9 | Alfi Alfarisi
.
.
.
.
.
"Astogeh." Sarah tersentak kaget.
Tubuhnya refleks mundur selangkah, tangan kirinya mengusap-usap dada. Sedangkan kakinya berusaha menopang tubuh agar tidak terjatuh.
Lucu bukan? Sejak tragedi ia salah melabrak orang, selama itu Sarah berusaha menghindar dari Alfi. Sebisa mungkin ia tidak berada di tempat tongkrongan anak kimia. Hal itu ia lakukan agar tidak bertemu Alfi.
Tapi semesta memang suka bercanda. Sekuat tenaga ia menghindar tapi ia justru bertemu dengan pria itu di bus. Tempat dimana ia tidak bisa kabur.
"Loh. Angel?"
Hampir saja Sarah mengumpat saat Alfi sengaja menyindir namanya.
Karena bingung mau merespon apa, tangan Sarah malah sibuk mengipas-ngipas wajah. Entah kenapa udara di dalam bus terasa lebih panas dari sebelumnya.
Sebenarnya Sarah malu sekali bertemu Alfi. Saking malunya ia sendiri tidak tau bagaimana mendeskripsikan rasa malu itu. Bahkan setelah mendengar Alfi menggoda nama samarannya, rasa malu itu bertambah dua kali lipat. Padahal pria itu juga sudah tau bahwa namanya bukan Angel.
Ah lagi-lagi Sarah menyesal telah memilih nama Angel sebagai kamuflasenya.
Melihat Alfi yang masih berdiri di hadapannya dengan senyum di bibir, membuat Sarah buru-buru duduk di kursi penumpang. Ia sengaja duduk di bagian terluar kursi dengan maksud tidak memberi ruang pada siapapun saat ini. Termasuk pada pria yang saat ini terus saja memperhatikan tingkahnya.
"Boleh geser dikit?" Sarah mengangkat wajah ke arah sumber suara. Ia tertegun mendengar kalimat familier itu.
Karena kehilangan alasan untuk menolak pemintaan Alfi, akhirnya Sarah menggeser duduknya merapat pada jendela bus. Kemudian menoleh ke kiri tempat pria itu mendaratkan bokongnya.
Ini orang kenapa duduk di sebelah gue sih?
Sarah sungguh risih dengan kehadiran Alfi yang tiba-tiba berada di sampingnya. Atau lebih tepatnya ia merasa canggung berada di sebelah orang yang paling berpengaruh di kampus. Sarah juga risih dengan perasaan yang melandanya saat ini. Dadanya lagi-lagi berdebar. Namun kali ini ia tidak tau alasan apa yang membuat dadadanya berdebar. Entah karena perasaan takut atau malu yang sudah diambang batas.
Keduanya sama-sama diam. Sarah memilih memeluk novel dan memandang ke luar jendela sambil menunggu bus terisi penuh. Sedangkan Alfi memasang sebelah earphone sambil sesekali melirik Sarah. Baru ketika bus yang mereka tumpangi mulai melaju, akhirnya Alfi duluan yang memutuskan memecah keheningan di antara mereka.
"Ke Bandung juga? Atau cuma mampir di terminal terus lanjut jalan lagi?"
Sarah gelagapan mendapat pertanyaan dadakan, "hah? Gue mau ke Bandung. Lo ke Bandung juga?" Jawab Sarah kikuk.
"Sama dong ke Bandung juga. Loh ini kan bukan weekend, atau jangan-jangan lo mangkir kuliah ya? Hoo ternyata lo tipe mahasiswa yang suka titip absen doang."
"Lo sendiri ngapain ada di sini? Lo juga ga kuliah. Berarti Lo juga termasuk tukang titip absen."
Alfi terkekeh saat Sarah sengaja membalikkan ucapannya, "gue ga bolos tuh, hari ini emang ga ada jadwal. Kebetulan nih ketemu sama Angel." Alfi tiba-tiba tertawa. Menurutnya lucu juga melihat perubahan ekspresi Sarah ketika dipanggil Angel. Bahkan ketika gadis itu menunjukkan ekspresi sebal saat dipanggil Angel, hal itu tidak menyurutkan tawanya.
Sarah justru menikmati tawa Alfi yang begitu kentara di dalam bus. Suaranya yang nge-bass dan aroma parfum CK-one adalah kombinasi yang tidak boleh dilewatkan, "Berhenti nyindir gue ih. Iya iya gue bukan Angel. Nama gue Sarah."
KAMU SEDANG MEMBACA
PETRICHOR [END] ✓
Roman pour AdolescentsSeumur hidup Sarah mencium aroma asing yang menenangkan ini, ia baru tahu jika aroma tanah basah yang muncul saat hujan turun ternyata punya nama. Namanya Petrichor. Ia masih tak menyangka jika harus mendengar hal unik ini dari pria di hadapannya. S...
![PETRICHOR [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/202222442-64-k22870.jpg)