita pulang" kata Zion sembari melepaskan rangkulannya dengan perlahan
Ella hanya mengangguk lalu menghapus sisa-sisa air matanya yang masih ada sambil menunggu Zion kembali.
*#*
"Zi… gue pengen rujak" rengek Ella
"Udah malem, Zel. Besok aja, sekarang tidur lagi" balas Zion sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Ella
"Ck! Zion!" kesalnya sambil memukuli punggung Zion dengan guling, namun laki-laki itu nampak tidak terusik sama sekali
"Ah bodo" ujar Ella lalu turun dari atas ranjang dan pergi keluar dari kamar
*#*
"Anjing" umpat El saat handphonenya tiba-tiba berbunyi di tengah malam
Laki-laki itu berdecak pelan lalu mengambil handphonenya dan menerima sambungan telepon yang entah dari siapa itu.
"Sialan nih anak" dengus El saat melihat nama yang tertera di layar adalah nama adiknya
"Apa?!" sambutnya dengan nada sewot begitu telepon tersambung
"Kok Lo sewot sih?!" balas Ella tak kalah sewot
"Ganggu aja sih Lo, mau ngapain coba nelpon malem-malem?!"
"Gue pengen rujak…" nada suara Ella berubah menjadi nada merengek
"Aneh Lo, malem-malem pengen rujak"
"Nggak aneh lah, orang gue lagi ngidam"
"Hah? Apa Lo bilang?" tanya El terkejut
"Eh, gue belum bilang ke elo ya kalau gue hamil?"
"Belum, anjir!"
"Oh, tapi sekarang udah tau kan? Kalau gitu beliin gue rujak, anter ke rumah ya? Muach… makasih, El ku sayang"
"Jijik, anjing! Kalau lo ngidam ya suruh suami Lo lah, lagian mana ada penjual rujak malem-malem kayak gini?!" kesal El
Ayolah, mana ada penjual rujak di tengah malam seperti ini? Jangankan penjual rujak, semua penjual mungkin sudah tidak berjualan di tengah malam seperti ini.
"Zion nggak mau bangun… hiks… tapi gue pengen banget makan rujak… hiks… beliin, El. Kalau nggak ada ya buatin aja buat gue… hiks… please…"
El mengusap wajahnya frustasi, mana tega dia membiarkan Ella seperti itu. Tapi tunggu, sebenarnya dia tidak kasihan pada Ella, dia hanya khawatir jika keinginannya tidak dituruti maka keponakannya nanti akan ileran. Huft… sepertinya dia memang harus bertindak, besok barulah dia akan menghajar Zion yang ikut menjadi penyebab dirinya harus menuruti ngidam adiknya di tengah malam.
"Yaudah iya, nanti kalau udah dapet gue anter ke rumah Lo. Tunggu ya, awas aja kalau gue harus nunggu lama di depan rumah Lo karena Lo belum bukain pintu"
"Yey! Makasih sayangku… you're my best brother"
El hanya berdecih sinis, memuji jika ada maunya. Dia pun mematikan sambungan telepon dan bergegas mencari penjual rujak.
*#*#*#*
KAMU SEDANG MEMBACA
My Rapunzel
Fiksi Remaja"El" panggil Zion lembut sambil memegang salah satu tangannya "El, gue minta maaf buat semuanya. Gue mau tanggung jawab atas apa yang udah gue lakuin, dan ini bukti keseriusan gue buat tanggung jawab sama Lo. Please terima gue, nikah sama gue" pinta...
