26. Beautiful Night

8.1K 988 505
                                        

26 | Beautiful Night
.
.
.
.
.

"Kenapa lo yang ke sini?" Desis Sarah pelan sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya.

"Lo maunya siapa yang datang?"

Suara itu terdengar penuh penekanan. Setelah beberapa detik lalu ia menyentuh pipi Sarah, sekarang malah menatapnya dengan tatapan frustrasi. Pria itu sengaja berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan posisi Sarah yang kembali meringkuk di lantai.

"Sar, jangan kaya gini lagi ya. Lo bikin semua orang khawatir." Suaranya tiba-tiba menjadi sangat soft, se-soft gerakan tangannya yang bergerak menyelipkan rambut Sarah ke belakang telinga. Kemudian ia menangkupkan kedua tangan di pipi Sarah lalu sedikit mengangkatnya perlahan agar Sarah bangun.

"Sekarang balik yu, yang lain udah pada nungguin."

Sarah mengerjap untuk beberapa saat. Kemudian keningnya berkerut saat pria di hadapannya berbalik membelakanginya dengan posisi masih berjongkok.

"Naik." Ujarnya sambil merentangkan tangan ke belakang bermaksud menyuruh Sarah untuk naik ke atas punggungnya.

Mendengar itu Sarah malah memundurkan tubuhnya lalu menggeplak punggung itu dengan pukulan keras.

"Ga mau ih."

Terdengar ringisan pelan lalu sedetik kemudian pria itu berbalik menghadap Sarah sambil menyuhgar rambutnya yang basah terkena hujan. Sarah menunggu reaksi pria ini.

Setelah memandang Sarah dengan helaan nafas berat. Pria itu mendekat dengan sebelah kaki yang ia jadikan tumpuan.

"Sar, lo marah-marah aja sampe lega. Tapi jangan gini ya. Lo enggak kasian sama yang lain? Mereka semua nyariin lo."

Sarah memalingkan wajah saat mata itu manatap penuh atensi. Jika sikapnya mendadak lembut begini, apa mungkin dia Alfi?

"Lo siapa dulu?"

"Ga penting banget nanya gitu di saat kaya gini."

Sarah memajukan bibirnya sambil mengedarkan pandangan. Kebiasaan Sarah jika sedang berpikir pasti bibirnya maju seperti ini. Fokusnya beralih mengamati punggung yang tampaknya sandarable itu.

"Gue ga mau di gendong di belakang." Ucapnya sambil menyilangkan tangan di dada seolah melindungi kedua benda sakral yang ia miliki.

Menyadari itu pria di hadapannya sontak terkekeh, "hahaha apaan sih, gue bukan orang cabul kali."

Mata Sarah terpejam dengan badan sedikit membungkuk meremas perut. Mati-matian ia menahan rasa mulas. "Gue ga mau di belakang sendirian--"

"Sar, Lo mau gue gendong, bukan gue seret di belakang."

Sarah membayangkan di tengah jalan ada seseorang mencolek punggungnya. Ditambah Sarah tidak nyaman jika pria di hadapannya ini bisa merasakan kedua aset berharga miliknya.

Sarah mengerjap merasakan bulu kuduknya merinding. Jarak antara tempat bimbel dan poskonya memang tidak terlalu jauh. Tapi dengan kondisi jalan diapit pepohonan ditambah jalanan becek karena hujan, jelas semua itu membuat Sarah merinding. Apalagi mereka hanya bermodalkan senter biasa. Tidak ada pencahayaan dari rumah warga karena perjalanan mereka tidak melewati permukiman. Ini akan menjadi perjalanan yang horor.

"Gue jalan sendiri aja, ya. Lo temenin gue dari belakang."

Dengan cueknya Sarah melewati sosok itu dengan langkah tertatih. Baru beberapa langkah Sarah meninggalkannya, ia bisa menangkap seseorang di belakangnya menghentakkan kaki sedikit berlari mendekatinya lalu tubuhnya yang tertatih mendadak terangkat.

PETRICHOR [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang