23. Thank You

7.6K 1K 735
                                        

23 |Thank You
.
.
.
.


Hawa dingin pedesaan membuat Sarah menggosok-gosok kedua tangan demi menciptakan kehangatan. Setelah subuh anak-anak KKN biasanya memilih tidur kembali atau ngopi di ruang tengah. Sedangkan Sarah memilih untuk mandi lebih awal karena pagi ini mereka ada kegiatan.

Sarah yang bosan menunggu antrean mandi iseng mengotak-atik saklar lampu. "Lo mandi kembang tujuh rupa apa? lama banget sih."

"Siapa di luar?! Ga usah maenin lampu woy!" Alfan berteriak dari dalam sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi yang terbuat dari seng. Menimbulkan kegaduhan cukup keras.

"Jangan-jangan lo boker?"

"Peduli amat lo sama boker gue."

"Bisa ga bokernya setengah dulu, entar lanjutin lagi yang setengahnya. Gue kebelet nih." Alibi Sarah.

"Bawel dih. Gue ga boker!"

Pria itu keluar dengan memakai kaos hitam ngetat dan celana pendek selutut ditambah rambutnya basah sudah keramas. Menurut Sarah, cowok yang pakai kaos polos dan celana pendek itu damagenya beda. Apalagi sekarang Alfan sengaja mengibaskan rambutnya agar Sarah terkena cipratan air. Bukannya membuat Sarah jengkel, malah membuat Sarah terdiam sesaat.

'Gantengnya ga selow njir'.

Meski suasana masih gelap, Sarah masih bisa melihat kegantengan Alfan yang hakiki di bawah pencahayaan lampu pijar. Pria itu menyisir rambut acak-acakannya menggunakan jari lalu meraih sarung di jemuran. Hal itu sukses membuat Sarah melongo. Jika setiap hari ia melihat pemandangan seperti ini, bisa-bisa Sarah jadi lemah jantung.

"Ga jadi boker lo?"Alfan menoleh sambil menggulung sarungnya agar pas di pinggang. "Ohiya ati-ati noh di sumur ada yang ngintip."

"ALFAN!"

"Hahaha mau gue temenin di dalem?" Alfan tertawa dengan ekspresi mesum. Sumpah, wajah Alfan itu lebih menyeramkan di banding nuansa kamar mandi yang remang-remang.

"Lo tuh yang lebih nyeremin di banding setan di sini." Balas Sarah dengan ekspresi cringe.

Alfan melongo.

"Sumpah ya, Sar. Mulut lo itu ga bisa di jaga apa? Ga usah sompral di tempat kaya gini. Kalo di sini beneran ada penunggunya gimana? Mampus lo."

Sarah melotot lagi, "ALFAN IH!"

Sarah jadi panik sendiri, masalahnya di belakang kamar mandi itu kebun. Berbeda dengan pemandangan di kota yang kanan kirinya menempel dengan rumah tetangga, di sini jarak dari satu rumah ke rumah lain sangat jauh. "Lo duluan yang mancing-mancing ish!"

"Kan gue udah menawarkan diri, mau gue temenin di dalem?" Lagi-lagi Alfan terbahak.

"Masih pagi ga usah pada ribut!" Itu suara Alfi yang menegur dari dalam. Ia akhirnya keluar sambil mengalungkan handuk. "Sana mandi, gue temenin dari luar. Abis antrean lo, terus gue ya."

Mendengar itu seketika mood Alfan berubah drastis. "Sekalian aja kalian mandi bareng anjeng."

Kemudian Alfan melengos meninggalkan Sarah yang kebingungan. "Kok sewot?"

"Biarin aja, lagi PMS."

💧💧💧

Lama-lama Sarah jadi muak pada ketua kelompoknya. Dika selalu punya cara untuk membuatnya jengkel. Daripada memberi tawaran, Dika selalu memerintahnya dengan paksaan yang terdengar menyebalkan. Bukan berarti sarah mageran tidak mau bekerja, hanya saja cara Dika memperlakukannya berbeda dengan perlakuannya pada anak KKN lain. Dika selalu menempatkan Sarah di posisi paling merepotkan.

PETRICHOR [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang