"Zi, Lo kenapa?" tanya Aldo sambil menepuk bahu Zion yang tengah terdiam mematung di depan ruangan bersalin
Dia baru saja kembali setelah membayar administrasi sesuai perintah Zion, sedangkan Brian tadi ikut pergi bersamanya namun kemudian berbelok ke arah toilet.
"Udah lahiran?" tanya Aldo
Zion hanya mengangguk pelan.
"Terus kenapa Lo berdiri di sini sama muka kusut kayak gitu?" tanya Aldo lagi
Zion menjambak rambutnya frustasi, "E-Ella"
"Kenapa sama Ella?" tanya El yang tiba-tiba sudah berada di sana
Zion dan Aldo langsung menolehkan kepalanya ke arah El yang berjalan mendekat.
"Lo di sini? Farrel?" tanya Zion
"Dia sama bang Vano lagi jemput orang tua Lo" jawab El
"Gue tanya sekali lagi, Ella kenapa?" lanjutnya
"Ella… dia…"
"Apa?! Ngomong yang jelas!" ujar El sambil mencengkeram kedua lengan Zion dengan tak sabaran
"Dia pendarahan" jawab Zion lirih sambil menunduk
"Apa?" tanya El tak percaya sambil melepaskan cengkeramannya
Laki-laki itu langsung berbalik dan hendak membuka pintu ruangan operasi, namun ditahan oleh Zion.
"El, jangan ganggu mereka, biarin mereka ngelakuin tugasnya buat nyelametin Ella" lirih Zion dengan mata berkaca-kaca, pikirannya benar-benar kalut
El menepis tangan Zion lalu mengintip dari kaca kecil yang ada di pintu ruangan operasi untuk melihat kondisi kembarannya.
Jantungnya seolah diremas saat melihat saudarinya berbaring di sana dengan keadaan yang lemah.
Bolehkah dia menyalahkan Zion untuk ini? Karena mungkin saja jika Ella tidak mengandung semuda ini maka dia tidak akan mengalami hal seperti ini setelah melahirkan anak pertamanya. Bolehkah dia melakukannya? Menyalahkan Zion?
"Ini bukan salah siapapun, ini takdir. Kita cuma bisa mendoakan yang terbaik buat Lala"
El bisa merasakan sebuah remasan di bahunya yang bertujuan untuk menguatkannya, dan dia tahu benar jika itu berasal dari kakaknya, Vano.
El berbalik lalu menatap Vano dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak bisa melihat kembarannya seperti ini, dia ikut merasakan rasa sakit karena kondisi Ella saat ini, rasanya sungguh menyakitkan.
Vano mengerti dengan perasaan adiknya, jadi dia pun memeluknya sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Papa, Adek sama Mama mana?" ucapan polos Farrel barusan langsung mengalihkan pandangan semua orang kepadanya
Zion mengusap setetes air matanya yang sempat mengalir lalu berjongkok di depan putranya, "Kita liat Adek dulu yuk! Mama masih ngobrol sama dokter di dalem sana" dustanya di akhir kalimat
"Jadi Farrel udah bisa ketemu Adek?" tanya Farrel antusias tanpa menyadari suasana di sekitarnya
"Iya. Adeknya Farrel cantik banget loh" kata Zion sambil menahan perih di hatinya
"Ayo, Pa! Farrel mau liat Adek!" ajak Farrel
Zion pun menggendong Farrel dan membawanya ke tempat putrinya yang telah dipindahkan dari ruangan bersalin.
"Zel, jangan biarin aku ngebesarin kedua anak kita sendirian. Aku butuh kamu, Zel" batin Zion
"Mama sama Papa nggak mau liat anak Zion juga?" tanya Zion pada Dena dan Jason yang sedari tadi hanya berdiri diam
KAMU SEDANG MEMBACA
My Rapunzel
Teen Fiction"El" panggil Zion lembut sambil memegang salah satu tangannya "El, gue minta maaf buat semuanya. Gue mau tanggung jawab atas apa yang udah gue lakuin, dan ini bukti keseriusan gue buat tanggung jawab sama Lo. Please terima gue, nikah sama gue" pinta...
