56 | The Last
.
.
.
.
Kurang lebih empat puluh orang mahasiswa berkumpul di sekitar ruang sidang yang tertutup rapat. Ada yang duduk selonjoran di lantai, di kursi, bersandar di tembok, bahkan mondar-mandir di depan pintu ruang sidang.
Mereka semua tidak banyak bicara. Semua telinga berusaha menajamkan pendengaran untuk menangkap suasana di dalam sana dengan ekspresi cemas. Seolah mereka yang menunggu di luar ruangan ikut merasakan aura mencekam di dalam ruang sidang.
Kedatangan mereka sebenarnya untuk memberikan perayaan kecil pada teman, sahabat atau pacar yang tengah melaksanakan sidang skripsi. Tapi ekspresi keempat puluh mahasiswa itu seolah ikut merasakan sidang juga.
Alfan sendiri hanya menatap kosong ke arah pintu ruang sidang. Dari tadi pria itu berdoa agar saudara kembarnya bisa melaksanakan sidang skripsi dengan lancar. Di sebelahnya ada Bobi yang ikut diam sambil memainkan ponsel.
Alfan menyayangkan sidang skripsi kali ini dilakukan secara tertutup, hingga ia tidak bisa ikut hadir di dalam ruangan untuk memberikan support lebih dekat.
"Kenapa kamu milih penelitian di tempat tersebut? Memangnya ada hal menarik di tempat tersebut sampai kamu memilih penelitian di sana? Tolong beri jawaban yang ilmiah, jangan berikan alasan pribadi." Seruan itu terdengar sampai keluar, membuat orang-orang langsung terduduk tegak.
Siapapun orang di dalam sana, ia sudah menyelesaikan dua puluh menit waktu untuk presentasi. Sekarang ia memasuki waktu diskusi dengan dosen penguji selama empat puluh menit kedepan.
Semua orang kembali menunggu dengan tegang.
Hingga beberapa saat kemudian, terdengar tepuk tangan meriah dari ruang sidang. Salah satu dosen penguji membuka pintu lantas keluar dari ruang sidang diikuti oleh dosen penguji lainnya.
Begitu para dosen penguji keluar, barulah kedua belas peserta sidang skripsi ikut berhamburan keluar. Wajah-wajah cemas serentak merangsek berebut menghampiri peserta sidang begitu ruang sidang itu terbuka. Alfan menangkap sosok Alfi keluar dari ruangan itu dengan raut cerah.
"GUE LULUS!" Teriakan Alfi pertama kali saat matanya menangkap keberadaan Alfan dan Bobi.
Seketika Bobi dan Alfan merangsek merangkul pria itu. Tau-tau Bobi sudah menggeplak bahu Alfi. "MONYONG LO, BISA-BISANYA LO NINGGALIN KITA BERDUA KEK GINI! LO MAU KEMANA SIH SAMPE NGEBET BANGET NGEJAR LULUS TIGA SETENGAH TAUN?!"
Pria itu tertawa. "Hahah makanya kalian cepet nyusul gue, betah banget di kampus, mau jadi Maba lo pada?"
"Anying Maba, mahasiswa baru katanya." Protes Bobi.
"Bukan mahasiswa baru, Bob. Tapi mahasiswa abadi maksudnya. " Alfan ikut tergelak, sama sekali tidak merasa tersinggung meski ia terlambat satu semester.
"Tapi gue enggak bakal bisa lulus cepet tanpa bantuan kalian. Jadi kesuksesan gue juga ada campur tangan dari kalian. Gue ngerasa bangga dan bersyukur banget punya orang-orang kaya kalian. Makasih banget kalian udah bantuin gue selama lima bulan ini. Mulai dari nyari referensi, nemenin gue--"
"Apa-apaan ini? Gue enggak suka lo tiba-tiba mellow gini, kek anak indie."
"Hahaha anjir, indie katanya. Dibilang anak senja lo, Fi."
"Jangan pada nyela dulu. Gue belum selesai ngomong."
Alfan yang baru saja ingin mengucapkan sesuatu akhirnya kembali merapatkan mulutnya.
"Mulai dari nemenin gue penelitian, bantuin gue ngetik, bayarin gue makan setiap gue riset, sampe bantu service laptop gue, akhirnya data gue bisa selamat. Tanpa kalian, gue engga mungkin bisa sampe di titik ini sesuai target. Thank you buat semua support kalian."
KAMU SEDANG MEMBACA
PETRICHOR [END] ✓
Novela JuvenilSeumur hidup Sarah mencium aroma asing yang menenangkan ini, ia baru tahu jika aroma tanah basah yang muncul saat hujan turun ternyata punya nama. Namanya Petrichor. Ia masih tak menyangka jika harus mendengar hal unik ini dari pria di hadapannya. S...
![PETRICHOR [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/202222442-64-k22870.jpg)