7| Alfan sialan
.
.
.
.
Jika ada pekerjaan yang paling membuatnya iri, hal itu pantas ditunjukkan pada seorang penulis. Sarah sangat iri pada para penulis yang dapat menyentuh perasaan seseorang hanya dengan kata-kata. Bagaimana bisa mereka menulis cerita yang sesuai dengan perasaan pembaca tanpa mengalaminya?
Bagi Sarah kemampuan menulis adalah hal luar biasa. Mereka bisa menciptakan tokoh dengan berbagai macam karakter. Hal itu tentu sangat sulit karena perlu riset yang mendalam. Jangankan menulis novel, menulis makalah tanpa copy paste saja membuatnya harus menguras otak.
Dulu Sarah sempat mencoba menulis lewat blog, tapi akhirnya ia menyerah karena menurutnya cerita yang ia buat begitu cheesy. Sarah bahkan geli sendiri ketika membaca hasil karyanya. Akhirnya ia memutuskan menghapus akun blog tersebut. Mungkin kompetensinya hanya mampu merangkai angka, bukan merangkai kata.
Sepagi ini, tidak ada pekerjaan lain yang harus ia kerjakan. Semua cucian sudah dicuci sejak hari Sabtu. Semua tugas juga sudah dikerjakan dari hari Minggu. Akhirnya Sarah memilih untuk menikmati hari Senin dengan membaca novel sambil membungkus tubuhnya dengan selimut.
Jika hari Senin adalah hari yang dibenci banyak orang, justru hari Senin adalah hari kemerdekaan Sarah. Ia bisa bernapas sejenak dari penatnya tugas kuliah, karena hari ini Sarah tidak memiliki jadwal kuliah. Di semester lima ini, jadwal kuliahnya dalam seminggu hanya empat hari, itupun hanya beberapa jam saja.
Buku dengan ketebalan lebih dari tiga ratus halaman itu sudah dibaca belasan kali. Tapi Sarah tak pernah bosan mengulang setiap lembarannya. Penulis dengan nama pena Fatma Bilan telah membuatnya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Sarah jatuh cinta pada setiap karyanya. Ia ingin sekali berkesempatan menemui penulis, tapi sayangnya penulis dengan nama pena itu masih dirahasiakan. Mungkin dia tidak menginginkan popularitas, Fatma Bilan hanya ingin menulis untuk berbagi. Hebat!
Hari ini Sarah sengaja mengosongkan kegiatannya termasuk meliburkan kerjanya sebagai tutor privat. Sore ini Sarah berencana untuk mencari kediaman Alfan. Ponselnya sudah terlalu lama dibiarkan, ia cemas jika ponselnya dijual oleh si onta.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar, sedetik kemudian kepala Nesa muncul dibalik pintu. "Sar, ini ada telepon dari bokap lo."
Sarah menghampiri Nesa dan mengambil ponsel Nesa, "Halo, ayah?"
"Halo kak? Ini Hasna." Ternyata yang menelpon bukan ayahnya, melainkan adiknya yang paling besar. Hasna tidak pernah menghubunginya jika tidak urgent. Ketika nama itu di sebut, Sarah sudah menduga ada yang tidak beres di rumahnya.
"Ada apa, dek? Tumben nelpon."
"Kak Sarah kemana aja? Dari kemaren di telepon kok ga aktif?"
"Handphone kakak ketinggalan di rumah temen, rencananya hari ini mau di ambil."
Tidak ada balasan di sebrang telepon.
"Kak--
--Kakak bisa pulang ga Minggu ini? Ayah sakit."
Sarah memejamkan mata mendengar kabar buruk ini. Ayahnya tidak pernah mengeluh jika sakit. Itu berarti kali ini sakit ayah semakin parah jika dirinya sampai di perintahkan untuk pulang.
Apa akan ada yang lebih buruk lagi hari ini?
💧💧💧💧
Untuk kesekian kali Sarah memastikan alamat yang diberikan cowok itu benar. Sarah khawatir jika cowok itu hanya menjahilinya dengan memberikan alamat palsu. Namun setelah bertanya pada beberapa orang yang melintas, alamat ini memang benar menuju rumah Alfan. Ternyata cowok itu cukup dikenal oleh tetangga sekitarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PETRICHOR [END] ✓
Dla nastolatkówSeumur hidup Sarah mencium aroma asing yang menenangkan ini, ia baru tahu jika aroma tanah basah yang muncul saat hujan turun ternyata punya nama. Namanya Petrichor. Ia masih tak menyangka jika harus mendengar hal unik ini dari pria di hadapannya. S...
![PETRICHOR [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/202222442-64-k22870.jpg)